
Chapter 62
Tempat tinggal keluarga Hu, berada di desa yang sangat jauh. Huang Yi Zhen harus menyiapkan banyak hal, karna ia juga berencana untuk menetap di desa. Tak jauh dari desa tersebut ada desa Kucing. Jika bisa, ia ingin kesana untuk mengabarkan berita kematian Chu Xia Li, Ibu Huang Yi Bao, kepada keluarganya.
Huang Yi Zhen memastikan semua yang ia butuhkan untuk mengurus Huang Yi Bao sudah lengkap sekali lagi. Lalu memasukkan Huang Yi Bao ke sakunya. Karna tubuhnya masih seukuran telapak tangan anak-anak, Huang Yi Zhen tidak ingin membiarkan anaknya berjalan. Ia takut Huang Yi Bao akan hilang atau terpijak. Huang Yi Bao juga menyukai duduk di saku Ayahnya. Karna Ayahnya sangat tinggi, ia bisa melihat banyak hal hanya dengan duduk di saku kemeja Ayahnya.
Huang Yi Zhen sampai di kedai makan Hu Lei. Saat itu Hu Lei sudah menunggu di depan kedai makan itu. Ia tersenyum saat melihat dua pria yang di tunggunya telah datang. "Sebelum pergi, mari kita makan dulu."
Baik Huang Yi Zhen atau Huang Yi Bao, keduanya sangat menyukai makanan yang di buat Hu Lei. Dengan segera mereka setuju untuk makan. Setelah menghabiskan waktu beberapa menit untuk makan, Huang Yi Zhen dan yang lainnya melanjutkan perjalanannya.
Mereka menaiki kereta api. Karna setiap siluman berasal dari jenis yang berbeda, maka gerbong mereka akan di bedakan pula. Karnivora, Herbivora, serta Omnivora, semuanya di bedakan. Berdasarkan ukuran juga di bedakan. Menjadi sangat kecil, kecil, besar, dan sangat besar.
Rubah di kategorikan sebagai karnivora berukuran kecil. Sedangkan serigala di masukkan ke dalam kategori Karnivora berukuran besar. Huang Yi Bao juga di masukkan ke kelompok yang sama dengan Hu Lei. Huang Yi Zhen masih kenyang, sehingga dengan sedikit paparan sinar matahari ia mulai mengantuk. Huang Yi Bao adalah anak yang pintar, ia tak perlu khawatir dengannya. Huang Yi Bao juga menguasai element Api sama seperti Huang Yi Zhen. Bahkan jika ada perampok yang datang, mereka masih mampu melawan.
__ADS_1
Huang Yi Zhen merubah dirinya ke bentuk serigala untuk tidur yang lebih baik. Orang-orang sekitar menatapnya dengan mata aneh. Masing-masing dari mereka memikirkan hal Yang sama. 'Pria itu aneh, bau tubuhnya seperti Kucing, namun tubuh Silumannya adalah Serigala?! Begitu aneh.'
Pemilik tubuh asli telah terbiasa di pandang seperti itu, maka Huang Yi Zhen juga tertular. Perjalanan berawal dengan lancar, namun saat kereta mulai memasuki lorong yang di bangun di sisi bukit, keanehan mulai terjadi. Kereta yang tadinya melaju mengikuti arah rel, kini tiba-tiba saja berhenti mendadak.
Lorong gelap itu adalah salah satu dari tujuh lorong terpanjang di dunia siluman. Meski gelap, Huang Yi Zhen yang merupakan Serigala mampu melihat dalam gelap. Namun belum tentu yang lain juga sepertinya. Huang Yi Zhen menghawatirkan Putranya. Ada bau samar di udara.
Beberapa Pria memasuki kereta. Para pria itu menyebar bubuk ajaib yang mampu memblokir kekuatan sihir yang dimiliki para siluman. Sehingga para siluman itu tidak memiliki kemampuan untuk melawan. Mereka juga membawa sesuatu yang mampu membuat para siluman melemah kondisi fisiknya. Huang Yi Zhen juga terkena efek sampingnya.
Huang Yi Zhen yang masih berada dalam bentuk Serigala, turun dari tempat duduknya. Ia berjalan mengikuti aroma Putranya. Meski melemah, ia tidak selemah itu hingga tak mampu berjalan. Saat sampai di kabin Karnivora kecil, Huang Yi Zhen melihat ada begitu banyak wanita yang di bawa oleh orang-orang misterius. Terutama dari kalangan mamalia berbulu yang cantik. Seperti Kucing, Rubah, Kelinci dan yang lainnya. Hu Lei juga termasuk.
Huang Yi Zhen mengikuti bau Hu Lei dan Huang Yi Bao. Sesaat sebelum kepanikan terjadi di kereta, kereta kembali berfungsi. Namun Huang Yi Zhen melompati jendela seperti para orang-orang misterius yang mencolok di antara begitu banyak orang sebelumnya.
Huang Yi Zhen melihat kereta yang pergi. Serigala besar itu juga kembali mengendus aroma di sekitar. Dengan berlari, waktu di persingkat. Huang Yi Zhen dapat melihat dari kejauhan, para orang misterius itu membawa para Siluman yang mereka culik ke sebuah gubuk yang tak jauh dari lorong kereta. Gubuk kayu itu terletak di lahan terbuka.
__ADS_1
Dengan Menutup matanya, Huang Yi Zhen menguraikan aliran udara untuk memeriksa berapa orang yang ada di gubuk itu. Para siluman yang di culik itu ada sekitar Hampir dua puluh. Sementara para penculik ada hampir lima belas orang. Setengahnya baru saja pergi menaiki mobil, meninggalkan sisanya untuk menjaga gubuk. Para korban rata-rata adalah Siluman-siluman yang memiliki rupa cantik atau tipe yang imut dan manis.
Huang Yi Zhen beristirahat sebentar sebelum melakukan aksinya. Bulu tubuh Serigala itu mengembang saat di hembus oleh angin. Dengan langkah yang pasti, Huang Yi Zhen melesat untuk menyerang. Dengan mengangkat cakarnya, dua penjaga depan jatuh dengan bagian dada berlubang.
Dua tumbang, yang tersisa enam. Huang Yi Zhen masih harus berusaha. Bilah angin yang begitu tajam dan tipis muncul menyerang Huang Yi Zhen. Serigala besar itu dapat menghindari serangannya dengan mudah membuat para penculik itu kesal. Huang Yi Zhen masih belum mampu mengeluarkan element api miliknya. Ia hanya bisa mengandalkan cakar dan kecepatan gerak tubuhnya.
Huang Yi Zhen merubah dirinya ke bentuk separuh manusia. Dengan melesat beberapa kali ia berhasil menangkap dua penculik lagi dalam cengkraman cakarnya. Dengan menguatkan cengkraman tangannya, cakarnya menembus kulit leher para penculik.
Tersisa empat lagi, Huang Yi Zhen melompat di udara. Saat turun kakinya dengan tepat mengenai kepala seorang penculik. Dengan mempercepat gerakannya, Huang Yi Zhen mampu membenturkan kepala penculik itu ke tanah. Lalu mengeluarkan cakar untuk menghancurkan tengkorak pria yang terbaring di bawah kakinya.
Pria itu memegang sebuah pedang tipis, Huang Yi Zhen mengambilnya. Dengan memejamkan matanya dan menghela nafas panjang. Saat membuka matanya lagi, ia mulai mengayunkan pedang tipis itu ke arah tiga orang di depannya. Saat Huang Yi Zhen merasakan bahwa ia kembali mampu mengeluarkan element api miliknya, ia menggunakannya untuk melapisi permukaan pedang.
Tiga pria itu tidak diam saja. Mereka menyerang dari sisi kanan dan kiri, lalu seorang lagi dari atas. Huang Yi Zhen melemparkan pedang berlapis api kepada orang yang menyerang dari atas. Lalu mengangkat kedua tangannya ke arah kanan dan kiri untuk menyerang dengan bola Api. Yang menyerang dari atas mati, tapi yang dari kanan dan kiri belum. Maka Huang Yi Zhen mendatangi yang menyerang dari kiri. Dengan cakar yang terentang, ia menangkupkan cakarnya di kepala pria itu. Lantas mencengkeramnya erat hingga kepala pria itu meledak dengan darah yang berserak. Begitu pula nasib yang tersisa.
__ADS_1
Huang Yi Zhen memasuki ruang dimana para Korban di sandera. Huang Yi Zhen hanya mempedulikan Hu Lei dan Huang Yi Bao, sisanya bukan urusannya. Dengan menggendong Hu Lei di pelukannya, Huang Yi Bao terlihat di pakaian Hu Lei. Karna mereka memakai cincin penyimpanan, maka Huang Yi Zhen pikir mereka tak perlu pergi ke stasiun. Karna ia berada tak jauh dari tempat tujuannya, Huang Yi Zhen memutuskan untuk berjalan menuju tujuan.