
Yunita membawa Renjun ke taman kota yang terletak dekat dengan rumah majikannya. Renjun terlihat senang saat Yunita menarik tangan kecilnya dan membawanya berlari di atas rerumputan hijau yang lembut. Beberapa anak lain sedang bermain di taman, berlari-lari mengejar satu sama lain, dan bersenang-senang.
"Renjun, apa kamu ingin bermain bola?" tanya Yunita pada anak kecil itu, sambil mengeluarkan bola dari tasnya.
Renjun mengangguk cepat dan dengan senang hati menerima bola itu dari tangan Yunita. Dia berjalan ke tengah lapangan dan menginjak bola dengan keceriaan. Yunita melihatnya dengan bangga dan tersenyum.
"Kamu sangat pintar bermain bola, Renjun," kata Yunita dengan penuh semangat. "Suatu saat kamu pasti akan menjadi pemain bola yang hebat."
Renjun tertawa gembira dan bola terus menggelinding di antara mereka. Mereka bermain dengan senang hati, Renjun mencoba menendang bola dan Yunita membiarkannya bergerak sebentar sebelum menendang kembali.
"Yunita!"
Tiba-tiba, mereka terganggu oleh suara seseorang yang memanggil Yunita. Yunita berbalik dan melihat ayahnya yang pemabuk berjalan ke arah mereka.
"Yunita, apa kabarmu, sayang?" sapa ayah Yunita sambil tersenyum lebar.
"Baik," jawab Yunita singkat dan menatap ayahnya dengan ragu. Ia tidak ingin memperlihatkan ketidaknyamanannya pada Renjun yang masih kecil.
__ADS_1
"Aku datang untuk meminta tolong padamu," kata ayah Yunita tiba-tiba.
"Apa itu, ayah?" tanya Yunita. Ia sudah merasa tidak enak dengan perkataan ayahnya.
"Ah, siapa anak ini?" tanya ayah Yunita yang baru saja menyadari keberadaan anak itu.
Renjun sepertinya takut dengan ayah Yunita. Anak itu melepaskan bolanya dan berlari seraya bersembunyi di balik tubuh Yunita. Perlahan ia mengintip memperhatikan sosok lelaki yang menyeramkan baginya.
"Tidak apa-apa, Renjun," kata Yunita menenangkan anak itu. Lirikan mata Yunita mengarah tajam ke arah ayahnya. "Tadi ayah mau minta bantuan apa?" tanyanya. Ia tak ingin lagi berbasa-basi.
"Ayah butuh uang, Yunita. Tolong berikan uang untuk ayah."
"Ayah, aku tidak bisa memberikan uang padamu," jawab Yunita.
"Kenapa? Aku ini kan ayahmu sendiri. Jangan pelit pada ayahmu ini," kata ayah Yunita dengan sedikit kesal.
"Aku tidak ingin memberikan uang untuk hal-hal yang tidak bermanfaat, ayah," jawab Yunita dengan tenang.
__ADS_1
"Kamu mulai kurang ajar ya, Yunita! Ayah membutuhkan uang itu. Jika kamu tidak memberikannya, ayah akan membawa kabur anak itu!" ancam ayah Yunita sembari menunjuk-nunjuk ke arah Renjun.
Renjun tak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh ayah Yunita dan Yunita, tetapi ia merasa ada yang tidak beres dengan suasana hati Yunita. Ia merangkul kaki Yunita dan menatap ayah Yunita dengan wajah yang polos.
Yunita merasa takut dan tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak ingin menyerahkan uangnya, tetapi ia juga tidak ingin merugikan Renjun. Akhirnya, Yunita terpaksa menyerahkan uang pada ayahnya dengan hati berat.
"Baiklah, ayah, aku akan memberikan uang padamu. Tapi, jangan lagi meminta uang padaku, ayah. Uang tidak bisa menyelesaikan masalahmu," kata Yunita dengan tegas.
Ayah Yunita menerima uang tersebut dan pergi begitu saja, tanpa menatap Yunita dan Renjun lagi. Ia sudah bahagia bisa mendapatkan apa yang diinginkannya.
Yunita merasa sedih dan marah pada ayahnya. Ia tahu ayahnya hanya akan menggunakannya untuk hal-hal yang tidak baik. Namun, ia juga merasa senang bahwa Renjun tidak terluka.
"Maafkan aku, Renjun. Aku tidak tahu harus berbuat apa," kata Yunita sambil mengusap rambut Renjun dengan lembut.
Renjun hanya tersenyum dan mengangguk kecil, tidak tahu betul apa yang sedang terjadi. Tetapi, ia merasa aman dengan kehadiran Yunita yang selalu ada di sisinya.
***
__ADS_1