Benang Merah

Benang Merah
Chapter 50


__ADS_3

Chapter 50


Huang Yi Zhen telah membaik selama sisa hari, namun Yang Hua masih mengkhawatirkannya. Sehingga Huang Yi Zhen masih berbaring di kamarnya hingga Bulan naik. Saat itu ia sedang menatap Bulan sabit yang tampak kesepian di langit.


"Yi Zhen, ikutlah denganku." Lu Xi Han muncul setelah mengetuk pintu kamar Putra Angkatnya.


Huang Yi Zhen melangkah turun dari tempat tidurnya. Di tangan Lu Xi Han ada sebuah pakaian putih. Dengan model pakaian China kuno. "Kenakan ini, lalu ikut denganku."


Huang Yi Zhen mengambil pakaian yang di berikan Lu Xi Han. Lu Xi Han menunggu di depan kamar Huang Yi Zhen dengan secangkir teh herbal di tangannya. Ia juga mengenakan pakaian putih yang sama. Pakaian itu di buatkan istrinya untuk putra mereka. Tapi setelah begitu lama menikah, mereka tak kunjung memiliki Anak. Setelah di periksakan ke tabib desa, istrinya ternyata mandul. Meski begitu ia tetap menyayangi Istrinya tanpa berpikir untuk menceraikannya.


Kini ada yang akan mengenakan pakaian itu, sejujurnya ada rasa senang di hatinya. Meski itu bukan Putra kandungnya, tapi ia tetap senang jika istrinya senang. "Ayah, aku sudah bersiap."


Lu Xi Han melihat Putra Angkatnya. Pakaian itu sangat cocok untuknya. Lu Xi Han dalam suasana hati yang baik saat ini. "Hei, Hua Hua, lihat siapa yang akan pergi denganku! Bukankah dia tampan?"


Yang Hua datang setelah suaminya memanggil. Huang Yi Zhen sendiri telah tampan secara alami. Memakai pakaian putih membuatnya terlihat seperti Dewa yang turun dari langit. Yang Hua juga Wanita biasa. Dan Wanita menyukai hal-hal indah. Melihat Pemuda tampan adalah obat mata terbaik.


"Ya ampun, Putraku sangat tampan! Aku sangat yakin kita akan cepat memiliki menantu!" Yang Hua berujar sambil mencubit pipi Huang Yi Zhen.


"Itu benar sekali, Yi Zhen, apa kau sudah memiliki orang yang kau sukai?" Lu Xi Han memeluk Bahu Huang Yi Zhen sambil bertanya.


Huang Yi Zhen melirik benang merah di tangannya. Ia tidak yakin apakah ia menyukai Hu Lei. Tapi ketika berada di sekitar Hu Lei hanya ketenangan dan kebahagiaan di hatinya. Lagi pula, ia belum bertemu Hu Lei di dunia ini.


"Em... Ku rasa tidak?"


"Kau terdengar tidak yakin." Ujar Lu Xi Han.


"Aku serius, lagi pula aku lebih sering bermain dengan laki-laki daripada perempuan." Huang Yi Zhen berkata sesuai dengan yang ia dapatkan dalam ingatan pemilik tubuh asli.

__ADS_1


Setelah berbasa-basi sebentar, Huang Yi Zhen pergi dengan Lu Xi Han menuju kuil. Ini pertama kalinya Huang Yi Zhen menginjakkan kaki di desa. Ia dapat merasakan Aura spiritual khas yang di miliki Siluman di sekitar desa dan gunung.


Saat mendekati bangunan sakral yang di sebut kuil. Huang Yi Zhen dapat melihat Aura kemerahan yang menguar di atap kuil. Saat memasuki kuil, hal pertama yang di rasakan Huang Yi Zhen adalah kelembutan dan kehangatan yang seakan memeluknya.


Huang Yi Zhen melihat sebuah Patung besar di atas Altar persembahan. Patung itu adalah patung wanita dengan ekor dan telinga rubah. Wanita itu memiliki delapan ekor rubah. "Ini adalah Dewi Gunung. Untuk keselamatan, setiap mahluk di gunung harus memohon ampun kepadanya."


Huang Yi Zhen melihat sekitar. Tak ada wanita di kuil ini, ia hanya melihat Pria di setiap sudut kuil. "Kenapa hanya ada Pria di kuil ini Ayah?"


Huang Yi Zhen bertanya sambil berbisik. "Dewi hanya ingin laki-laki yang berada di kuilnya. Ia tidak ingin ada satupun Wanita di kuil ini. "


Huang Yi Zhen hanya mengangguk-angguk saja. Lu Xi Han membawa Putra Angkatnya untuk berdoa. Tuan penjaga kuil datang dan menutup pintu. "Apa semuanya telah datang?"


Semua penduduk desa laki-laki yang ada di kuil berkata secara bersamaan. "Ya, Tuan penjaga!"


Tuan penjaga itu melirik Huang Yi Zhen. Ia mendekati Huang Yi Zhen. Dengan pelan Tuan penjaga itu berkata. "Kamu ini siapa?"


Tuan penjaga itu sepertinya melirik benang merah yang terikat di tangan Huang Yi Zhen. Ia hanya tersenyum diiringi tawa pelan. Semua orang kebingungan dengan tingkah Tuan Penjaga. "Hohoho... Tidak apa-apa, mari kita mulai ritualnya."


Huang Yi Zhen merasakan sesuatu dari Tuan penjaga. Lalu dengan di pimpin oleh Tuan penjaga. Ritual Doa di mulai, mereka akan duduk bersaf lalu menyatukan kedua telapak tangan mereka untuk berdoa. Dengan mata terpejam mereka mulai menyatakan keinginan mereka di dalam hati mereka.


Tuan penjaga duduk di saf terdepan. Sepasang telapak tangannya ikut di satukan setelah ia membakar sebuah kayu di piring perunggu. Asapnya mulai memenuhi ruangan. Huang Yi Zhen adalah orang yang tidak terlalu mempercayai Dewa atau Dewi. Ia di sini hanya untuk mengikuti Ayah angkatnya.


Di tambah lagi Huang Yi Zhen tidak khusyuk. Ia mengintip apa yang terjadi dengan mata menyipit. Setelah asap dari kayu yang di bakar memenuhi ruangan, setiap lampu ruangan akan redup. Yang tersisa hanya sepasang batu Ruby yang di pasangi sebagai mata patung itu.


Huang Yi Zhen dan Lu Xi Han duduk di saf paling belakang. Sehingga takkan ada yang menyadari kalau Huang Yi Zhen sebenarnya tidak berdoa. Huang Yi Zhen merasakan sebuah tangan mungil Wanita mengusap tengkuk lehernya dari belakang. Huang Yi Zhen segera memejamkan matanya.


"Kau tidak ikut berdoa kepadaku?"

__ADS_1


Huang Yi Zhen mencoba mengabaikan suara Wanita itu. Namun tanpa sadar matanya terbuka saat ia merasakan ujung atas daun telinganya di masukkan ke sesuatu yang terasa lembab dan hangat.


"Bocah Huang, kau menipu orang tua angkatmu hanya untuk tinggal di sini? Memangnya ada gadis yang kau suka? Sepertinya ia sangat berarti untukmu."


Huang Yi Zhen merasa seluruh bulu romanya berdiri saat benda yang lembab dan hangat itu pindah ke sisi kiri lehernya. Lalu ada tangan mungil yang memeluk pinggangnya dan mengusap dadanya secara bersamaan.


"Ayo jawab aku..."


Mata Huang Yi Zhen dalam keadaan terbuka tapi ia tak berani menoleh. "Ya!"


Usapan di dadanya berhenti. Huang Yi Zhen merasakan ada aura kemarahan yang memancar dari sisi lehernya. "Siapa!?" Tak seperti sebelumnya, kini suara Wanita itu terdengar dingin.


Saat Huang Yi Zhen menoleh perlahan, sosok yang memeluknya tak lagi ada. Dan ritual doa juga telah berakhir. "Bagaimana perasaanmu?"


Mendengar Lu Xi Han bertanya kepadanya, Huang Yi Zhen menoleh. "Kuil ini membuatku nyaman."


Lu Xi Han senang mendengar jawaban itu. Ia pun berkata lagi. "Itu bagus, Kau harus mengikuti Ayah ke tempat ini setiap malam Rabu. Setiap malam itu kita akan melakukan pemujaan terhadap Dewi Gunung."


Lu Xi Han memeluk bahu Huang Yi Zhen sambil mengusap rambutnya. Dengan senyuman berseri, ia berkata. "Ayo pulang, Ibumu pasti telah memasak banyak makanan untukmu."


Para penduduk desa yang melakukan ritual mulai bubar. Tersisalah Tuan penjaga yang menatap punggung Huang Yi Zhen dengan Lu Xi Han. Tuan penjaga tersenyum saat melihat ruam berwarna ungu kemerahan di leher Huang Yi Zhen.


"Hehehe... Yang Mulia, mengapa tidak kau bawa saja putra Lao Huang itu?"


Saat itu seorang Wanita dewasa tengah duduk di depan patung Dewi gunung, dengan kaki yang di silangkan. Wanita itu tertawa sinis. "Aku bertanya kepadanya, mengapa ia berbohong, tapi ia tidak mengatakan apapun. Lalu aku tanya apakah ia menyukai seorang gadis, lalu ia berkata Ya! Aku ingin lihat siapa Wanita yang berani merebut tunanganku!"


Tuan penjaga kuil tak mengatakan apa-apa. Ia hanya tersenyum lembut dengan kepala yang menggeleng. Dalam hati ia berpikir, Tunangan Yang Mulia putri yang hilang telah tiba. Benang merah yang mengikat jari kelingking mereka akan mempersatukan mereka cepat atau lambat.

__ADS_1


__ADS_2