Benang Merah

Benang Merah
Chapter 56


__ADS_3

Chapter 56


Huang Yi Zhen membuka matanya saat cahaya matahari yang memasuki jendela mengenai wajahnya. Sudah siang rupanya. Jika biasanya pemilik tubuh asli akan di minta untuk memberi makan peliharaan, atau menyirami bunga. Sekarang ia bebas melakukan apapun. Memikirkan bahwa ini hanya desa kecil yang tak menyenangkan, Huang Yi Zhen patah semangat. Huang Yi Zhen mengelilingi rumah untuk mencari kamar mandi.


Suasana rumah memang gelap dan dingin, tapi rumah tua ini sepenuhnya bersih tanpa debu. Seluruh furniture juga lengkap tanpa ada yang kurang. Hanya saja rumah ini minim pencahayaan. Huang Yi Zhen tidak boleh mengubah itu, lagi pula ia masih bisa melihat ke dalam kegelapan. Sekiranya tak ada yang perlu di lakukan.


Ada angin dingin yang menuntun Huang Yi Zhen ke sebuah ruangan. Di sanalah ruangan yang ia cari berada. Kamar mandi. Awalnya ia berpikir mungkin akan memakai pakaian pengantin yang melekat di tubuhnya semalam. Namun siapa sangka orang yang tak di ketahui entah siapa, menyiapkan pakaian untuknya.


Huang Yi Zhen tentu mengira itu adalah Hu Lei. Setelah Huang Yi Zhen selesai mandi, angin dingin yang tadi seakan memeluknya. Lalu ada sentuhan lembut yang terasa seperti kecupan di pipinya. Huang Yi Zhen tentu tau siapa itu. Tapi rasanya ini lebih memalukan di banding sebelumnya. Sosok yang tak terlihat namun terasa nyata, sedang mempermainkanmu di dalam pelukannya.


Sejujurnya ini lebih memalukan sekaligus menakutkan, untuk kucing kecil seperti Huang Yi Zhen. Hu Lei melihat warna kemerahan samar di atas pipi Huang Yi Zhen. Hanya cekikikan yang menggema yang menandakan kehadirannya benar-benar ada di sisi Huang Yi Zhen. Cekikikan itu sebenarnya membuat Huang Yi Zhen sedikit takut.


Angin dingin itu membimbing Huang Yi Zhen menuju ruang makan. Huang Yi Zhen melupakan rasa takutnya, saat melihat makanan favoritnya terhidang di atas meja. Apalagi? Tentu saja sup ikan!


Huang Yi Zhen makan untuk mengisi perutnya. Kepalanya masih berpikir apa yang harus di lakukan setelah makan. Mari berpikir, mungkin berjemur? Tapi apakah ia bisa berubah ke bentuk kucing?

__ADS_1


Baru saja Huang Yi Zhen memikirkannya. Tubuhnya telah berubah ke bentuk kucing hitam dewasa. Warnanya yang gelap tersamarkan saat berada dalam rumah yang gelap ini. "Benar-benar bisa? Bagus kalau begitu hal yang di lakukan selanjutnya adalah berjemur!"


Cekikikan khas Hu Lei muncul kembali. Saat Itu Huang Yi Zhen merasa angin dingin mengusap kepalanya dengan lembut. Lalu ada suara Hu Lei berbisik di telinganya. "Kau sangat menggemaskan kucing."


Suaranya begitu dekat hingga membuat Telinga kucingnya terasa geli. Huang Yi Zhen menggerak-gerakkan daun telinganya. Ia melanjutkan makannya. Setelah selesai makan Huang Yi Zhen hendak melompat ke luar rumah. Namun angin dingin itu menahannya. Di lehernya segera muncul sebuah kalung aneh. Talinya hitam, teksturnya seperti rambut perempuan. Lalu memiliki sebuah gantungan kecil yang terbuat dari batu putih yang menyala dalam gelap.


"Kamu milikku kucing kecil, jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku." Hu Lei mengusap kepala kucing hitam.


Entah mengapa saat itu Huang Yi Zhen merasa ada sebuah pisau tajam yang menggantung di lehernya, saat mendengar suara Hu Lei. Setelah Huang Yi Zhen merasakan angin dingin sudah pergi, ia mulai melangkahkan kakinya keluar.


Halamannya begitu besar dengan kolam ikan yang tampak dalam dan gelap di depan rumah. Lalu ada bunga-bungaan yang biasanya hanya ada di kuburan. Intinya hawa di sekitar rumah itu sangat di penuhi aura mistis. Saat Huang Yi Zhen berjalan di sisi samping rumah, ia bertemu tikus. Tikus itu tampak terkejut saat bertatapan dengannya. Huang Yi Zhen mengeluarkan cakarnya. Lantas mulai mengejar tikus itu. Tikus tentu tidak ingin berakhir dalam perut kucing, maka ia terus berlari.


Sampai tikus melewati gerbang samping yang hanya terbuat dari besi tua. Huang Yi Zhen telah mengelilingi rumah ini. Meski rumah begitu luas dan besar, ada tembok besar dan tinggi yang mengelilinginya. Sekiranya hanya gerbang samping inilah yang menjadi akses keluar masuk antara dunia luar dan rumah ini.


Huang Yi Zhen mengintip hal yang ada di luar rumah melalui celah gerbang. Tak ada yang bisa ia lihat selain halaman belakang keluarga Huang. Saat cakarnya mencoba menapakkan kaki di celah gerbang, kalungnya mencekik lehernya. Lalu tali kalung itu memanjang membentuk tali tuntun, ujung tali itu terus bergerak menuju rumah. Tak lama dari itu, Huang Yi Zhen di tarik ke dalam rumah.

__ADS_1


Tali itu menariknya hingga ke tengah rumah. Saat Huang Yi Zhen berhenti di tarik. Seluruh pintu maupun jendela yang tadinya terbuka segera tertutup secara bersamaan. Bahkan saat itu awan yang semula cerah, mulai bergerombol membentuk awan petir. Dan awan gelap itu hanya menghiasi atas rumah itu bukan rumah lain.


Huang Yi Zhen saat ini hanya dapat menyimpulkan satu hal. Istri hantunya sedang marah. Itu saja. Dan ia mungkin tak di bolehkan keluar rumah lagi sekarang. Kucing itu menatap asap hitam yang perlahan muncul dalam gelap.


Asap itu perlahan membentuk sepasang tangan pucat dengan kuku hitam yang panjang. Lalu gaun merah, bukan, itu gaun putih yang di lumuri darah merah. Semakin Huang Yi Zhen melihat ke atas semakin mengembang bulunya. Wajah pucat dengan sepasang mata yang bolong, darah hitam mengalir di lubang mata itu. Seringai muncul di bibir pucat. Seringainya begitu lebar hingga pipi pucat itu robek. Rambutnya yang panjang berkibar melawan gravitasi.


Tiba-tiba sosok hantu itu menghilang, jantung kucing penakut itu berdebar-debar begitu keras hingga ia dapat mendengar suara debaran jantungnya sendiri. Kepalanya bergerak ke kanan dan kiri, di manakah hantu wanita itu berada? Saat Huang Yi Zhen melihat ke depan, Baa! Hantu itu muncul dengan lidah panjang yang menjilat dagu Huang Yi Zhen.


Kucing itu terkejut hingga bulunya mengembang secara keseluruhan. Matanya memutih dan mulutnya berbusa. Ia sangat terkejut! Karna hantu itu muncul begitu tiba-tiba. Lalu kucing itu jatuh ke lantai tak sadarkan diri. Sebelum Huang Yi Zhen kehilangan kesadarannya. Ada tawa cekikikan khas milik Hu Lei. Tawa itu menggema memenuhi gendang telinganya.


Tak hanya Huang Yi Zhen yang mendengarnya. Seluruh orang yang berada tak jauh dari rumah itu juga mendengarnya. Semua orang tau kalau halaman tersegel itu sangat tua dan kosong. Jadi siapakah yang tertawa di sana? Semua orang yang mendengarnya segera melarikan diri sebelum sosok yang tertawa menangkap mereka.


Kebetulan saat itu Ayah Huang yang hendak menyambut Putra-Putri kesayangannya juga mendengarnya. Hanya dia sebagai kepala keluarga yang mengetahui rahasia di balik halaman tersegel. Tentu ia juga tau siapa pelaku di balik tawa mengerikan itu. Teringat olehnya bahwa satu Putranya yang lain telah di tumbalkan untuk hantu, ada kekosongan dalam hatinya saat mengingat ia takkan lagi melihat sosok pemuda yang wajahnya serupa dengannya.


"Haih..."

__ADS_1


"Apa yang Kau pikirkan? Ayo temui Huang Yi Ke dan Huang Yi Zhao! Suara mobil mereka telah terdengar di depan!" Istrinya menginterupsi Ayah Huang yang melamun.


__ADS_2