Benih Ayah Mertua

Benih Ayah Mertua
Bab 21: Yunita di Klab Malam


__ADS_3

Beberapa petugas keamanan klab datang memisahkan Arjun dan pengunjung lain yang tengah tibut. Keduanya masih berusaha membangkang hendak kembali saling serang. Padahal wajah mereka sudah penuh dengan luka lebam.


"Anda sudah terlalu mabuk, Pak. Lebih baik Anda istrirahat dan menenangkan diri di kamar," ucap salah seorang petugas keamanan yang memegangi tangan Arjun setengah menariknya.


"Sialan! Kenapa kamu ikut campur, hah? Mau cari gara-gara denganku?" maki Arjun.


Petugas keamanan itu menghela napas mencoba mengabaikan provokasi yang Arjun berikan. Kalau tidak ingat ia sedang bekerja, mungkin Arjun sudah ia buat masuk rumah sakit.


Bekerja di klab malam selalu membuatnya emosi dengan tingkah pengunjungnya yang beragam. Terlebih mereka yang memang datang sengaja untuk mabuk dan mencari ribut.


"Antar dia ke salah satu kamar di atas. Dia bilang mau dipesankan kamar kalau terlalu mabuk," kata Bendi menghampiri Arjun.


"Heh! Bartender gila. Bilang padanya untuk melepaskanku sekarang!" ucap Arjun kepada Bendi.


"Pak, silakan Anda naik ke atas dan beristirahat. Tidak ada gunanya mencari ribut di sini kecuali ingin masuk ke dalam bui," kata Bendi.


"Hahaha ...." Arjun menertawakan nasihat Bendi dengan kondisi mabuk. "Kamu pikir aku takut? Hidupku saja sudah lebih mengerikan dari bui!"


Bendi menggeleng-gelengkan kepalanya. "Cepat bawa dia. Kalau susah pukul saja sampai pingsan biar mudah dibawa," katanya.

__ADS_1


Bendi kembali menuju ke meja bartender menjumpai pelanggannya yang lain. Sementara, Arjun terus dipaksa oleh petugas keamanan untuk naim ke atas. Lelaki itu terus merancu berteriak memaki siapa saja secara random.


"Orang ini menyusahkan saja!" gerutu si petugas keamanan.


"Loh, Arjun!" seru Yunita yang kebetulan lewat setelah mengantarkan pesanan di salah satu kamar.


Ia terkejut melihat Arjun ada di sana terlebih dengan kondisi babak belur dan mabuk berat sampai diseret-seret petugas keamanan.


Sebenarnya pemandangan lelaki mabuk dan membuat onar sudah hal biasa ia saksikan di sana. Hanya saja, yang ia lihat kali ini adalah Arjun. Sosok lelaki yang selalu tampil sebagai orang baik, tidak pernah macam-macam, secara tiba-tiba ada di klab malam dan menjadi pemicu keributan. Ia masih keheranan.


"Kamu kenal dia?" tanya petugas keamanan.


"Kalau begitu, bantu aku mengurusnya!" perintah si petugas keamanan.


Yunita membuntuti mereka masuk ke sebuah ruangan. Secara kasar si petugas keamanan menjatuhkan Arjun ke ranjang.


"Sisanya aku serahkan padamu, ya! Dia sunggu sangat merepotkan!"


Si petugas keamanan kembali menggerutu sebelum meninggalkan mereka.

__ADS_1


Yunita memperhatikan secara seksama lelaki yang tengah terbaring di atas ranjang. Ia masih ingin memastikan kalau itu benar-benar Arjun, suami sahabatnya.


"Hah! Kamu juga kerja di sini?" tanya Arjun. Meskipun mabuk, ia masih memiliki kesadaran untuk mengenali wanita di hadapannya.


Yunita tampak lain dari biasanya. Wanita itu tampil dengan dandanan yang menor dan berpakaian minim serta ketat. Persis seperti seorang wanita penghibur.


"Aku sudah pernah bilang padamu kalau waktuku sudah habis untuk bekerja dari pagi hingga malam. Hutang yang harus aku bayar banyak, Jun," kata Yunita.


Sebenarnya ia sangat malu bertemu dengan orang yang ia kenal di sana. Ia tahu pekerjaannya pasti terlihat buruk di mata orang lain. Meskipun dijelaskan bahwa ia hanya menjadi pelayan di sana, mungkin tidak akan ada yang percaya.


Bagi Yunita anggapan orang lain tak begitu penting untuk dirinya. Ia masih bertahan tidak menjual diri hanya karena himpitan hutang. Meski harus banting tulang dari pagi sampai ketemu pagi lagi, ia jalani dengan sabar. Bahkan ayahnya yang tak kunjung berubah masih ia yakini suatu saat bisa bertaubat.


🤎


🤎


🤎


__ADS_1


__ADS_2