
Chapter 49
Huang Yi Zhen muncul di sebuah kamar gelap. Di sisinya ada seorang wanita yang usianya sekitar empat puluhan. Wajahnya tampak khawatir dengan Huang Yi Zhen. Melihat Huang Yi Zhen yang telah sadar, wanita itu tampak senang.
"Akhirnya kau sadar Nak?"
Wanita itu mendekati Huang Yi Zhen untuk melihat kondisinya dengan lebih baik. Setelah mengusap dahi Huang Yi Zhen, ia segera pergi keluar ruangan. Huang Yi Zhen merasa kepalanya pusing. Dengan memanfaatkan ke sunyian, Huang Yi Zhen mulai mencerna ingatan pemilik tubuh asli.
Seperti biasa, pemilik tubuh asli memiliki nama yang sama dengan Huang Yi Zhen. Ia adalah Putra tunggal seorang janda. Ayahnya adalah orang yang tinggal di gunung dan orang yang mempercayai takhayul. Wanita kota seperti Ibunya tak tahan dan memutuskan untuk berpisah. Atas permohonan Ayahnya, Pemilik Tubuh Asli tinggal dengan Ayahnya. Namun pemilik tubuh asli tidak menyukai keluarga Ayahnya.
Banyaknya larangan dan perintah yang harus di patuhi membuat pemilik tubuh asli tidak terlalu menyayangi keluarga Ayahnya. Ayahnya juga bukanlah Manusia, Ayahnya adalah siluman Kucing yang menjaga gunung itu. Kehidupan para Siluman itu sangat berbeda dengan pemilik tubuh asli, yang di besarkan dengan cara manusia oleh Ibunya.
Sekarang Ibu kandungnya telah tiada, Bibinya memiliki banyak orang dalam keluarganya. Tak lagi bisa menambah orang. Maka Pamannya menyarankan untuk mengirim pemilik tubuh asli ke pada Ayahnya. Pemilik tubuh asli menolak, Pamannya membiusnya lalu mengirimnya ke keluarga Ayahnya.
Kini ia ada di kaki gunung. Di sebuah rumah warga desa. Pamannya tak tau alamat pasti rumah Ayahnya, maka ia meninggalkan pemilik tubuh asli yang dalam keadaan tidak sadar di luar desa. Penduduk desa membawanya ke rumahnya. Disinilah dia sekarang.
"Lalu akankah aku bisa berubah?" Huang Yi Zhen bermonolog sambil mencoba berubah.
Tidak berhasil, ada sesuatu yang menahannya agar tak berubah. "Usia tubuh mu belum cukup."
Wanita tua muncul dengan menembus dari kolong tempat tidur ke sisi kaki Huang Yi Zhen. "Apakah kau masih ingin pergi?"
Huang Yi Zhen menggelengkan kepalanya. "Terlalu mengerikan, begitu banyak larangan dan perintah. Aku tidak begitu suka keduanya. Mungkin sebaiknya aku tinggal di desa ini saja dan menjadi petani."
"Kamu masih harus menemukan Hu Lei, siapa yang tau dia akan menjadi siapa di dunia ini." Wanita tua berkata dengan setengah membujuk.
"Benang merah ini yang akan menuntunku" Huang Yi Zhen berkata dengan percaya diri.
Pintu tua yang menjadi pintu kamarnya kembali berderit. Wanita yang sebelumnya pergi kembali dengan seorang Pria tua. "Nak darimana asalmu?"
Kalimat itu adalah yang pertama di ucapkan oleh Pria tua. Huang Yi Zhen masih merasa sedikit pusing. "Aku dari kota B. Ibuku baru saja meninggal, lalu karna Pamanku tidak bisa merawatku, aku di kirim ke tempat ini. Paman bilang Ayah tinggal di sini."
__ADS_1
Huang Yi Zhen melihat wajah wanita itu mulai menunjukkan simpati. "Siapa namamu? Siapa Nama Ayahmu?"
Huang Yi Zhen menjawab dengan nada pelan. "Namaku adalah Yi Zhen. Aku belum pernah bertemu Ayahku sejak aku lahir."
Huang Yi Zhen berbicara seolah dia adalah orang malang yang tak berkeluarga. Si istri tampaknya telah merasa kasihan kepada Huang Yi Zhen. Ia menarik tangan Pak tua itu dan mulai berbisik.
"Pak, kita angkat saja Pemuda ini menjadi Anak kita ya?" Bujuk Si istri.
"Tapi Bu..."
"Apa Bapak tidak kasihan? Tidak punya Ibu, tidak pula memiliki Ayah. Dia berjodoh dengan kita yang tidak memiliki Anak " ujar Si Istri.
Pak tua melirik Huang Yi Zhen yang tatapannya terlihat kosong. Pada akhirnya ia menghela nafas dan mengangguk. "Baiklah, tapi kita harus mengajaknya berdoa kepada Dewi Gunung. "
Mata si istri berbinar di penuhi kebahagiaan. Ia segera mendekati Huang Yi Zhen. "Nak, karna kau tidak memiliki tempat tinggal, mari tinggal dengan Paman dan Bibi. Bibi adalah Yang Hua dan suami Bibi namanya Lu Xi Han. Kamu bisa menjadi Putra angkat kami." Yang Hua berbicara dengan nada bahagia.
Tentu saja Huang Yi Zhen juga bahagia. Orang tua baru dan rumah gratis telah ia dapatkan. Suasana hati kucing kecil itu sedang baik sekarang. "Terimakasih Ayah dan Ibu angkat!"
Huang Yi Zhen memerankan seorang Putra patuh ia mengangguk dan melambaikan tangannya kepada orang tua barunya. Jika mengingat ingatan pemilik tubuh asli, usianya adalah usia seorang pemuda yang baru saja lulus SMA. Sekitar 18 tahun. Lalu berapa usia yang tepat untuk dapat berubah?
Huang Yi Zhen membuka jendela di sisinya. Dengan menghirup nafas segar, ia merasa dirinya lebih baik. Karna obat bius Pamannya, Huang Yi Zhen masih merasa tidak enak badan. Berjemur sebentar membuatnya merasa baikan.
"Pst! Sst! Hei!" Ada seseorang yang berbisik kepadanya.
Huang Yi Zhen mencari asal suara, seorang bocah laki-laki yang tubuhnya lebih kecil darinya, tengah menatapnya dengan mata yang di penuhi ke ingin tahuan. "Siapa namamu Kakak? "
"Um... Aku Yi Zhen" ujar Huang Yi Zhen.
Dari Wanita tua ia tau kalau marga Huang hanya milik keluarga misterius di gunung. Jika ia menyebutkan marganya yang sebenarnya, orang desa hanya akan mengantarnya ke keluarga Ayahnya yang ia takuti.
"Aku Meng Lu! Salam kenal Kakak! Apakah Kakak ingin menjadi temanku?"
__ADS_1
Huang Yi Zhen mengangguk dan bocah laki-laki yang lebih muda melompat-lompat senang. Huang Yi Zhen berpikir tidak ada salahnya memiliki seorang teman. Tapi sejauh ini Huang Yi Zhen belum pernah memiliki teman, akankah itu baik-baik saja? Dia sedikit ragu.
"Yi Zhen, Ibu pulang! " Ia mendengar suara riang Yang Hua.
Yang Hua mendekatinya, lalu mengusap kepalanya dengan penuh kasih. "Orang-orang desa tau kamu adalah Putra angkat Ibu sekarang. Mulai sekarang namamu adalah Lu Yi Zhen!"
Huang Yi Zhen tersenyum lemah. "Terima kasih Ibu!"
Melihat wajah pucat Putra angkatnya. Yang Hua sangat khawatir. "Ah! Nak, kamu pasti belum makan ya? Ibu akan memasakkanmu, ayo katakan apa yang ingin kau makan."
"Berikan aku sup ikan" Huang Yi Zhen bersemangat saat mendengar ia dapat memakan apa yang ia inginkan.
"Ya, Ibu akan pergi memasakkannya. Hei kau putra Lao Meng bukan?" Yang Hua berkata saat melihat Meng Lu yang muncul di jendela.
"Ya aku dan Kak Yi Zhen, baru saja menjadi teman Bibi!" Meng Lu berkata dengan nada senang.
"Kakak? Yi Zhen memangnya berapa usiamu?" Yang Hua bertanya.
"Aku baru saja lulus SMA sebelum Ibuku Meninggal. Usiaku baru saja genap delapan belas tahun." Ujar Huang Yi Zhen.
"Kalau begitu Yi Zhen lah yang harus memanggilmu Kakak. Usianya bahkan belum genap dua puluh tahun." Ujang Yang Hua lagi.
Meng Lu tampak kebingungan. Ia pikir sebelumnya Huang Yi Zhen lebih tua darinya. Karna Huang Yi Zhen terlihat lebih tinggi dan tampan. Ia pikir seharusnya usia Huang Yi Zhen ada di awal Dua puluh. "Apakah benar?"
Huang Yi Zhen menganggukkan kepalanya. "Lalu mengapa tubuhmu terlihat lebih tinggi dariku? Kau baru saja lulus SMA bukan?"
Huang Yi Zhen mengangguk. Tinggi tubuhnya memang termasuk tinggi untuk orang seusianya. Tinggi Huang Yi Zhen adalah 184 cm. Di usia Delapan belas tahun. "Aku juga tidak Tau, Ibu kandungku selalu mengatakan kalau ini adalah turunan dari Ayahku. Tapi aku bahkan tak mengenal Ayahku."
Mendengar jawaban Huang Yi Zhen Meng Lu Hanya mengangguk-angguk. "Baiklah! Cepatlah sembuh ya! Aku akan mengajakmu berkeliling jika sudah sembuh. Wajahmu terlihat sangat pucat."
"Baiklah"
__ADS_1