
Dalam keheningan kamar apartemen yang terang, Rima dan Sandi duduk berdampingan di ranjang, terlihat sangat mesra. Keduanya dalam kondisi yang polos setelah melakukan percintaan. Sandi tampak memeluk erat Rima.
"Kenapa kamu selalu memanggilku untuk datang, Pa? Renjun masih sakit di rumah sakit," keluh Rima dengan wajah penuh kekhawatiran.
Sandi tersenyum, meraih tangan Rima dan mengusapnya lembut. "Maafkan aku, Sayang. Aku merindukanmu begitu banyak. Aku tidak bisa menahan diri."
Rima menghela napas, menggelengkan kepala dengan kebingungan. "Bisakah kamu menghormati situasi ini? Renjun sedang berjuang untuk kesembuhannya. Aku harus fokus padanya."
Namun, Sandi terlihat santai dan tak terpengaruh oleh situasi yang sedang dialami keluarga mereka. "Tenang saja, Sayang. Semuanya akan baik-baik saja. Kita harus menikmati waktu bersama."
Rima menatap Sandi dengan perasaan campur aduk. Seolah-olah ada kekosongan di hatinya yang tumbuh dengan cepat. "Aku merasa telat datang bulan dan aku khawatir aku akan hamil."
Sandi terkejut sejenak, tetapi segera menampilkan senyum percaya diri di wajahnya. "Bukankah itu berita bagus?" katanya dengan enteng.
Rima agak kesal mendengar perkataan Sandi. "Kenapa Papa begitu santai bicara seperti itu? Jangan-jangan Papa sudah tahu," tebaknya.
__ADS_1
Keduanya saling bertatapan sambil terdiam sejenak. Rima sepertinya tahu kenapa hal itu terjadi.
"Obat apa yang Papa berikan waktu itu?" tanyanya dengan nada serius.
Sandi masih tak membuka mulutnya.
"Pa!" bentak Rima. "Apa mungkin obat yang Papa bilang untuk KB ternyata adalah obat penyubur kandungan?" tebaknya lagi.
Semenjak menjalin hubungan kembali dengan Sandi, Rima sudah sangat berhati-hati agar hubungan mereka tidak membuahkan kesalahan seperti sebelumnya. Ia selalu rutin mengkonsumsi pil KB agar tidak hamil untuk kedua kalinya. Memiliki Renjun, benih dari lelaki itu sudah membuatnya tersiksa untuk terus-menerus berbohong.
Sandi hanya tersenyum kecil. "Maafkan aku, Sayang. Ternyata kamu akhirnya menyadari hal itu." tanpa rasa bersalah ia membelai rambut Rima.
Rima berusaha menyingkirkan tangan itu darinya.
"Semua ini juga gara-gara kamu. Kalau saja kamu tidak sulit untuk meluangkan waktu bersamaku, aku tidak akan melakukan hal ini," kata Sandi tanpa beban. "Kalau aku berhasil menghamilimu, setidaknya kamu akan kembali mengingat bahwa akulah orang yang selalu menanamkan benih di rahimmu, bukan suamimu."
__ADS_1
Rima mengusap kasar wajahnya. Ia tidak menyangka akan begitu ceroboh seperti itu.
"Lagipula, untuk apa kamu khawatir? Arjun akan senang dengan berita kehamilanmu."
Rima tak merespon ucapan Sandi. Pikirannya sangat kacau dengan kondisinya saat ini. Ia sangat yakin bahwa kali ini ia benar-benar sedang hamil. Beberapa hari belakangan ia kerap merasa mual di pagi hari seperti kehamilannya yang sebelumnya.
"Sudahlah, kamu itu terlalu banyak berpikir. Jalani saja apa adanya. Toh ini juga menyenangkan karena kamu bisa punya anak meskipun sebenarnya suamimu mandul," ledek Sandi.
"Keluarga mereka hanya perlu penerus. Jangan sampai mereka tahu kalau suamimu sebenarnya mandul. Nanti mereka bisa syok, Rima," lanjut Sandi.
Rima merasa lelah dengan semua itu. Ia bangkit dari ranjang, menepis tangan Sandi yang hendak mencegahnya pergi.
Dengan tubuh polosnya, ia berjalan menuju ke arah kamar mandi di kamar itu. Ia ingin segera membersihkan sisa-sisa kotoran yang menempel di tubuhnya bersama lelaki itu.
Saat guyuran air kran membasahi tubunnya, air mata juga turut mengalir dari sudut matanya. Rima merasa semakin berdosa kepada Arjun.
__ADS_1
***