Benang Merah

Benang Merah
Chapter 32


__ADS_3

Chapter 32. Rev


"Hei bola bulu, bangunlah... Ini sudah larut, mari kita tidur." Hu Lei menguap saat ia membangunkan Huang Yi Zhen yang tertidur di sofa.


Huang Yi Zhen bangun lalu merenggangkan tubuh kucingnya. Kemudian merubah bentuknya ke bentuk manusia. Ia juga menguap karna memang sudah mengantuk. "Oh... Sudah larut ya...? Kalau begitu aku permisi Nona Hu."


Huang Yi Zhen berjalan menuju pintu keluar. Namun sebuah benda dingin menyentuh lehernya. "Jika kau bergerak maju, aku yakin hidupmu akan berakhir."


Huang Yi Zhen tidak bisa tidak gugup. Di satu sisi jika ia tidak kembali ke apartemennya sendiri, akan di anggap tidak sopan karna tinggal dengan wanita lajang di atap yang sama. Di satu sisi ia tidak bisa pergi karna pisau perak itu bisa menebasnya kapan saja.


Hu Lei menggunakan tangannya yang lain untuk mengusap pucuk kepala Huang Yi Zhen. Huang Yi Zhen merasa semakin gugup, sebab tangannya tidak seperti mengusap biasa. "Kucingku... Lihat kalung ini... Apa yang tertulis di sana...?"


Huang Yi Zhen terdiam, meski Hu Lei seolah memeluk nya dari belakang, ia tidak berani bergerak atau berbicara. "Jawab!"


Pisau perak itu kembali mendekat ke leher Huang Yi Zhen. "M.. milik... Hu Lei."


"Pintar, itu artinya kau tidak boleh pergi tanpa izinku." Pisau di lemparkan dan Hu Lei berpindah ke depan menarik kerah depan pakaian Huang Yi Zhen. Sehingga Huang Yi Zhen menunduk dan wajah mereka ada di posisi berdekatan.


Huang Yi Zhen menatap bibir mungil berwarna merah ceri. Bibirnya yang terlihat basah dan lembab memberi dorongan ingin menciumnya. Huang Yi Zhen menepis pikirannya, kemudian mencoba untuk melepaskan diri.


Namun Tindakan Hu Lei yang selanjutnya membuat pupilnya menyempit karna terkejut. Bibir merah ceri itu membungkus bibirnya, lidah mungil yang bergerak menggoda lidahnya, hal itu semua membuat tubuh Huang Yi Zhen menegang. Dalam ingatannya Huang Yi Zhen tidak pernah berciuman.


Rasa manis dari lidah mungil Hu Lei secara tidak sadar membuatnya merasakan haus. Tindakan itu membuat Huang Yi Zhen berada di ambang Rasionalitas. Baginya sesuatu yang intim seperti ciuman hanya boleh di lakukan oleh suami istri yang sudah menikah.


"Apa yang membuatmu tidak nyaman huh? Santai saja dan nikmati permainan ini." Ujar Hu Lei.

__ADS_1


Hu Lei sendiri tidak mengerti mengapa ia melakukan hal ini. Itu adalah dorongan dari hatinya, lagi pula Pria ini adalah miliknya, pikir Hu Lei. Huang Yi Zhen menjelaskan pikirannya. "Tapi.. aku dan Nona Hu bukan suami istri..."


Hu Lei tau apa yang di katakan Huang Yi Zhen adalah kebenaran. Namun hati kecilnya entah mengapa tidak menerima penolakan halus Huang Yi Zhen. Ia selalu merasa Huang Yi Zhen adalah miliknya, tidak peduli apakah ia hidup ataupun mati.


Karna kesal, Hu Lei menarik lengan Huang Yi Zhen. Huang Yi Zhen merubah dirinya ke bentuk kucing kecil. Hu Lei tampak lebih kesal lagi. Ia memegang Anak kucing itu dengan perasaan marah. Kucing itu di cengkram lehernya oleh Hu Lei.


Dengan kucing di tangan kanannya dan pisau perak di tangan kirinya, Hu Lei meletakkan Huang Yi Zhen di tepi tempat tidurnya. "Dengarkan aku kucing kecil, jika kau tidak berubah segera aku, akan memotong sepasang bola ini."


Hu Lei mengetuk ngetuk bola-bola si kucing jantan dengan pisau peraknya. "Oke-oke jauhkan pisaumu!"


Huang Yi Zhen menutupi bola-bolanya dengan ekornya yang panjang. Hu Lei menjauhkan pisau itu dari Huang Yi Zhen. Huang Yi Zhen merubah penampilannya ke bentuk manusia. Hu Lei yang mencekik lehernya dari atas terlihat cantik di mata Huang Yi Zhen.


Posisi mereka saat ini membuat Huang Yi Zhen tidak bisa berpikir jernih. Warna pada wajahnya sudah berubah merah hingga ke batang lehernya. Keringat dingin mengalir di telapak tangan Huang Yi Zhen. "Eh.... Nona Hu.. ini tidak baik..."


Hu Lei terpikir cara lain untuk menggoda pria pemalu ini. Hu Lei mendekati kepala Huang Yi Zhen dan mengigit telinga kucing di Kapala Huang Yi Zhen. Mata Pria yang terpejam itu terbuka, pupil vertikalnya tampak menyihir. "No.. Nona Hu....?"


Huang Yi Zhen mulai merasa tidak nyaman. Telinganya yang di gigit itu terasa geli dan panas. Tidak berhenti, psikopat manis itu juga menggenggam pucuk ekor kucing Huang Yi Zhen. "Aa... Nona... Huu..."


Tindakan Hu Lei dapat memancing api yang besar. Namun Huang Yi Zhen masih memegang erat rasionalitasnya. Ia tidak mungkin menuruti keinginan Nona psikopat ini. Lagi pula ini melanggar prinsipnya. Hal hal intim seperti ini tidak bisa di lakukan sembarangan! Paling tidak itu harus di lakukan dengan pasangan resmi, bukan pasangan tidak jelas seperti mereka.


Huang Yi Zhen membalikkan posisi, Hu Lei cukup terkejut karna tindakan tiba-tiba Huang Yi Zhen. Huang Yi Zhen dengan cekatan membungkus tubuh mungil Hu Lei dengan sprei di kasur. "Maafkan aku karna menolak niat baik mu, itu di luar prinsipku."


Ujar Huang Yi Zhen sambil mengusap kepala Hu Lei yang sengaja di biarkan keluar dari bungkusan sprei. "Kamu hanya memilikiku sebagai kucing, tapi tidak memiliki aku sebagai manusia. Kalau begitu sampai jumpa..."


Huang Yi Zhen sudah mengambil ancang-ancang dan segera berlari secepat yang ia bisa. Ia berlari dengan kecepatan tinggi dalam bentuk kucing. Ia kabur dari Apartemen dan berlari menuju stasiun.

__ADS_1


"Aku rasa kau kabur pun tidak ada gunanya..." Wanita tua muncul dan mengikuti Huang Yi Zhen yang berlari.


"Aku tau! sekarang dia pasti sedang mengasah pisau... Bahkan jika tertangkap lagi, aku tidak peduli. Aku hanya ingin bersembunyi. Mengapa karakter Hu Lei begitu mengerikan."


Wanita tua mengangkat bahu. "Lalu kemana kau akan pergi?"


"Rumah keluarga Huang." Jawab Huang Yi Zhen sambil memasuki kereta ekspress menuju rumah keluarga besar Huang.


Wanita tua yang tau keseluruhan takdir di dunia kecil menyeringai. Huang Yi Zhen memperhatikan perubahan wajah Wanita tua. "Ada apa? Apa ada yang salah dengan keluarga Huang?"


Wanita tua tertawa kecil. "Bukan apa-apa, aku hanya berharap semoga kau bersenang-senang sesampainya di sana nanti."


Huang Yi Zhen merasa bahwa ini bukan hal baik. Di sisi lain Hu Lei yang di ikat bergerak-gerak seperti ulat di atas tempat tidurnya. Hu Lei menggenggam kedua tangannya. "Haaaah... Jangan pikir gulungan ini bisa menghentikan ku!"


Dengan sekuat tenaganya ia mencoba melepaskan diri. Semakin ia mengamuk semakin seratnya sobek. Hu Lei yang terbebas dari gulungan kain yang melilitnya, mengepalkan tangannya. "HUANG YI ZHEEEN!!!"


Teriakannya di tengah malam membuat beberapa tetangga terganggu. Kemudian teleponnya berdering. Hu Lei menjawab telponnya. "Xiao Lei, Putra kami sudah pulang. Aku tidak tau apa yang terjadi padanya, tapi wajahnya tampak panik dan kelelahan. Saat di tanyai wajahnya memerah."


Perasaan puas muncul di hati kecil Hu Lei. Ia mengatur pernafasannya dan berkata pada orang di sebrang telepon. "Oh syukurlah... Lalu apa aku harus datang besok Bu?"


Orang di sebrang telpon menjawab dengan nada senang. "Ya, semakin cepat semakin baik. Aku takut Putraku akan kembali lagi bersama ****** kecil itu"


Suaranya berbeda dengan yang pertama. Jika yang pertama adalah Ibu tua, maka yang ini adalah Bapak tua. "Kalian tenang saja, saat Kak Yi Zhen dan aku menikah nanti. Aku akan membuatnya bahagia hingga ia melupakan ****** kecil itu."


Suara Hu Lei terdengar meyakinkan namun sedikit misterius. Membuat pasangan Tua di sebrang telpon merasa senang. "Baiklah, cepatlah datang dan kami akan segera mengatur tanggal untuk pernikahanmu dan Huang Yi Zhen."

__ADS_1


__ADS_2