
Chapter 45
Menurut pemeriksaan dari para Ahli, Huang Yi Zhen baik-baik saja tanpa ada penyakit ataupun luka. Ini membuat bingung seisi rumah Huang. Insting Siluman Hu Lei di penuhi rasa curiga, ia memindai seluruh tubuh Huang Yi Zhen dengan mata Silumannya. Ia menemukan cairan halus berwarna keunguan bercampur dengan darahnya, cairan itu terus berkumpul di jantung. Itu adalah racun yang tak dapat di deteksi. Tak memiliki rasa atau bau.
Melihat dari jumlahnya yang cukup banyak, hampir memenuhi seluruh jantungnya, Hu Lei yakin kalau Huang Yi Zhen sudah lama terkena racun ini. Bahkan ada kemungkinan setiap makanannya di campur dengan racun itu.
Huang Yi Zhen merasa bingung saat ia menyadari kondisinya. Melihat dari jumlah banyaknya racun, ia tau kalau kematiannya sudah dekat. Huang Yi Zhen tidak takut dengan apa yang di sebut kematian, ia hanya takut belum menyelesaikan misinya. Huang Yi Zhen merasa bukan hanya sifat Pemilik tubuh asli yang tertinggal, melainkan jiwa pemilik tubuh asli masih tinggal dan menunggu saat-saat bertemu Ibu kandungnya. Huang Yi Zhen merasa ia tak boleh mengecewakan jiwa pemilik tubuh asli.
"Yi Zhen beristirahatlah... Apa perlu aku menelpon Ayahmu?" Tanya Hu Lei saat melihat wajah frustasinya.
Bai Li Zhi juga berdiri di sana. Huang Yi Zhen membalikkan tubuhnya agar melihat Bai Li Zhi dan Hu Lei. Huang Yi Zhen melihat wajah misterius pria muda di belakang Hu Lei. "Tidak... Tapi... Aku ingin sup ikan"
Bai Li Zhi segera bergerak untuk mengambilnya, namun suara Huang Yi Zhen menghentikan langkahnya. "Tapi aku ingin makanan yang di buatkan Ibu tiri"
Hu Lei menatap Huang Yi Zhen. Bai Li Zhi menatap wajah Huang Yi Zhen yang di tutupi tangannya. Bai Li Zhi merasakan rasa was-was di hatinya. Karna suara Huang Yi Zhen tak lagi bernada, itu tidak gugup atau malu. Suaranya terkesan datar dan kecewa. "Baiklah, aku akan buatkan."
Bai Li Zhi dan Hu Lei meninggalkan kamar itu. Huang Yi Zhen menatap langit-langit kamarnya. Dengan berjalan mengelilingi kamarnya, Huang Yi Zhen menemukan sebuah foto. Itu adalah foto Ayah Huang dan pemilik tubuh asli yang saat itu masih kecil.
"Aku akan berusaha sebelum kematian tiba menjemputku. Aku akan berusaha untuk membantumu melihat Ibumu. " Huang Yi Zhen bermonolog sendirian sambil mengusap wajah pemilik tubuh asli di foto.
"Mengapa kamu ingin makanan buatan Hu Lei? Apakah kamu sudah jatuh cinta lagi kepadanya? Hm?" Wanita tua melayang-layang di atas kepala Huang Yi Zhen.
"Hanya untuk jaga-jaga saja. Meski Hu Lei itu jahat, aku yakin ia takkan berniat melukaiku. Sekarang aku tidak bisa mempercayai siapapun di rumah ini. Sebelum aku bertemu Ibu kandung pemilik tubuh asli." Jawab Huang Yi Zhen.
__ADS_1
Huang Yi Zhen berjalan lagi untuk menemukan meja yang di atasnya di penuhi banyak buku. Huang Yi Zhen menemukan sebuah buku lukis. Dari Ingatan pemilik Tubuh Asli, buku itu adalah diary miliknya. Pemilik tubuh asli akan menggoreskan pensil sketsanya, untuk melukis berbagai hal sebagai isi buku hariannya.
Tak lama kemudian Hu Lei datang dengan makanan di tangannya. Bai Li Zhi mengikuti di belakang. Huang Yi Zhen masih terlihat tidak bersemangat. Baik Bai Li Zhi ataupun Hu Lei sama-sama dapat merasakan tingkah Huang Yi Zhen sedikit berbeda.
"Li Zhi... Bisakah pergi untuk mengambilkan segelas air hangat?" Ujar Huang Yi Zhen.
"Saya akan segera kembali Tuan Muda" Bai Li Zhi meninggalkan ruangan.
Huang Yi Zhen memberikan telponnya kepada Hu Lei. "Aku ingin Ibu tiri menuliskan nomor teleponmu"
Meski tidak tau apa yang di rencanakan kucing kecil. Hu Lei masih dengan senang hati memberikan nomor telponnya. Setelah mengembalikan telpon Huang Yi Zhen, Hu Lei pergi dari kamar. Bai Li Zhi kembali dengan air hangat di tangannya. Melihat ketidakhadiran Hu Lei, alis Bai Li Zhi yang awalnya berkerut kembali seperti biasa.
Huang Yi Zhen masih melanjutkan makan siangnya. Setelah selesai Huang Yi Zhen melangkah ke luar kamarnya. Bai Li Zhi mengikutinya setelah memerintahkan kepada pelayan lain untuk merapihkan bekas makan Huang Yi Zhen.
Lalu mengurung diri di studio lukis. Studio lukis hanyalah ruangan sebesar 10X13 meter. Tanpa ruangan, hanya empat dinding tanpa jendela, atau ventilasi. Benar-benar tempat yang terisolasi dan kedap suara. Di ruangan ini juga tidak ada kamera pengawas apapun.
Huang Yi Zhen menyalakan telponnya lalu menghubungi Hu Lei. Tak perlu waktu lama panggilan segera tersambung. "Ibu tiri... Bisakah aku bertemu Ibuku secepatnya?"
Hu Lei mendengar nada sedih itu. Hu Lei mengingat racun di jantung Huang Yi Zhen. Ia segera berkata. "Baiklah, besok aku akan mempertemukan kalian. Aku akan berbicara dengan Ibumu dulu."
Huang Yi Zhen menghabiskan sisa hari dengan melukis dan melukis. Saat malam tiba ia sudah larut dalam mimpinya. Keesokan paginya, Huang Yi Zhen bangun karna notifikasi suara yang terdengar dari telponnya. Itu adalah pesan masuk dari Hu Lei. Hu Lei mengatakan rencananya.
Segera Huang Yi Zhen bersiap. Ia mengenakan pakaian kasualnya seperti biasanya. Setelahnya ia turun untuk Sarapan bersama Ayah dan Ibu tirinya. "Yi Zhen makanlah yang banyak, kali ini Ibu tirimu yang memasak." Ujar Ayah Huang.
__ADS_1
"Ayah, nanti aku ingin keluar untuk melukis."
Mendengar putranya ingin keluar dari Rumah, tentu saja Ayah Huang sangat senang. Sudah lama sejak terakhir kali putranya pergi keluar. "Tentu, tapi jangan pergi sendiri, pergilah dengan Bai Li Zhi nanti"
Huang Yi Zhen mengangguk-angguk lalu melanjutkan sarapannya. Tak lama kemudian Huang Yi Zhen pergi bersama Bai Li Zhi setelah menyiapkan barang-barang.
"Kemana Tuan Muda ingin pergi?" Tanya Bai Li Zhi.
Huang Yi Zhen ingat kalau tempat pertemuannya dan Hu Lei berada di sudut kota, di mana ada perumahan yang berada di sekitar hutan. "Kita ke hutan kota"
Karna jalanan yang cukup terjal, mereka harus turun di awal hutan. Setelah menemukan tempat yang indah Huang Yi Zhen mulai melukis, Bai Li Zhi melihat sapuan kuas yang di buat oleh Huang Yi Zhen. Bai Li Zhi tidak bisa tidak terpesona dengan keindahan gambarnya.
"Li Zhi sepertinya aku kehabisan warna putih, bisakah kau ambilkan?"
"Baik Tuan Muda."
Huang Yi Zhen melihat Bai Li Zhi yang mulai menjauh. Huang Yi Zhen segera merubah dirinya menjadi kucing. Lalu berlari dengan empat kaki kecilnya. Tanpa di ketahui siapapun.
Saat Bai Li Zhi kembali dengan cat putih di tangannya. Ia tak melihat Tuan Mudanya di manapun. Setelah berkali-kali memanggil nama Tuan mudanya, Bai Li Zhi tak kunjung menerima jawaban apapun. Ia melirik kanvas yang sudah separuhnya siap.
Saat itu ada kebencian yang dalam di sepasang matanya. Bai Li Zhi mengeluarkan sesuatu dari sakunya, itu adalah sebuah pisau kecil. Ia mengoyak kanvas yang belum sempurna dengan penuh emosi. Setelah tenang ia membakar kanvas beserta cat itu. Dengan kondisi cuaca yang sekarang sedang musim panas, Bai Li Zhi yakin ini akan menyebabkan kebakaran hutan.
Lantas pemuda kurus itu berjalan keluar hutan tanpa melihat kebelakang. Ia memasuki mobil dan meninggalkan area hutan. Bai Li Zhi menyeringai saat berkendara. "Saya harap Anda selamat Tuan Muda. Atau haruskah ku sebut Anda sebagai Kakak"
__ADS_1