
Chapter 61
Huang Yi Zhen mengangkat lagi anak kucing mungil yang berusia tiga bulan itu. Bulu yang halus dan lebat. Lalu mata cerah yang mungil. Serta lidah merah muda yang asyik menjilati tangan Huang Yi Zhen.
"Sangat lucu... " Gumam Huang Yi Zhen.
Huang Yi Zhen berubah ke bentuk Silumannya, setelah meletakkan Putranya. Huang Yi Zhen memutar kepalanya untuk melihat seperti apa perbedaan tubuhnya dengan tubuh aslinya. Tubuh Serigalanya begitu besar puluhan kali lipat di banding bentuk kucing, namun sama-sama berbulu dan berwarna hitam.
Huang Yi Bao, Putra Huang Yi Zhen melompat turun dari kursi di rumah. Lalu mendekati binatang besar yang ia yakini Ayahnya. Huang Yi Zhen menjilati bulu kucing yang lebih kecil. Sudah sebulan ia tinggal di dunia ke tujuh, dan ia belum keluar sama sekali. Setiap kali kakinya melangkah keluar apartemennya, hatinya akan di beratkan oleh rasa rindu dan takut. Huang Yi Zhen takut Putra kecilnya dalam bahaya. Di sekitar apartemennya ada aura bahaya yang mengirim sinyal pertanda buruk. Ini membuat Huang Yi Zhen enggan untuk keluar.
"Miii..."
("Ayah mari keluar rumah, aku bosan...")
Huang Yi Zhen menatap jendela, lalu menatap Putranya berulang kali. Lalu Huang Yi Zhen merubah dirinya ke bentuk manusia. Huang Yi Zhen mengganti pakaiannya menjadi kemeja yang memiliki saku di dadanya. Lalu Huang Yi Bao di masukkan ke dalam sakunya.
"Kita akan keluar, berpeganganlah agar tidak jatuh."
Huang Yi Zhen tidak tau harus pergi berjalan kemana. Ia hanya mengikuti langkah kakinya. Huang Yi Bao mengetahui kematian Ibunya, apalagi melihat wajah sedih Ayahnya. Meski ia belum terlalu mengenal emosi, ia tau kalau sedih adalah hal buruk.
Hidung kecilnya bergerak saat mencium aroma lezat. Huang Yi Zhen juga mencium aroma itu. Dua pria berbeda usia itu berpikir hal yang sama. "Ikan!"
Huang Yi Zhen berdehem singkat. "Ekhem... Baiklah mari kita berjalan mengikuti aroma lezat itu."
Huang Yi Zhen melangkahkan kakinya melewati gang sempit. Semakin ia berjalan semakin gelap tempat itu. Indra pendengaran Huang Yi Zhen menangkap suara arus air. Gang yang dilewatinya membawanya ke sebuah jalan raya yang berada di sekitar perairan. Dan aroma itu berasal dari salah satu rumah makan yang berada tak jauh dari gang tersebut.
"Yi Bao, apakah kamu lapar?" Huang Yi Zhen bertanya saat menggendong bayi kucing itu di tangannya.
Kucing mungil itu mengangguk-angguk, taring susunya telah tumbuh dan ia sangat ingin menggigit sesuatu. Meski masakan Ayahnya enak, tapi tak seenak masakan Ibunya. Dan aroma makanan ini lebih enak dari aroma makanan manapun!
__ADS_1
"Kalau begitu mari kita makan!" Huang Yi Zhen mengenal Aroma makanan ini. Sebenarnya aroma itu serupa dengan sup ikan buatan Hu Lei. Jika itu benar, seharusnya itu hal baik.
Huang Yi Zhen melangkah memasuki kedai makan kecil itu. Huang Yi Zhen bingung, aroma yang begitu lezat, namun begitu sepi pengunjung. Baru saja Huang Yi Zhen melangkah masuk. Seseorang datang begitu cepat kedepannya. Dari benang merah yang terikat di jarinya, Huang Yi Zhen mengenalnya.
Hu Lei menatap Huang Yi Zhen dengan mata bersinar, Huang Yi Zhen tidak terbiasa dengan sepasang mata polos seperti Hu Lei sekarang. Sejujurnya itu tidak terlihat seperti Hu Lei. Huang Yi Bao mencium aroma siluman lain. Ia mengangkat kepalanya keluar saku. Huang Yi Bao melihat wanita di depannya. Yang di pikir olehnya hanya satu hal. 'Ibu baru!'
Huang Yi Zhen ingin mengakhiri kecanggungan ini. Ia mengangkat tangannya untuk mengatakan sesuatu. Namun perut nya berbunyi.
"Miii...."
("Ayah memalukan...")
Seolah tersadar, Hu Lei tersentak. "Kalian berdua pasti lapar, aku akan memasak sesuatu untuk kalian. Sementara itu buatlah diri kalian nyaman." Hu Lei berkata dengan senyuman manis.
Huang Yi Zhen mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang menghadap langsung ke jendela. Dari pada di sebut sepi, tempat ini lebih pas di sebut sunyi. Tanpa ada pengunjung selain mereka berdua. Huang Yi Zhen paling suka sup ikan buatan Hu Lei. Apakah itu aroma atau rasanya, baginya itu tak ada duanya. Huang Yi Zhen sangat bersemangat hingga ekor dan telinga Serigalanya muncul dan bergoyang-goyang. Sambil menunggu Huang Yi Zhen mengetukkan cakarnya ke meja.
'Apakah Ayah menyukai Tante itu?'
Hu Lei datang dengan dua mangkuk berbeda ukuran. Huang Yi Bao melihat sepasang mata Ayahnya yang menatap mangkuk. Kucing kecil menghela nafas, mungkin ia salah paham. Sepertinya Ayahnya lebih tertarik kepada mangkuk sup dari pada Tante itu.
"Silahkan di nikmati..." Hu Lei berkata dengan ramah.
Huang Yi Zhen tidak terbiasa dengan kepribadian ini. Tapi untuk sekarang ia tak peduli, ada semangkuk besar sup ikan yang harus di bereskan!
Hu Lei tidak pergi setelah mengantar makanan. Ia menatap Huang Yi Zhen dengan tatapan pemujaan. Tepat setelah Huang Yi Zhen menyelesaikan makannya. Hu Lei mengambil tangan Huang Yi Zhen.
"Tuan, bisakah aku meminta bantuanmu?"
Suasana hati Huang Yi Zhen sangat baik saat ini. Ekornya masih muncul dan itu terus bergoyang seperti Anjing yang bahagia. "Ya, katakan saja."
__ADS_1
Huang Yi Bao diam-diam meminum kuah sup sambil memperhatikan orang dewasa di depannya. "Maukah Anda mengantarku? Aku sangat takut untuk pergi keluar. Tapi aku harus pergi pulang ke kampung halamanku. Ayah sakit, dan aku tidak berani pergi sendirian. Dengan Serigala di sisiku, tak akan ada predator lain yang akan mengincar ku. "
Huang Yi Zhen menatap Huang Yi Bao untuk persetujuan. Hu Lei menatap Huang Yi Zhen lagi, ia mengeluarkan sepasang telinga dan ekor rubahnya lalu berkata. "Ayolah Tuan... Tidakkah kau kasihan denganku..." Hu Lei menurunkan telinganya, bertindak seperti dia adalah binatang kecil yang malang.
"Rubah kecil sepertiku melakukan perjalanan sendirian, aku takut akan ada orang berpikiran buruk atau melakukan hal buruk kepadaku."
Meski tau kalau itu hanyalah tipu muslihat rubah kecil, Huang Yi Zhen masih tidak tega. Bagaimanapun cintanya kepada Hu Lei telah memasuki tahap Cinta Buta. Huang Yi Bao melihat Huang Yi Zhen yang mengangguk. "Tapi aku ingin ikut!"
Huang Yi Zhen terkejut mendengar suara Huang Yi Bao. Beberapa menit lalu yang terdengar dari Putranya hanyalah rengekan bayi kucing seperti biasa. Huang Yi Bao melambai-lambaikan cakar depannya. "Tidak perlu di pikirkan, Huang Yi Bao adalah kucing yang pintar!"
Huang Yi Zhen hanya memberikan senyuman. "Baiklah Nona, kalau begitu perkenalkan aku Huang Yi Zhen. Dan anak nakal itu adalah Putraku."
"Tapi... Tuan Huang adalah Serigala?"
"Aku bukan serigala murni, Ibuku kucing. Dan istriku juga kucing, wajar jika Putraku seekor kucing."
Entah mengapa mendengar kata Istri, Hu Lei merasa sangat marah. "Istri?!"
"Ya, Istriku adalah Siluman kucing."
"Kalau memiliki Istri mengapa makan di luar? Apakah Tuan Huang sedang bertengkar dengan istrimu?" Hu Lei menggali informasi mengenai 'Istri' ini.
Huang Yi Zhen paham perasaan Hu Lei, bagaimanapun juga mereka adalah belahan jiwa yang terikat Benang merah. Secara tak sadar mereka adalah pasangan sebenarnya. Melihat yang lain memiliki pasangan, pastilah tidak nyaman. "Istriku meninggal beberapa bulan yang lalu. Meski aku selalu menemaninya bermain, Putraku merasa bosan jika terus berada di rumah. Aku membawanya keluar, namun kami mencium aroma masakanmu."
"Ya! Masakan Tante Rubah begitu lezat!" Huang Yi Bao juga berteriak penuh semangat.
Hu Lei tersenyum bahagia. Antara ia senang Huang Yi Zhen telah menduda atau ia senang masakannya di puji enak. "Baiklah kalau begitu Tuan Huang, aku Hu Lei. Karna Tuan setuju dengan permintaanku, aku harap Tuan Huang bisa datang bersama Xiao Bao kemari besok. Kita akan berangkat besok. "
"Ya! Jalan-jalan!" Huang Yi Bao juga berteriak senang, sama senangnya dengan Hu Lei.
__ADS_1