Benih Ayah Mertua

Benih Ayah Mertua
Bab 75


__ADS_3

Yunita duduk di ruangan interogasi yang terang benderang, dihadapkan oleh dua penyidik yang duduk di sisi meja yang sama. Suasana ruangan hening, hanya terdengar suara pemoles pena yang bergerak di atas kertas ketika salah satu penyidik mulai menulis catatan.


"Baik, Nyonya Yunita. Kami menghargai kerjasama Anda. Kami ingin memahami situasi ini dengan sejelas mungkin. Jadi, apakah Anda bisa memberi kami gambaran lengkap tentang apa yang terjadi malam itu?" tanya Pak Ali.


"Tentu, Pak. Sebelumnya memang saya yang berinisiatif menemui Pak Sandi di kantornya. Beliau mengajak saya ke apartemen miliknya untuk berbicara secara pribadi," kata Yunita.


"Apa yang terjadi setelah itu?" telisik Pak Ali.


Yunita terdiam sesaat. "Saya meminta Beliau untuk menjauhi teman saya, Rima," katanya.


"Oh, jadi, kalian berteman?" tanya Pak Ali.


Yunita mengangguk.


"Lantas, kenapa kamu meminta korban untuk menjauhi pelaku?"


Yunita kembali terdiam. Ia bingung untuk bercerita karena menyangkut aib keluarga. "Sebenarnya, Pak Sandi itu ayah mertua Rima, Pak. Mereka punya hubungan terlarang. Pak Sandi selalu memaksa Rima untuk melayani na fsu bejatnya. Makanya saya menyuruh dia menjauhi Rima."

__ADS_1


Penyidik merasa terkejut dengan keterangan yang diberikan Yunita. "Silakan lanjutkan!"


"Pak Sandi marah, Pak. Dia mau membunuh saya. Kalau tidak percaya, leher saya sampai merah bekas cekikannya," kata Yunita sambil memperlihatkan luka di lehernya. "Saya juga mau diperk osa. Untung Rima datang tepat waktu."


Penyidik mangguk-mangguk mendengar cerita dari Yunita.


"Saat mau menolong saya, Rima didorong sampai kepalanya membentur meja. Karena merasa panik, ia mengambil stik golf dan memukuli Pak Sandi beberapa kali," terang Yunita.


Penyidik menghela napas. "Kepalanya sampai hampir hancur kalau kamu mau tahu. Sepertinya pelaku memang berniat untuk mencelakai korban," ujar Pak Ali.


"Apakah Anda melihat apa pun setelah itu? Apakah Rima atau Anda melakukan tindakan lain?"


"Tidak, setelah Pak Sandi terjatuh ke lantai, Rima sangat terkejut dengan apa yang terjadi. Dia tidak dapat mengendalikan dirinya dan hanya berdiri di sana dengan tatapan kosong. Saya mencoba memanggil bantuan dan segera menyadari bahwa Pak Sandi tidak bernyawa. Saya tidak tahu apa yang harus dilakukan," jawab Yunita.


"Apakah Anda yakin bahwa tidak ada tindakan lain yang terjadi setelah itu? Apakah Rima atau Anda berkomunikasi dengan pihak lain, atau mungkin mencoba menghilangkan jejak?" desak sang penyidik.


Yunita menghela napas panjang. "Tidak, Pak! Kami benar-benar tidak melakukan apa pun setelah kejadian itu. Kami panik dan hanya berfokus untuk mencari bantuan. Kami tidak punya niat untuk menyembunyikan apa pun atau melibatkan pihak lain. Kalau berniat lari, untuk apa juga saya lapor polisi?" tanyanya kesal.

__ADS_1


"Baik, Nyonya Yunita. Terima kasih atas kerjasama Anda. Kami akan mempertimbangkan semua informasi yang Anda berikan. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, kami akan menghubungi Anda."


Yunita mengangguk dengan lemas, terlihat lega setelah membagikan keterangannya. Dia merasa lega bahwa dia telah memberikan semua informasi yang dia miliki, berharap bahwa itu akan membantu memahami apa yang terjadi.


"Yunita, satu pertanyaan terakhir sebelum kami selesai. Apakah Anda mengetahui apapun yang mungkin menjadi motif atau alasan di balik tindakan Sandi untuk melecehkan Rima?"


Yunita merenung sejenak. "Saya tidak yakin dengan pasti apa yang ada di pikiran Pak Sandi. Namun, dari apa yang Rima ceritakan kepada saya, Pak Sandi merasa memiliki hak atas Rima karena suatu rahasia. Dia merasa Rima harus meninggalkan Arjun dan hidup bersamanya."


"Pemahaman Anda sangat berharga, Yunita. Kami akan melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan bahwa semua aspek kasus ini terungkap. Jika ada yang perlu Anda tambahkan atau jika Anda mengingat informasi lain yang mungkin relevan, silakan beritahu kami."


"Tentu, saya akan berusaha mengingat lebih banyak detail jika ada. Saya hanya ingin memastikan bahwa kebenaran terungkap dan Rima tidak dihukum atas tindakan membela diri yang dia lakukan," kata Yunita.


"Kami juga berusaha untuk mencari kebenaran dalam kasus ini, dan itulah mengapa kami perlu menyelidiki setiap aspek dengan seksama. Terima kasih atas kerjasama Anda, Yunita. Kami akan segera menghubungi Anda jika ada perkembangan lebih lanjut."


Yunita mengangguk dengan pengertian. Dia merasakan campuran perasaan lega dan cemas. Lega karena dia telah memberikan keterangan yang jujur ​​dan membantu proses penyelidikan. Namun, dia masih khawatir tentang nasib Rima, karena kondisi emosional dan mental yang dia alami.


Setelah Yunita keluar dari ruang interogasi, detektif-detective itu kembali bertukar pandangan yang penuh kekhawatiran. Mereka menyadari bahwa kasus ini lebih kompleks daripada yang mereka bayangkan, dan bahwa keadaan mental Rima akan menjadi faktor yang signifikan dalam proses penyelidikan selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2