Benang Merah

Benang Merah
Chapter 64


__ADS_3

Chapter 64


"Bagus, aku menyukai penurut, tunduklah padaku dan cintai aku. Wahaha..."


Itu adalah hari berikutnya saat Hu Lei bangun dan berpikir bahwa ramuannya berkerja. Ia berdiri di depan mulut gua, di latar belakangi cahaya matahari, ia menguji kepatuhan Huang Yi Zhen dan Huang Yi Bao. Reaksi yang normal adalah korban akan menuruti segala keinginan Rubah serta selalu memikirkan Rubah yang memberikan mantra dan ramuan kepada korban.


Namun situasi di hadapan Hu Lei sedikit berbeda dari bayangannya. Hu Lei tidak dapat menyebutkan bagian mana yang membuatnya tidak puas, tapi ia sangat yakin kalau ada yang berbeda.


Huang Yi Zhen dan Huang Yi Bao mati-matian menahan tawanya. Ekspresi Hu Lei yang berpikir telah mengendalikan segalanya sangat lucu untuk di lihat. "Oke, kita berbenah lalu pergi ke rumah orang tuaku. Huang Yi Zhen, ingatlah satu hal. Kamu adalah kekasihku, katakan itu jika ada yang menanyai siapa dirimu. "


Huang Yi Zhen mengangguk-anggukkan kepalanya dengan gerakan kaku. "Dan Huang Yi Bao, bertingkah lah seperti biasa. Buatlah Orang tuaku menyukaimu, dengan begitu kau tidak akan di tolak ketika kita menjadi keluarga. "


Mencontoh Ayahnya, Huang Yi Bao hanya mengangguk kaku sebagai persetujuan. "Kalau begitu berbenahlah Kalian, aku akan pergi mandi di sungai. "


Begitu Hu Lei pergi, meledaklah tawa yang sedari tadi tertahan. Huang Yi Zhen tertawa hingga perutnya terasa sakit. Ia menyeka air mata di sudut matanya. Lalu mengambil Huang Yi Bao ke tangannya. Huang Yi Bao menatap Ayahnya. "Berhenti berpura-pura, aku tau itu kau, Pengaturan dunia. Sebenarnya apa yang kau lakukan?"


Huang Yi Bao mengangkat bahu. "Apa lagi yang kulakukan? Tentu saja bermain sambil menikmati waktu terakhir kalian di duniaku. Setelah dunia ke tujuh berakhir, aku akan melepaskan kalian dan kita tidak akan bertemu lagi. "


Kalimat yang di keluarkan Pengaturan dunia, terdengar dingin dan kesepian. "Mari pikirkan akhir itu nanti saja. Ini baru setengah jalan. Bersenang-senang saja..."


Huang Yi Zhen berkata sambil mengusap helaian bulu kepala Huang Yi Bao. "Berbenahlah, atau Rubahmu datang dan menyadari kau sebenarnya tidak terpengaruh oleh mantranya. Heh, aku yakin dia akan kehilangan kepercayaan diri jika ia tau."


"Berhenti mengoceh, aku bisa mengurus urusanku sendiri." Huang Yi Zhen mulai membenahi barang-barangnya yang berserakan di Gua.


Saat selesai, Huang Yi Bao merasakan suasana hati Huang Yi Zhen telah berubah. Bahkan ada kegugupan dalam tingkah lakunya. "Kau gugup? Wajar saja sih, ini pertama kalinya di tujuh dunia kau akan bertemu orang tua Hu Lei."


Pengaturan dunia menaiki kaki Huang Yi Zhen, lalu mulai memanjat ke bahu Huang Yi Zhen. Saat berhasil ia menepuk-nepuk rambut Huang Yi Zhen dengan cakar kecilnya. "Yakinlah dengan dirimu, kau adalah serigala yang perkasa, jangan gugup hanya karna berhadapan dengan rubah."


"Aku tau, jangan berisik. Serta, ingatlah untuk terus berpura-pura, jika tidak kau akan di cap sebagai anak tidak sopan nanti." Ujar Huang Yi Zhen sembari mengusap kepala Huang Yi Bao.

__ADS_1


Mereka melangkah ke depan gua. Genangan air dan tanah yang lembab membuat Huang Yi Zhen tidak terlalu senang. Lalu ia menemukan sebuah batu besar yang tertimpa cahaya Matahari. Dengan duduk di atas batu itu, ia menunggu Hu Lei.


"Hei, jika seandainya ingatanku telah kembali, akankah kita dapat bertemu lagi?" Huang Yi Zhen bertanya sambil membaringkan tubuhnya di batu besar itu.


Kucing kecil melingkarkan tubuhnya di atas perut Huang Yi Zhen. "Mungkin, suatu saat nanti. " Ujarnya.


"Ayo kita berangkat." Hu Lei datang setelah segar.


"Apa perlu ku gendong? Seperti kemarin?" Huang Yi Zhen bertanya.


Hu Lei berpikir sejenak. "Tidak perlu, setelah melewati gunung ini, kita akan sampai di tepi desa. Dari situ kita lanjutkan perjalanan dengan mobil."


"Baiklah..." Huang Yi Zhen tersenyum lembut. Lalu mengulurkan tangannya. Hu Lei tidak mengerti itu. "Kamu bilang kita adalah kekasih, genggamlah tanganku saat engkau berjalan."


Huang Yi Bao yang telah di masukkan ke saku kemeja Ayahnya, mengeluarkan kepalanya untuk mengintip situasi. Hu Lei bingung dan kecurigaannya meningkat, tapi ia tetap menggenggam tangan Huang Yi Zhen. Tanpa sadar senyuman terbentuk di wajah cantiknya. Mulutnya terbuka dan bergumam. "Dengan begini, kamu tidak akan meninggalkanku lagi..."


Lalu ia tersentak kebingungan. "Aneh mengapa aku berkata lagi?"


"Ah! Anakku! Kau telah kembali nak? Katakan apakah pemuda ini kekasihmu?" Itu adalah kalimat pertama yang di katakan Ibunya Hu Lei, saat melihat Huang Yi Zhen.


"Benar, aku dan Xiao Lei adalah sepasang kekasih. Aku Huang Yi Zhen, salam kenal Bibi."


Ibunya Hu Lei menyambut Huang Yi Zhen dengan bahagia. Lalu Huang Yi Bao ikut memperkenalkan diri. "Dan aku Huang Yi Bao! Salam kenal Nenek!"


"Waah ada bayi kucing yang lucu! Siapa dia?"


Huang Yi Zhen menjawab dengan gugup. "Itu... Dia adalah Putraku. Istriku telah meninggal. Aku dan Putraku hidup bersama dengan saling bergantung satu sama lain. Aku tidak bisa meninggalkannya."


"Aduh... Kasihan, kamu masih begitu kecil nak."

__ADS_1


Huang Yi Bao melompat turun ke tanah lalu merubah dirinya ke bentuk manusia. Yang entah bagaimana telah berpakaian. Huang Yi Zhen meyakini itu adalah trik Pengaturan Dunia. "Aku sudah besar Nenek"


Rupa manusia Huang Yi Bao tampak seperti berusia sepuluh tahun. "Uhuk... Kamu anak yang manis, kemarilah, Kakek selalu ingin memiliki cucu laki-laki."


Kakek tua datang dengan sebuah kursi roda. Huang Yi Zhen menuntun Putranya ke sisi Ayahnya Hu Lei. Sementara para Pria berbincang hangat, Ibunya Hu Lei memegang tangan Hu Lei lalu menyeret Hu Lei ke pojok.


"Kamu tidak merebut suami orang bukan? Ibu senang kamu menyukai Serigala yang kuat, tapi jika engkau dapat dengan merebut dia, Ibu tidak suka" Ibunya Hu Lei berkata dengan berbisik.


"Ibu tenang saja... meski aku memakai Mantra rahasia milik kita, coba Ibu perhatikan mereka berdua, tidak ada tanda-tanda orang yang terkena mantra. Dan aku tidak merebut dia, kami mengenal setelah Istrinya meninggal dunia. Dia tertarik kepada tokoku karna aroma masakanku. "


Ibu Hu menganggukkan kepala dengan mata menyipit. Lalu tersenyum. "Baguslah jika begitu! Lagi pula Ibu menyukai anak kucing itu, dia manis dan lucu. Kau berurusan saja dengan Pria itu, Ibu akan berurusan dengan Putranya. "


Sudah lama sekali sejak terakhir kali Ayah dan Ibu Hu merawat anak kecil. Meski itu anak kucing, mereka tetap akan menyayanginya. Bahkan jika itu bukan cucu kandung mereka. Saat itu Huang Yi Zhen yang sedang berbincang dengan calon Mertua, di panggil oleh Hu Lei.


Hu Lei menepuk bahunya, lalu berkata. "Sayang, biarkan Bao Bao bersama Ayah dan Ibu. Mari ikut aku, aku akan menunjukkan desa Rubah ini kepadamu."


"Baik..." Entah mengapa Huang Yi Zhen merasakan firasat buruk. Namun ia masih mengangguk dan mengikuti keinginan Bu Lei untuk pergi.


Hu Lei menggandeng tangan Huang Yi Zhen di sepanjang jalan. Huang Yi Zhen meningkatkan kewaspadaannya, setiap sudut jalanan ia akan mengamatinya. Hu Lei tau kalau apa yang ia katakan tidaklah di dengarkan, maka ia menyeret Huang Yi Zhen ke salah satu pohon besar yang ada di sekitar.


Dengan menghentakkan punggung Huang Yi Zhen ke batang pohon ia mulai berkata. "Kau tidak terpengaruh oleh mantraku ya? Apakah mantraku tidak Kuat?"


Huang Yi Zhen melihat kekesalan dan ketidakpercayaan diri yang melintas di sepasang mata Hu Lei. Huang Yi Zhen menggenggam Benang merah yang mengikat jarinya dan Hu Lei. Dengan mengalirkan energinya ke dalamnya ia berkata. "Rasakan, tidakkah kau merasakannya?"


Wajah Huang Yi Zhen sedikit memerah saat itu. Melihat Hu Lei yang diam saja, ia menggenggam telapak tangan Hu Lei yang lebih kecil dari telapak tangannya. "Dengarkan aku. Sejak awal, kau dan aku telah di ikat oleh benang merah ini. Tanpa mantramu, aku sudah menjadi milikmu. Tanpa kau tau, sejak awal aku sudah di takdirkan untukmu. Aku tidak akan pergi tanpamu, atau meninggalkanmu. Sejak awal hatiku telah jadi milikmu."


Huang Yi Zhen mendeklarasikan isi hatinya kepada wanita yang di cintainya. Huang Yi Zhen merasa kalau ini bukan pertama kalinya ia menyatakan cinta. Tapi tetap saja hatinya gugup seperti anak remaja.


Saat itu Hu Lei merasakan lagi arus hangat yang sama seperti di kehidupan sebelumnya, muncul menyelimuti kepalanya. Terasa nyaman. Huang Yi Zhen memberikan senyuman. Hu Lei memeluk Huang Yi Zhen. Ia ingin merasakan rasa nyaman itu di pelukan Pria favoritnya.

__ADS_1


Huang Yi Zhen tak lagi gugup, namun ia sangat senang hingga sepasang telinga dan ekornya muncul. Ekor serigala itu bergoyang seperti baling-baling kipas. Hu Lei hanya tertawa kecil saat melihatnya.


__ADS_2