Benang Merah

Benang Merah
Chapter 48


__ADS_3

Chapter 48


Setelah memastikan tidak ada nafas manusia lagi di seluruh area rumah Huang, Huang Yi Zhen duduk bersandar ke tumpukan mayat di belakangnya. Paman Ye mengatakan kepadanya agar jangan membiarkan jantungnya terstimulasi, namun ia terlalu bersemangat dengan jantung yang terus berdebar-debar.


"Hehe... Sungguh gila... Kau menghabisi seluruh rumah dalam semalam." Wanita tua melayang-layang mengelilingi para mayat untuk menghitung jumlah mereka.


"Tidak tau... ada kesenangan jauh di dalam hatiku... Kesenangan ini mirip dengan kesenangan saat aku mempermainkan tikus lalu memakannya." Ujar Huang Yi Zhen yang terus mencoba menenangkan jantungnya.


"Kau telah berubah menjadi kucing gila rupanya..." Ujar wanita tua dengan suara pelan. Lalu kembali melanjutkan saat melihat ada yang datang. "Tapi aku tidak tau apakah dia bersedia menerima kucing gila sebagai putranya"


Wanita tua menghilang lagi setelah menunjuk ke pintu depan. Huang Yi Zhen melihat siapa yang datang. Itu adalah Hu Lei. Sama seperti Huang Yi Zhen, wajahnya di lumuri oleh darah. Huang Yi Zhen tiba-tiba merasa takut, takut kalau Hu Lei takkan mau menerimanya lagi.


Ekornya mengembang di penuhi ketakutan. Dengan memeluk ekornya, Huang Yi Zhen berkata dengan nada takut. "I-Ibu tiri... Aku..."


Hu Lei berlari menuju Huang Yi Zhen. Lalu melompat ke pelukannya. "Syukurlah kau baik-baik saja! Apa kau yang mengurus mereka?"


"Aku..."


Hu Lei mengusapkan pipinya ke wajah Huang Yi Zhen. Dari perasaan yang dikirimkan Benang merah, Huang Yi Zhen tau kalau suasana hati Hu Lei sedang baik sekarang. "Aku sangat senang kau baik-baik saja. Kau berhasil bertahan melawan mereka semua. Sekarang katakan kepadaku apa yang kau inginkan. "


Saat ini yang di pikirkan oleh Huang Yi Zhen adalah ikan cantik yang berenang di kolam tempo hari. "Tunggu sebentar..."


Hu Lei melihat Huang Yi Zhen yang berlari menuju arah luar rumah. Huang Yi Zhen melihat ikan-ikan itu kini terlihat lebih besar dan segar. Ia tak lagi menahan diri seperti sebelumnya, sekarang ia melompat untuk mengambilnya!


Huang Yi Zhen melihat racunnya kembali berjalan, ia tau kalau ini mungkin adalah makan malam terakhirnya. Setidaknya ia harus berakhir dengan perut kenyang. Pikirnya.

__ADS_1


"Aku ingin Ibu tiri memasak ini!"


Hu Lei melihat dua ekor koi besar yang di pegang Huang Yi Zhen. Ia tidak bisa tidak tersenyum, kucing itu selalu terlihat konyol. Dan ia tau kucing serakah ini sedang lapar. Meski moodnya sedang senang, hatinya kini tidak senang. Hatinya selalu was-was, insting Siluman nya mengatakan, ia tidak akan melihat Huang Yi Zhen lagi.


"Baiklah tunggu sebentar ya..." Hu Lei melangkah ke dapur.


Langit hujan telah berhenti dan darah-darah di tubuh mayat itu belum mengering. Huang Yi Zhen mengambil kanvasnya. Dengan lihai ia mengayunkan tangannya untuk mengusapkan kuas di atas kanvas. Dia menggunakan darah manusia yang tergenang di bawah tumpukan mayat.


Dengan darah itu, Huang Yi Zhen melukiskan lukisan terakhirnya. Ia melukiskan gambar rubah kecil yang sedang duduk bersama kucing kecil. Mereka duduk bersama di atas sebuah bukit kecil sembari menatap bintang. Gambarnya di ambil dari sudut bagian belakang bawah.


Jika kau melihat dengan baik lukisan merah itu, di bagian gambar bukit serta langit akan terdapat kejanggalan. Bukit yang terlihat sempurna bukanlah bukit pada umumnya, melainkan bukit mayat manusia. Serta yang di lihat kedua binatang kecil itu bukanlah bintang, melainkan roh-roh yang terbang menjauh.


Aroma sup ikan buatan Hu Lei saat itu tercium di udara. Mengundang siluman kucing untuk berjalan ke ruang makan. Hu Lei tersenyum saat melihat pria yang ia sukai memasuki dapur. Huang Yi Zhen duduk di sisi berlawanan di depan Hu Lei.


"Tentu, kenapa?"


Huang Yi Zhen meneguk sup ikan di mangkuknya. "Apakah kalian benar-benar menikah? Apakah kalian sudah 'tidur' bersama? Atau semuanya hanya pura-pura?"


Melihat tatapan kosong Huang Yi Zhen yang melihat mangkuknya, Hu Lei merasa ada yang aneh. "Tentu tidak, aku melakukan semuanya dengan ilusi. Aku menanamkan ilusi kepada Ayahmu agar mempercayaiku sepenuh hatinya. Mana mungkin aku bersedia menikahi pria tua yang putranya sudah seusiaku. Dia mungkin lebih pantas ku sebut Ayah di bandingkan suami."


Hu Lei melihat bibir tersenyum Huang Yi Zhen. "Apakah Ibu tiri menginginkan sesuatu? Sekarang aku akan mengabulkan apapun"


Huang Yi Zhen mulai merasakan menit-menit terakhir dalam hidupnya telah tiba. Hu Lei menatap Huang Yi Zhen yang terasa aneh, firasat buruk terus menghantui Hu Lei. "Ada apa? Kenapa tiba tiba berkata begitu?"


Huang Yi Zhen menggelengkan kepalanya. Kali ini tatapannya sangat tulus. "Katakan saja apa yang Ibu tiri inginkan atau apa yang Ibu tiri ingin aku lakukan."

__ADS_1


Huang Yi Zhen berdiri lalu membawa Hu Lei ke halaman samping. Di sana sebuah lukisan merah yang indah di persembahkan untuk Hu Lei. Hu Lei memiliki mata yang tajam, ia dapat melihat dengan segera kejanggalan yang di buat Huang Yi Zhen.


"Ini adalah hadiahku untuk Ibu tiri"


Huang Yi Zhen mulai merasakan jantungnya yang terasa seakan di tusuk oleh ribuan benda tajam. Melihat keanehan Huang Yi Zhen, Hu Lei segera mendekati Huang Yi Zhen. "Yi Zhen! Katakan sesuatu!"


"Ibu tiri... Tidak... Hu Lei... Xiao Lei... Ku harap di kehidupan selanjutnya... kau bukanlah Ibu tiriku..." Huang Yi Zhen kesulitan berbicara karna nafasnya yang mulai hilang timbul.


Air mata bening menetes di pipi Hu Lei. Ia memeluk Huang Yi Zhen. Hu Lei tau kalau akhir hayat Huang Yi Zhen sudah tiba. Namun ia tidak mau mengakuinya. Baginya, mereka baru saja bertemu, seharusnya mereka sedang dalam masa bahagia sekarang. Seharusnya Huang Yi Zhen sudah menjadi miliknya!


" Kamu tidak boleh menangis..."


Huang Yi Zhen mengunakan energi terakhirnya untuk memeluk wanita bernama Hu Lei itu. Meski sedih karna harus berpisah lagi, Huang Yi Zhen sangat yakin mereka akan kembali bertemu di lain kehidupan. Hu Lei merasa pelukan Huang Yi Zhen melemah.


"Yi Zhen! Yi Zhen! Hei kucing jelek?! Jangan tinggalkan aku!"


Huang Yi Zhen yang telah menjadi roh melihat Hu Lei. Hu Lei tampak menangis histeris sambil memeluk mayatnya yang mulai dingin. Huang Yi Zhen memeluk Hu Lei lalu membisikkan kata. "Aku akan mencarimu di kehidupan selanjutnya"


Huang Yi Zhen tidak tau apakah kalimat itu tersampaikan atau tidak. Sebelum di goda oleh Wanita tua, Huang Yi Zhen melepas pelukannya. Ia melirik untuk yang terakhir kalinya ke kanvas lukisan merah. Lukisan itu di buat dengan darah Bai Li Zhi dan darah para pelayan lain, yang bersatu di malam kematian mereka. Secara alami roh mereka belum pergi jauh. Namun saat Huang Yi Zhen menyelesaikan lukisan dari darah itu, roh-roh pemilik darah itu tersedot ke dalamnya. Dan tersegel dalam lukisan yang terbuat oleh darah mereka sendiri.


Wanita tua muncul dengan Portal hitam menjijikannya. Huang Yi Zhen menatap wanita tua dengan tatapan tidak suka. "Tidak bisakah kau membuat portalnya lebih enak di pandang? Ini terlalu menjijikan."


Wanita tua mengangkat bahu. "Hanya itu yang ku mampu."


Huang Yi Zhen hanya mendengus kesal sembari memasuki dunia ke lima. Dalam hatinya ia sangat menanti-nantikan apa yang akan menunggunya di dunia ke lima. Serta diam-diam ia memikirkan, apakah wanita tua itu benar-benar akan melepaskannya?

__ADS_1


__ADS_2