
Chapter 46
Huang Yi Zhen yang baru saja keluar hutan segera berubah ke bentuk manusia. Lalu berjalan menuju tempat yang Hu Lei sebutkan. Hu Lei melihat pemuda yang penampilannya acak-acakan, beberapa dauh hijau bahkan menyangkut di rambutnya. Dan lengan atasnya tergores ranting. Itu karna Huang Yi Zhen terlalu bersemangat.
"Ku lihat sepertinya Bai Li Zhi pergi dengan mobilnya, jadi nanti pulang denganku saja. Ayo masuk ke mobil. "
Huang Yi Zhen memasuki mobil Hu Lei. Huang Yi Zhen duduk di kursi penumpang, di bagian belakang. Lalu mengatur nafasnya yang terburu-buru. Hu Lei duduk di kursi kemudi, ia berbalik ke belakang sebelum berangkat. Lalu mengambil dedaunan yang menyangkut di rambut Huang Yi Zhen.
Melihat pakaian Huang Yi Zhen yang tidak terlalu rapi, Hu Lei bertanya. "Apa kau memerlukan baju ganti?"
"Tidak, aku akan bertemu Ibu dalam wujud kucing" ujar Huang Yi Zhen.
Huang Yi Zhen merasa tidak bisa diam. Karna terlalu bersemangat, telinga dan ekor kucingnya sudah muncul. Ia memeluk ekornya sebagai antisipasi. Tak lama dari tempat mereka bertemu, mobil segera sampai tujuan.
"Kita sampai"
Huang Yi Zhen berubah menjadi kucing lalu melompat ke pelukan Hu Lei. Hu Lei mengusap kepala kucing kecil. Setelah melalui gerbang, mereka segera memasuki rumah. Huang Yi Zhen mencium Aroma yang terasa menyenangkan di hidung kecilnya.
Ia segera melompat dari tangan Hu Lei. Dan berlari menuju pemilik aroma itu. Yang ia temukan di ujung jalan adalah, seorang wanita yang sedang menyirami bunga di rumah kaca.
Kucing kecil itu melangkahkan kakinya mendekati Ibu Huang. Ibu Huang melihat kucing kecil yang terasa familiar. Huang Yi Zhen berubah ke bentuk manusia. Air matanya menetes begitu saja, itu adalah kehendak pemilik tubuh asli. Wanita itu tampak terkejut. Meski ia tidak mengenal pemuda di depannya, ia mengenal aroma nya. Aroma pemuda itu adalah Aroma dari putranya.
"Ibu?... Apa... Apakah kau adalah Ibuku?" Huang Yi Zhen tidak melakukan apapun, yang menggerakkan tubuhnya kini adalah jiwa Pemilik tubuh asli yang hampir menghilang.
Wanita itu segera mendekap pemuda yang sedikit lebih tinggi darinya, dengan sebuah pelukan hangat yang terasa nyaman. Meski kini yang mengendalikan tubuh adalah Pemilik tubuh asli, kehangatan dari pelukan itu sampai ke Huang Yi Zhen.
"Rasanya hangat dan nyaman..." Gumam Huang Yi Zhen.
Wanita tua bersama Huang Yi Zhen. "Benarkah begitu?"
"Benar, kurasa memiliki keluarga itu menyenangkan. "
__ADS_1
"Jika kau ingin ingat bagaimana rasanya, berjuanglah. Begitu dunia ke tujuh selesai, semua juga akan berakhir." Wanita tua berkata dengan senyum yang seolah di paksakan.
Huang Yi Zhen menatap Wanita tua yang perlahan menghilang. Huang Yi Zhen merasakan rasa dingin dan kesepian dari Wanita Tua. Mungkinkah sebenarnya wanita tua tak sejahat yang ia pikirkan? Ada begitu banyak teka-teki tak terjawab di kepalanya.
Huang Yi Zhen masih membiarkan pemilik tubuh asli melepas kepuasannya. Sampai Hu Lei datang, Pemilik tubuh asli pemalu. Wajahnya memerah saat mengingat semua yang Ibu tirinya lakukan kepadanya. Ia bersembunyi di balik Ibu kandungnya.
Hu Lei menatap Huang Yi Zhen dengan tatapan aneh. Melihat tingkah Huang Yi Zhen, Hu Lei membatin. 'kenapa Pria ini rasanya berbeda?'
"Ada apa Xiao Lei?"
"Paman Ye berkata sudah hampir jam makan siang, jadi aku datang untuk mengajak Kakak Mao untuk memasak. " Ujar Hu Lei.
Hu Lei merasa tidak nyaman dengan Huang Yi Zhen yang sekarang. Ia segera pergi setelah mengatakan tujuannya. "Ya, aku akan menyusul nanti"
Ibu Huang menatap putranya yang berwajah merah. Dari Hu Lei, ia tau kalau putranya adalah seorang pemalu, Ibu Huang mengusap kepala putranya. "Ibu akan pergi memasak, apakah Yi Zhen ingin sesuatu?"
"Ikan!"
"Hehe... Memang kucing ternyata." Ibu Huang mengusap wajah putranya sekali lagi sebelum pergi.
Lalu menggambarkan perasaan senangnya saat bertemu sang Ibu. Di lanjutkan perasaan malu dan takutnya kepada Hu Lei di halaman berikutnya. Lalu ia mulai menghilang sepenuhnya. Saat Huang Yi Zhen melihat gambar yang di tinggalkan pemilik tubuh asli, ia tak bisa tidak tertawa saat melihat gambar Hu Lei.
Ia tau kalau Pemilik tubuh asli adalah seorang pria pemalu. Namun tidak menyangka kalau pemilik tubuh asli juga seorang penakut. Ia menggambarkan Hu Lei sebagai seorang Monster besar, yang akan memakan kucing kecil. Lalu melihat lukisan yang mungkin di maksudkan untuknya. Itu adalah sebuah gambar dua ekor kucing yang berbagi ikan bersama.
Huang Yi Zhen melihat seekor kucing tampak berbulu dan gelap. Sedangkan yang satunya tampak berbulu pendek dengan empat cakar putih. Dengan berbagi Ikan, Huang Yi Zhen sedikit mengerti apa yang di sampaikan pemilik tubuh asli. Ia mengoyak dua gambar tersebut dan menyimpannya untuk dirinya sendiri.
Huang Yi Zhen berjalan-jalan di sekitar rumah kaca. Meski tak sebesar rumah keluarga Huang, tempat ini masih tempat yang nyaman. Huang Yi Zhen melihat kolam ikan dengan air terjun buatan yang indah. Huang Yi Zhen duduk di sisi kolam untuk melihat ikan. Jantungnya kembali berdenyut.
Ini mengingatkan Huang Yi Zhen bahwa kematiannya mungkin akan segera datang. Hu Lei melihat Huang Yi Zhen yang membelakanginya. Ia menepuk bahu Huang Yi Zhen, itu membuat pria itu ketakutan hingga hampir memasuki kolam. Melihat hanya wajah pias yang di kenalnya, barulah Hu Lei merasa nyaman. Namun saat melihat tangan Huang Yi Zhen yang meremat area jantung, wajah Hu Lei menghitam.
Hu Lei memikirkan racun itu. Ia segera membawa Huang Yi Zhen ke sisi kerabat dekatnya, Paman Ye. "I-ibu tiri... Kita akan kemana?"
__ADS_1
"Kita akan bertemu dengan kenalanku itu, mungkin dia bisa membantu kita mengeluarkan racun di tubuhmu."
Huang Yi Zhen segera mengerti apa yang membuat Hu Lei Khawatir. Jauh di dalam hatinya, Huang Yi Zhen memang merasa terlalu sayang untuk meninggalkan Hu Lei. Meski Hu Lei sedikit buruk, ia tak berniat jahat. Huang Yi Zhen juga menyukai karakternya.
"Paman Ye, coba bantu aku melihat sesuatu...."
Dari kalimat Hu Lei, Huang Yi Zhen tau kalau yang di panggil Paman Ye adalah seorang pria. Namun ia tidak menyangka apa yang di lihatnya. Dalam sekali lihat Huang Yi Zhen juga tau kalau Paman Ye ini seorang laki-laki. Tapi penampilannya terlalu tidak meyakinkan.
Wajahnya terlalu cantik untuk di katakan tampan. Tubuhnya terlalu ramping untuk seorang pria. Dan Paman Ye ini terlalu feminim untuk di katakan seorang pria. "Namanya Ye Li Hui, dia adalah Pamanku."
"Jangan terpesona oleh keindahan ku anak muda, aku ini seorang pria... sekarang katakan apa yang membuat keponakanku berteriak?" Meski cantik, pria ini cukup narsis.
"Paman, bisakah membantuku membuang racun di tubuh kucing ini untukku?"
Ye Li Hui melirik Huang Yi Zhen. Ekspresinya tampak pahit saat melihat begitu banyak racun yang menelan jantungnya. "Paman aku mengandalkanmu, aku akan membantu Kak Mao dulu..."
Hu Lei meninggalkan dua pria itu, saat melihat ekspresi pahit Pamannya. Yang di takuti Hu Lei saat ini adalah kata tidak dari mulut Pamannya. Hu Lei segera pergi ke sisi Ibu Huang.
"Aku tau, tanpa kau mengatakannya aku tau. Terlalu mustahil untuk membuang racunnya." Ujar Huang Yi Zhen.
Paman Ye sedikit terkejut dengan ujaran Huang Yi Zhen. "Kamu menyadari keberadaan racun itu? Mengapa tidak mengeluarkannya lebih cepat? "
"Aku baru mengetahuinya belakangan ini. Tak ada yang bisa ku lakukan, aku baru menyadarinya saat racun hampir memakan jantungku. Katakan saja padaku kapan kematian ku datang." Ujarnya.
"Ku perkirakan itu malam ini... " Ujar Paman Ye dengan helaan nafas panjang.
"Bisakah Paman memperpanjang kehidupanku sampai hari esok berakhir?" Huang Yi Zhen bertanya. Setidaknya ia ingin menghabiskan waktu terakhirnya dengan Hu Lei.
"Tentu, tapi ingat aku hanya bisa memperpanjang hingga sore hari esok. Tapi itu bisa semakin singkat jika jantungmu terstimulasi oleh hal lain. Jadi jangan biarkan jantungmu berdebar secara berlebihan."
Huang Yi Zhen mengangguk. "Bisakah Paman menambahkan ilusi? Agar Ibu tiri tidak dapat melihat racun itu dalam tubuhku?"
__ADS_1
"Sihir ilusi sudah seperti makanan sehari-hari bagi suku Rubah. Serahkan saja padaku."
Di sisi lain Ibu Huang telah menyelesaikan masakannya dengan Hu Lei. Makanan di meja telah tersusun rapi dan terlihat sedap di pandang dan menggiurkan. Kedua pria dengan tinggi yang berbeda juga telah menampakkan diri di pintu ruang makan. Yang tersisa hanyalah menyantap makan siang yang menyenangkan bersama.