
Chapter 33 Rev
Rumah keluarga Huang terletak di kawasan vila elite di kota. Huang Yi Zhen benar-benar merasa nyaman setelah pulang ke rumah keluarga Huang. Ibu Huang baru saja mengajaknya untuk sarapan. Meski ia tidak terlalu menyukai menu makanannya, namun kehangatan dan kebaikan yang di tawarkan keluarga Huang membuatnya sangat nyaman.
"Yi Zhen... Ayah akan pergi memancing, apa kau ingin ikut?"
"Memangnya ada sungai di kota? Aku tidak terlalu menyukai pemancingan. Aku lebih suka air yang mengalir."
Ayah Huang tampak berpikir sebentar. Kemudian ia berkata. "Ada! Kita akan ke ujung kota, sedikit jauh namun aman. Ada sungai di sana, sungainya juga indah dan jernih."
Huang Yi Zhen mengangguk-angguk. "Kalau begitu kita kesana."
Ayah dan anak Huang pergi memancing bersama dengan menaiki sebuah mobil. Sepasang Ayah dan anak itu saling membicarakan banyak hal seputar ikan atau memancing. Bagi Huang Yi Zhen hal ini benar-benar menyenangkan. Memancing dan ikan adalah hal yang menjadi satu kesatuan dengan kucing.
Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mencapai lokasi memancing. Huang Yi Zhen ketiduran karna kenyamanan yang di berikan cahaya matahari. Ayah Huang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sesekali ia mengusap kepala Putra tunggalnya. Ia tersenyum saat mengingat bahwa Putra tunggalnya akan menikah sebentar lagi.
Saat mobil menepi, Ayah Huang menepuk bahu Huang Yi Zhen. "Bangunlah Nak, kita sudah sampai."
Huang Yi Zhen menguap, kemudian meregangkan tubuhnya. Mengikuti Ayah Huang, ia turun dari mobil dan pemandangan sungai yang indah menyambut matanya.
"Wah!" Seru Huang Yi Zhen.
Dalam hatinya dia benar-benar ingin melompat ke sungai dalam bentuk kucing, dan menangkap ikan dengan mulutnya. Namun itu hanya angan-angan belaka. Ada Ayahnya dan supir di sekitarnya, tidak mungkin ia bisa berubah sesuka hatinya.
__ADS_1
Ayah Huang memperhatikan ada yang salah dengan ekspresi putranya. Ia melambaikan tangannya. "Yi Zhen, ayo kemari Ayah membawa pancing lebih, Pak supir ayo temani kami memancing."
Pak supir adalah supir pribadi keluarga Huang. Yang usianya mungkin hanya lebih tua beberapa tahun dari Huang Yi Zhen. Huang Yi Zhen duduk di sisi Ayah Huang dan memancing bersama.
Jauh di rumah keluarga Huang, keluarga besar sedang berkumpul. Mereka membahas hal yang sama, yaitu hari pernikahan Huang Yi Zhen dengan Hu Lei. Ada senyum manis terbit di wajah Hu Lei, tapi saat mengingat Huang Yi Zhen yang membuatnya seperti ulat, Hu Lei bersumpah akan membalaskan dendamnya saat mereka telah menjadi suami istri.
"Xiao Lei, bagaimana pendapatmu tentang Yi Zhen? Aku khawatir kau malah tidak menyukainya setelah menikah." Ibu Huang bertanya pada calon menantunya.
"Ibu tenang saja, aku sangat menyukai Kak Yi Zhen lebih dari apapun." Hu Lei berkata dengan senyum tulus.
Senyum itu membuat Ibu Huang Lega. Dalam hatinya ia sangat senang bahwa Putra tunggalnya di serahkan pada orang yang tepat. Hu Lei adalah gadis yang baik dan hebat dalam pandangan Ibu Huang. Hu Lei juga teman masa kecil Huang Yi Zhen, jadi Ibu Huang pikir mungkin mereka akan jadi pasangan yang baik kelak.
Tepat sebelum makan siang di sajikan, Huang Yi Zhen dan Ayah Huang pulang ke rumah Keluarga Huang. Huang Yi Zhen berlari ke dapur, ia ingin menu makan siangnya adalah makanan yang berbahan dasar ikan. Namun betapa terkejutnya ia saat mendapati Hu Lei yang berkutat di dapur.
Nada bicara yang di penuhi penekanan membuat Huang Yi Zhen merinding. Seolah-olah Hu Lei berucap 'kita akan mengurus semuanya nanti'. Mengingat hal yang Huang Yi Zhen lakukan kemarin, sejujurnya ia sedikit takut. Ayah Huang datang, ia tertawa saat melihat keterkejutan di mata Putranya.
"Yi Zhen ada apa dengan mu? Berikan Ikannya pada Xiao Lei, agar dia bisa memasaknya."
Huang Yi Zhen meneguk ludah, kemudian memberikan ikan hasil pancingannya dengan Ayah Huang. Huang Yi Zhen dengan cepat meninggalkan Hu Lei setelah memberikan ikan. Ayah Huang memperhatikannya namun salah mengartikan tingkah Huang Yi Zhen sebagai malu.
Sambil menunggu makan siang selesai, Huang Yi Zhen menonton televisi bersama sepupunya. Karna Rumah Huang di penuhi dengan keluarga besar, ia merasa senang. Ada sepupunya yang masih kecil, Huang Yi Zhen menyukai nya. Mereka memiliki kesukaan yang sama. Film kesukaan mereka sama, yaitu acara kucing mengejar tikus.
Huang Yi Zhen menyukai film ini sejak ia memasuki dunia ke dua. Tentunya sebagai sesama kucing ia lebih mendukung kucing itu di bandingkan tikus yang nakal. Para sepupunya menyukai Huang Yi Zhen seperti menyukai Kakak atau Ayah mereka. Huang Yi Zhen juga menyayangi semua seperti mereka adalah saudara.
__ADS_1
Ayah Huang berkata pada Hu Lei. "Lihat itu, Yi Zhen sangat menyukai anak-anak. Jika kalian sudah menikah nanti, buatlah anak secepatnya."
Hu Lei hanya tertawa kecil dengan wajah merah muda. Di ikuti oleh Ayah dan ibu Huang yang tertawa senang. Paman dan Bibi Huang juga senang akhirnya keponakan mereka akan menikah. Akhirnya waktu makan siang yang di tunggu-tunggu tiba.
Para keluarga sengaja menyisakan bangku di samping Hu Lei untuk Huang Yi Zhen. Huang Yi Zhen menelan rasa takut alaminya jauh ke perutnya. Mungkin karna dendam Hu Lei memasak makanan pedas khusus untuk Huang Yi Zhen. Huang Yi Zhen tertipu oleh banyaknya ikan di dalam makanannya.
Tak lama kemudian, perutnya terasa seperti di aduk-aduk. Saat melirik Hu Lei, Hu Lei memberikan senyuman yang bukan senyuman. Mulut mungilnya melengkung, namun matanya tidak, matanya di penuhi oleh dendam.
"Aku sudah selesai." Huang Yi Zhen berdiri dari tempat duduknya.
"Ada apa denganmu nak? Makanlah lebih banyak, ini menu kesukaanmu kan?" Ujar Ibu Huang.
Huang Yi Zhen mengangkat lengannya untuk membicarakan sesuatu. Namun perutnya yang terasa menyakitkan membuatnya segera berlari. Di sela larinya Huang Yi Zhen berkata. "Perutku tidak sehat, aku butuh toilet!"
Ruang makan di penuhi tawa keluarga Huang. Setelah makan, para wanita dari Keluarga Huang merapikan meja makan, para pria menonton televisi. Saat Hu Lei ingin membantu, Ibu Huang melarangnya dan meminta Hu Lei untuk memanggil Huang Yi Zhen.
Huang Yi Zhen yang sudah berbolak-balik dari toilet belasan kali, meminum obat sakit perut. Dengan itu perutnya terasa lebih nyaman. Setelah meminum seteguk air, Huang Yi Zhen merasakan aura tidak nyaman di belakangnya.
Hu Lei meraih kerah kemeja Huang Yi Zhen. Membukanya dengan paksa, ada senyum puas saat melihat kalung kucing itu masih di leher Huang Yi Zhen. "Kucing pintar, bagaimana rasa makanan penuh cinta dariku, heh?"
Huang Yi Zhen meneguk ludah kasar. Terdengar suara 'gluk' dari lehernya. Hu Lei menyeringai. "Cepatlah ke ruang keluarga, keluarga Huang ingin bicara denganmu."
Hu Lei berjalan lebih dulu. Huang Yi Zhen membenarkan pakaiannya yang berantakan. Huang Yi Zhen sudah menduga akan seperti ini. Namun ia tidak tau apa yang akan di bicarakan keluarga Huang untuknya. "Apa yang akan kita bicarakan?"
__ADS_1
Hu Lei berbalik, "Apa lagi? Tentu saja pernikahan kita."