Benang Merah

Benang Merah
Chapter 25


__ADS_3

Chapter 25 Rev


Namun perutnya yang berbunyi mengingatkannya agar segera makan. Namun mengingat makanan di rumah, mau tidak mau ia kembali menahan rasa mual. Huang Yi Zhen menahan tubuhnya dengan bersandar ke dinding.


Sebuah selendang merah menyapu wajahnya, aroma khas selendang itu membuat Huang Yi Zhen terjaga. Selendang itu melambai-lambai seperti mengajak Huang Yi Zhen ikut dengannya. Huang Yi Zhen mengikuti selendang itu ke pinggiran hutan.


Tepat di tepi sungai, ada buah-buah beri dan ikan berenang yang tampak segar. Tepat di bawah pohon rindang, di tepi sungai, Huang Yi Zhen duduk sambil menangkap ikan, dengan lengan yang separuhnya berubah menjadi cakar.


Melihat ada cakar yang bukan milik manusia, sosok yang berdiri di belakang pohon sedikit terkejut. Namun keterkejutannya tidak berlangsung lama, itu berubah menjadi senyum kaku yang di miliki wajah dinginnya.


Huang Yi Zhen bisa berubah menjadi kucing atau bentuk terkait kucing. Namun ia tidak dapat menyalakan api spiritual miliknya setelah memasuki dunia kecil. Ia secara alami akan memilih untuk memakan ikan itu mentah-mentah, lagi pula pada dasarnya ia adalah kucing.


Kucing itu berbaring dengan perut bulat yang menghadap ke langit. Suasana hangat matahari pagi membuat Huang Yi Zhen terlelap. Kucing hitam itu mendengkur perlahan. Sosok gadis berpakaian merah itu menatap Huang Yi Zhen yang sedang tidur.


"Aku harap... Kamu bisa menyelamatkan aku.... Aku tidak ingat siapa diriku... Tapi aku akan mengingat semuanya jika aku kembali ke tubuhku... Bantu aku... " Bisik gadis itu ke telinga kucing yang sudah tidur.


Huang Yi Zhen tertidur namun ia bisa mendengar dengan baik. Suaranya terdengar familiar. Huang Yi Zhen menggali ingatan pemilik tubuh asli. Ternyata itu adalah teman masa kecilnya, dan dia bernama Hu Lei!


Huang Yi Zhen bersemangat ketika mengetahui ini. Namun semangatnya kembali padam ketika dia berpikir dimana tepatnya dia bisa menemukan Hu Lei ini. "Ah sudahlah, pikirkan nanti saja, sekarang pulang saja dulu."


Huang Yi Zhen pulang dalam bentuk manusia, saat ia melewati kuil ia melihat lagi gadis yang terbaring di peti. Tapi yang membuatnya takut adalah lukisan pria tua itu sepertinya menatapnya!


Huang Yi Zhen segera berlari ke rumah. Hari sudah menjelang siang. Untungnya Huang Yi Zhen sudah membawa ikan, untuk di makan di siang hari dan malam hari. Huang Yi Zhen merasakan perasaan dingin di seluruh tubuhnya setelah ia memasuki rumah.

__ADS_1


Bagian interior rumah yang remang-remang membuat Huang Yi Zhen mulai melihat sosok -sosok lagi. Huang Yi Zhen menahan diri, agar emosinya tidak terlalu berfluktuasi. Jika ia terlalu takut, maka ia bisa saja berubah menjadi kucing. Akan baik-baik saja jika tidak ada orang yang melihatnya, jika ada? Dia mungkin akan di arak keliling desa lalu di bakar!


Tiba-tiba ada tangan yang menarik Huang Yi Zhen ke ruangan khusus yang berwarna merah. "Yi Zhen, dengarkan Ibu dan Ayah Nak."


Wajah Ayah dan Ibu Huang tampak pias. Huang Yi Zhen tidak mengerti apa yang terjadi, namun ia menduga bahwa pasangan Huang baru saja melihat sesuatu. "Ada apa Bu?"


Ibu Huang mengusap kepala Huang Yi Zhen. "Nak, apa kamu masih mengingat Keluarga Hu?"


Huang Yi Zhen mengangguk setelah mengingatnya dalam ingatan pemilik tubuh asli. "Mereka di datangi hantu tua pada malam saat Festival Qing Ming. Hantu tua itu mengaku dia adalah Dewa! Kemudian dia mencari Pria muda. Dia bilang bahwa dia akan membaptis Pria muda itu. Namun tidak ada Pria muda yang sesuai dengan kriterianya. Sampai ia melihatmu di sore hari saat kepulanganmu."


"Untuk apa dia mencari Pria muda Bu?"


"Ibu tidak yakin, tapi korbannya bukan hanya kamu Nak. Hu Lei dari keluarga Hu juga di jadikan korban. Hantu tua itu ingin hidup kembali, ia ingin tubuh Hu Lei sebagai wadahnya."


Huang Yi Zhen tidak yakin mengapa hantu itu membutuhkan Pria muda. Namun Huang Yi Zhen yakin sekali kalau hantu itu adalah hantu yang bersemayam di belakang gunung. "Aku akan mencoba untuk tidak keluar."


"Dan berhati hati dengan Adikmu, kami semua di sini tau siapa dia sebenarnya."


Huang Yi Zhen merasakan gejolak amarah dari dasar hatinya. Huang Yi Zhen merasa bahwa itu mungkin adalah rasa marah dari pemilik tubuh asli. "Apa maksud Ibu?! Jangan bercanda! Xiao Chi begitu baik hati dan pengasih, jangan menuduhnya yang tidak-tidak!"


Huang Yi Zhen keluar dari kamar merah dengan marah. Huang Yi Zhen mendengus kesal saat melemparkan dirinya ke tempat tidurnya. Huang Yi Zhen merasakan tempat tidur nya dinaiki orang lain. Huang Yi Zhen menguburkan kepalanya diantara lengannya, tidak ingin melihat siapa yang duduk di sisinya.


Namun Huang Yi Zhen merasakan hawa dingin yang membuat bulu Romanya meremang. 'Sesuatu' itu mengusap kepala Huang Yi Zhen. Tiba-tiba pintu kamar Huang Yi Zhen yang tertutup terbuka. Hal itu membuat hawa dingin di sekitar tubuh Huang Yi Zhen menghilang.

__ADS_1


"Kak... Apa Kakak sudah makan?"


Huang Yi Zhen tidak bergerak ataupun menyahut. Huang Chi mendekati Huang Yi Zhen untuk melihat lebih dekat. "Hm... Ternyata Kakak tertidur..."


Huang Yi Zhen tidak dapat melihat seperti apa wajah Huang Chi. Namun dirinya secara pribadi merasakan perasaan takut alami. Tangan Huang Chi yang mengusap rambutnya serasa seperti guillotine yang siap memenggal kepalanya.


"Hoam..." Huang Yi Zhen bangun dan merenggangkan tubuhnya. Kemudian berpura-pura terkejut saat melihat Adiknya.


"Xiao Chi? Ada apa?"


Huang Chi tersenyum manis dan berkata dengan suara halus. "Aku sudah membuatkan makanan, aku ingin Kakak makan. Lagi pula Kakak belum makan siang kan?"


Mengingat tampilan makanan di pagi hari, secara alami Huang Yi Zhen akan merasakan mualnya kembali. "Kakak tenang saja, masakanku sangat 'normal' kok."


Huang Yi Zhen tidak punya pilihan selain mengangguk. Huang Chi mengajaknya ke ruang makan. Huang Yi Zhen tidak menemukan Ayah dan Ibu Huang di manapun. Seperti mengerti apa yang di pikirkan Huang Yi Zhen, Huang Chi berkata. "Ayah dan Ibu sedang berdoa di kuil besar di belakang gunung, jadi hanya ada kita di rumah."


Huang Yi Zhen tidak bisa tidak merinding saat Huang Chi menegaskan kata 'kita'. Rasanya Huang Chi yang ada di depannya bukanlah Huang Chi yang dia lihat di ingatan pemilik tubuh asli.


Huang Yi Zhen melirik piring yang di sodorkan kepadanya. Isinya benar-benar normal, tidak ada masalah. Dan itu adalah makanan olahan ikan yang sangat Huang Yi Zhen sukai. "Makanlah selagi hangat."


Kucing adalah mahluk yang paling serakah. Terutama dalam hal makanan. Melihat makanan kesukaannya terhidang di depannya, tentu saja Huang Yi Zhen akan membersihkan piring itu hingga bersih kembali.


"Apa kamu bodoh? Haih... seharusnya aku tidak berharap besar padamu, kucing serakah." Wanita tua itu muncul lagi secara tiba-tiba, membuat Huang Yi Zhen hampir saja tersedak.

__ADS_1


Huang Yi Zhen menoleh ke arah wanita tua. Alisnya terangkat sebelah menandakan bahwa ia sedang bingung. Senyum wanita tua itu tampaknya di penuhi kekecewaan. Saat itulah Huang Yi Zhen mencium aroma aneh yang seharusnya tidak ada di dalam makanan dari piringnya. Di saat berikutnya Huang Yi Zhen jatuh tak sadarkan diri.


__ADS_2