Benang Merah

Benang Merah
Chapter 18


__ADS_3

Chapter 18 Revisi


"Itu mudah saja, namun untuk mengantar kakak ke dunia kecil seperti Kak Huang agak sulit. Ada beberapa bahan-bahan yang di butuhkan untuk ritual pengantaran Roh. Dan Kakak perlu beberapa pelatihan dariku untuk menjaga kesadaran Kakak selama di dunia kecil."


Hu Lei mendengus kesal. "Baiklah."


Dengan begitu Hu Lei, Gu Chu, Mao Yun Zi dan bunga monster kembali ke desa Wang Jia. Karna lelah dan sedikit malas, mereka menaiki sulur bunga yang tidak berduri untuk pulang. Sepanjang perjalanan, Hu Lei hanya melihat pasangan muda itu bermesraan. Yah... lebih tepatnya Mao Yun Zi yang menggoda Gu Chu.


"Haih... " Lagi-lagi Hu Lei menghela nafas penuh rasa bosan.


"Hei, Kucing kecil, apa kau benar-benar tidak akan menggangguku dan Yi Zhen lagi?" Tanya Hu Lei memastikan.


Mao Yun Zi memeluk lengan Gu Chu, kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Gu Chu. "Ya, aku memiliki si tampan ini sekarang. Aku tidak akan punya waktu untuk mengganggu Kakak dan Kak Yi Zhen lagi."


Hu Lei memalingkan muka. "Huh."


Tak lama kemudian Bunga raksasa itu memasuki Area desa Wang Jia. Awalnya penduduk desa sedikit panik, namun saat melihat Hu Lei, mereka kembali tenang. Mereka mengerubungi Bunga besar itu. Ayah dan Ibu Huang merasakan aura Putranya dalam bunga raksasa itu. Raut muka mereka menunjukkan ekspresi khawatir.


"Ayah dan Ibu mertua tenang saja, Yi Zhen baik-baik saja. Namun terjadi sesuatu, mari bicarakan di dalam." Ujar Hu Lei.


Melihat wajah serius Hu Lei, Ayah dan Ibu Huang mengangguk. Mao Yun Zi memerintahkan Bunga raksasa untuk mengikuti Hu Lei. Tak lupa Mao Yun Zi juga menarik Gu Chu ikut kedalam rumah.


Di ruang tamu keluarga Huang, Ayah dan Ibu Huang berbincang dengan Hu Lei dan Mao Yun Zi mengenai cara menjemput Huang Yi Zhen. "Yah, karna tubuh Kakak di ciptakan dari ritual, maka untuk keluar dari tubuh itu bukannya hal yang tidak mungkin. Kakak hanya perlu berlatih di bawah pengawasanku tentunya." Ujar Mao Yun Zi.

__ADS_1


"Nona Mao, apakah kami juga bisa ikut? sudah lama aku dan suamiku ingin berjumpa dengan putra kami." Ujar Ibu Huang.


Mao Yun Zi mengangguk dengan cepat, seolah itu bukanlah hal sulit baginya. "Aku juga ingin ikut! Aku ingin membantu tuan Huang." Gu Chu berkata dengan semangat.


Mao Yun Zi tersenyum dengan senyuman mesum. "Kalau kamu akan ku ajari secara khusus." Ujarnya.


"Ekhem..." Hu Lei berdehem untuk menghentikan Mao Yun Zi.


"Apa kalian yakin mau memulai latihan sekarang? Hari sudah mulai senja loh, aku tau kalian masih belum terbiasa dengan tubuh manusia kalian. Setidaknya pergilah beristirahat, aku akan mengajarkan kalian besok." Mao Yun Zi berkata dengan nada setengah peduli.


"Benar juga, kita perlu makan dan tidur setelah menjadi manusia." Keluh Gu Chu. Ia menyentuh perutnya yang sudah berbunyi.


"Aaahh... sayangku sudah lapar, baiklah sore ini aku yang akan memasak makanan untuk kalian semua!" Mao Yun Zi berkata dengan penuh semangat.


Sore itu dapur di penuhi suara Paman Huo yang sibuk memasak bersama Mao Yun Zi. Masakan Paman Huo selalu sama, lezat dan sehat. Sedangkan makanan buatan Mao Yun Zi.... Yah, rata-rata berbahan dasar ikan sih, tapi lezat.


Mao Yun Zi berhenti sejenak untuk meminum air. "Kemudian kita mencari beberapa barang untuk membuat alat pembantu, agar kalian semua bisa tetap aman melintasi lorong waktu dunia kecil. Kemudian berkultivasi untuk mengokohkan jiwa kalian, agar dapat masuk dunia kecil tanpa melupakan identitas kalian. Daan masih banyak lagi, baiklah sekarang kita semua harus istirahat. Bolehkan aku dan si tampan ini menumpang tidur?"


"Tentu, Paman Huo tunjukkan kamar tamunya."


Mao Yun Zi menarik tangan bocah Gu agar mengikutinya. Gu Chu merasa ia sudah banyak malu di hari ini, Di sisi lain ia merasa sebenarnya menjalin kasih itu cukup menyenangkan. Namun setelah memasuki kamar tamu Gu Chu merasa canggung untuk pertama kalinya.


Gu Chu menatap sekitar dengan tatapan bingung. Biasanya saat masih menjadi hantu, malam hari adalah waktu dia bermain-main dengan cara mengganggu beberapa manusia. Tapi dia kini seorang manusia, Dia tidak tau apa yang harus di lakukan saat istirahat. Gu Chu memutuskan untuk berpikir sebagai manusia. Jika dia manusia, apa yang akan dia lakukan?

__ADS_1


Mao Yun Zi merasa di abaikan, ia memutuskan akan menggoda si perjaka kuno itu. Yah, lagi pula ia tidak punya kegiatan lain untuk di lakukan. Dia selalu berpikir bahwa dia mungkin akan terus melajang sampai usianya berakhir. Sekarang seorang Pria muda yang tidak tau apa-apa menghampirinya dan berkata akan menghabiskan waktu seumur hidupnya bersama dengannya. Mao Yun Zi tidak terpikir hal lain selain membangun kasih, kemudian membesarkan anak dan bersama hingga hari tua.


Mao Yun Zi memeluk Gu Chu dari samping. Lalu berbisik ke telinga Gu Chu. "Bocah Gu, kau mengabaikanku?"


Bisikan halus itu membuat Gu Chu sadar dari lamunannya. Mao Yun Zi menjilat ujung daun telinga kiri Gu Chu. Gu Chu segera merasakan suhu tubuhnya yang naik. Mao Yun Zi melihat wajah merah Gu Chu, itu membuatnya lebih tertarik untuk menggoda perjaka kuno itu.


Di Zamannya, Wanita berprilaku baik dan patuh pada orang tua ataupun suaminya. Mereka pandai dan memiliki tatakrama yang elok kepada lawan jenis. Hal yang di lakukan Mao Yun Zi membuat pikiran Gu Chu berhenti. Karna dia tidak pernah mengalami hal ini, ada rasa semangat yang aneh dari tindakan Mao Yun Zi.


Ada rasa geli-geli nikmat di telinganya, itu membuatnya berdebar dan diam-diam menanti apa yang akan di lakukan Mao Yun Zi setelahnya. "Sudah kuduga, sebenarnya kau menyukai ini kan?" Mao Yun Zi tersenyum mesum.


Gu Chu yang malu memalingkan wajahnya. "Kamu malu? manisnya."


Dalam kaum siluman, kaum pria biasanya akan sangat agresif dalam berhubungan intim. Jadi ketika menemukan Pria pemalu seperti Gu Chu, keinginan untuk lebih dan lebih agresif muncul di hati Mao Yun Zi. Jauh dalam hatinya, Mao Yun Zi ingin menjaga bocah pemalu ini dalam pelukannya dan tidak akan membiarkan orang lain membawanya pergi.


"Pelajaran pertama, aku akan mengajarimu berciuman." Mao Yun Zi berkata dengan seringai orang mesum di wajahnya.


Gu Chu adalah mata-mata tentara. Saat memata matai musuh, ia pernah sesekali melihat sepasang suami istri berciuman. Yang dia lihat saat itu hanya si istri memberikan ciuman kecil di pipi sang suami. "Pertama-tama cobalah untuk menciumku, aku ingin lihat seperti apa ciumanmu."


Gu Chu dengan malu-malu mengecup pipi kiri Mao Yun Zi. Gu Chu terlihat seperti gadis kecil yang malu-malu dan canggung, membuat Mao Yun Zi semakin dan semakin cinta padanya. "Bocah Gu, itu di sebut sebagai kecupan, bukan ciuman. Kemari, biar aku mengajarimu apa itu ciuman yang sebenarnya."


Gu Chu menatap bibir merah ceri Mao Yun Zi. Tiba tiba terpikir olehnya bagaimana rasanya? Apakah rasanya seperti ceri?


Mao Yun Zi mendekat dan menangkap bibir tipis Gu Chu dengan bibirnya. Gu Chu merasakan bibirnya di hisap oleh Mao Yun Zi. Mao Yun Zi menggigit bibir bawah Gu Chu, sehingga mulut Gu Chu terbuka. Dalam kesempatan itu, ia memasukkan lidahnya ke dalam mulut Gu Chu. Mao Yun Zi menggoyangkan lidahnya di sekitar lidah Gu Chu.

__ADS_1


Mao Yun Zi melirik Gu Chu di ujung matanya. Wajah merah Gu Chu membuatnya semakin bergairah. Sehingga ia tidak memperhatikan Gu Chu dan hanya mengejar kenikmatan. Saat ia melirik Gu Chu lagi. Mata Gu Chu tertutup karna tidak sadarkan diri. "Gawat, sepertinya aku kelewatan."


Gu Chu pingsan karna kehabisan nafas. Namun ia pingsan dalam keadaan tenang. Rasa ingin taunya terjawabkan dari perbuatan Mao Yun Zi. Bibir mungil Mao Yun Zi itu... rasanya manis.


__ADS_2