Benih Ayah Mertua

Benih Ayah Mertua
Bab 25: Perasaan Arjun


__ADS_3

"Ini kamu di sini sendirian? Masa pelayan tidak ada yang menemani kamu di sini?" tanya Tante Gina.


"Ada kok, Tante. Bi Minah semalam sudah menemani aku di sini sampai pagi."


"Lalu, dimana dia sekarang? Kami datang tidak ada siapa-siapa di sini yang harusnya menyiapkan minum atau apa untuk kami yang datang pagi-pagi," ujar Tante Gina.


Rima hanya tersenyum kaku. Ia memang menyuruh pelayan dan sopirnya pulang untuk istirahat. Mereka sejak semalam belum tidur karena mengkhawatirkan dirinya.


"Aku minta maaf ya, Tante. Kata perawat belum boleh turun dari atas ranjang soalnya semalam sempat pendarahan," ucap Rima. Kalau mampu, ia sebenarnya ingin menjamu kedua tantenya yang memang terkenal cerewet itu.


"Bukan kamu yang aku maksud, Rima, tapi pelayan ... Keluarga juga tidak ada yang menjaga sampai pelayan dan sopir di rumah tidak ada yang inisiatif untuk menjagamu di sini. Kalau kamu butuh apa-apa kan repot," kata Tante Gina.


"Apa yang Gina bilang itu benar. Tega sekali mereka," sahut Tante Sania.


"Aku yang menyuruh mereka pulang dulu, Tante. Tapi nanti juga akan ada pelayan lain yang datang. Sekalian membawakan baju ganti untukku," kata Rima.


Brak!


Pintu kamar terbuka dengan keras membuat ketiga wanita itu sontak kaget dan menoleh ke arah pintu. Terlihat Arjun berdiri di sana dengan penampilan yang lumayan acakan-acakan mengenakan kemeja yang kemarin dipakai.


"Anak ini, istrinya melahirkan malah baru pulang!" gerutu Tante Gina.


"Kamu dari mana saja, Mas? Anak kita sudah lahir," kata Rima.

__ADS_1


Arjun berjalan mendekat ke arah Rima yang masih terbaring di atas ranjangnya. Wanita itu tersenyum lega melihat sang suami telah pulang dengan selamat.


Saat melihat kondisi Arjun dari dekat yang ada luka di sudut bibirnya, senyum Rima hilang. "Mas, wajahmu kenapa?" tanyanya.


Arjun duduk di kursi samping sang istri. Ia mengusap kepala sang istri sembari mengulaskan senyum yang terlihat dipaksakan.


"Tidak apa-apa. Hanya ada sedikit ribut dengan orang," kata Arjun.


"Semalam kamu dimana sampai istrimu melahirkan tidak tahu?" omel Tante Gina.


"Kamu kalau istri hamil tua itu harusnya sudah siap siaga, Jun! Bisa-bisanya melewatkan momen mendampingi istri yang melahirkan," tambah Tante Sania.


"Sudah, Tante. Yang penting Mas Arjun juga sudah datang. Mas Arjun memang akhir-akhir ini sibuk dengan pekerjaannya. Iya kan, Mas?" Rima mencoba membela sang suami di depan tante-tantenya.


"Kamu bau alkohol. Jangan-jangan semalam kamu mabuk-mabukkan! Kamu ribut dengan orang ya, di sana?" sindir Tante Sania.


"Apa Tante bisa berhenti bicara?" tanya Arjun. Ia sangat terganggu dengan kebisingan yang dibuat oleh kedua tantenya.


"Semalam aku juga sudah mengirim pesan tidak bisa pulang kan? Aku sibuk kerja di kantor. Ada banyak proyek yang harus aku selesaikan," kilah Arjun.


Rima tersenyum. "Iya, Mas. Tidak apa-apa. Aku percaya padamu. Yang penting, Renjun juga sudah lahir dengan selamat. Kamu juga pulang dengan selamat, aku sangat bersyukur."


Rima merasa belum tepat saatnya menanyakan kondisi sang suami. Arjun terlihat tidak begitu bahagia meskipun tahu ia telah melahirkan.

__ADS_1


"Dimana bayinya?" tanya Arjun.


"Dia ada di ruangan khusus bayi. Apa kamu mau melihatnya?" tanya Rima.


Arjun mengangguk. "Kalau begitu, aku ke sana dulu, ya!" ucapnya seraya mencium kening sang istri.


Rima dan kedua tantenya melihat kepergian Arjun dengan perasaan aneh. Lelaki itu tidak seperti baru pulang dari lembur kerja tapi lebih cocok baru pulang dari klab malam.


"Arjun kok jadi aneh begitu," lirih Tante Gina.


"Kalian ada masalah apa?" tanya Tante Sania.


"Kami tidak ada masalah, Tante. Mungkin Mas Arjun hanya kelelahan saja."


"Masa kamu sama sekali tidak curiga? Suamimu semalam pasti habis mabuk, dia sangat bau alkohol," ujar Tante Gina.


"Mungkin dia minum-minum dengan rekan bisnisnya, Tante."


Rima masih berusaha membela sang suami. Sebagai orang yang juga berkecimpung di dunia bisnis, ia juga paham kalau pertemuan para pengusaha terkadang tidak lepas dari masalah minuman keras.


"Kalau kumpul dengan rekan bisnisnya kok sampai wajahnya babak belur begitu. Aku rasa dia dari klab malam," kata Sania.


Rima hanya terdiam. Ia tak percaya jika suaminya bersikap seperti yang kedua tantenya katakan.

__ADS_1


"Hati-hati saja kamu, Rima ... Lelaki memang sering kali melakukan kekhilafan. Apalagi melihat kondisi istri yang pasca melahirkan. Biasanya yang kurang kuat iman bisa mencari pelampiasan."


Ucapan Tante Gina meskipun pedas namun membuat Rima takut. Ia benar-benar takut Arjun akan berpaling kepada wanita lain setelah apa yang diusahakannya. Ia ingin hamil agar bisa diterima dengan baik oleh Arjun dan keluarganya. Jika sampai Arjun berpaling, maka ia merasa semuanya akan sia-sia saja.


__ADS_2