Benih Ayah Mertua

Benih Ayah Mertua
Bab 68


__ADS_3

"Sandi, rasa-rasanya semakin hari kamu semakin terlihat muda," puji Arman sembari menyeruput kopinya.


"Kamu benar. Bukannya bertambah tua setelah menikah dengan pasangan yang lebih tua, Sandi yang sekarang kelihatan semakin muda. Kita yang seumuran saja jadi timpang kalau berkumpul dengannya," sambung Broto.


"Tapi, sejak di bangku kuliah juga Sandi sudah tampan. Wajar kalau sekarang ketampanannya masih terjaga," ujar Metha.


Sandi tersenyum senang ada orang yang memuji penampilannya.


Siang ini ia menyempatkan diri bertemu dengan teman-teman lamanya untuk menikmati waktu istirahat bekerja sembari menikmati kopi.


"Metha, kamu juga dulu suka dengan Sandi, kan? Sayang sekali kalian tidak berjodoh," kata Broto.


"Dulu Sandi masih kere, Bro. Mana mau Metha sama lelaki miskin," sahut Arman.


Metha langsung melotot ke arah Arman. Meskipun mereka sudah berusia 40an, tetapi saat berkumpul mereka menjadi merasa muda.


"Jangan kasar begitu menyindir Metha, nanti dia kabur. Hahaha ...." Broto tertawa melihat Metha memukul Arman.


"Aduh! Siapa yang sedang menyindir? Itu memang kenyataan. Metha nikah dengan kakek-kakek usia 70 tahunan," kata Arman.

__ADS_1


"Apa, sih! Sirik aja! Yang penting sekarang aku lebih kaya dari kamu!" kata Metha dengan nada tinggi. Ia sangat kesal dengan Arman.


"Ya, kaya raya setelah suamimu meninggal, kan? Tapi, kamu nggak meracun si kakek itu, kan?" tanya Arman.


"Enak saja! Aku tidak mungkin berbuat kriminal. Suamiku meninggal secara alami karena usia," kata Metha.


"Kamu juga sudah cukup lama jadi janda kan, Metha? Memangnya tidak ada niat nikah lagi?" tanya Broto.


"Dia masih nunggu Sandi. Sayangnya Sandi sudah menikah sekarang. Walaupun istrinya lebih tua tapi awet muda dan cantik," kata Arman.


Raut muka Metha berubah kesal.


"Selain itu, istri Sandi kan juga kaya raya. Apa lagi yang kurang, coba? Sandi sudah hidup nyaman sekarang. Metha, kamu menyerah saja," ujar Arman.


"Sudah, sudah, kalian kenapa jadi ribut? Mending kita makan, pesanannya sudah datang," kata Sandi yang melihat dua orang pelayan berjalan ke arah mereka.


"San, sebenarnya kamu nikah dengan istrimu itu karena cinta atau karena harta?" celetuk Arman.


"Heh! Sembarangan kalau bicara!" Broto memukul kepala temannya yang sejak dulu suka ceplas-ceplos.

__ADS_1


Sandi terlihat santai menyikapinya. Ia bahkan tersenyum mendengar pertanyaan itu. "Memang apa salahnya menikah karena harta? Semua orang punya pilihan hidup masing-masing," katanya.


"Tuh dengerin kamu, Arman! Sukanya mengejek orang!" kata Metha yang merasa senang Sandi memiliki pemikiran sama dengannya.


"Nggak usah meninggikan suara kenapa, sih? Bisa budeg aku!" keluh Arman.


"Istrimu kayaknya sudah nggak mungkin hamil ya, San? Kamu nggak mau punya anak?" tanya Broto.


Sandi hanya tersenyum-senyum sembari menikmati makanannya.


"Kalau sudah sukses dan bahagia, anak bukan lagi prioritas kalau kalian mau tahu," kata Metha. Ia sendiri selama menikah dengan lelaki yang jauh lebih tua darinya memutuskan untuk tidak memiliki anak. Ia selalu mengkonsumsi obat pencegah kehamilan agar tidak mengandung benih dari lelaki tua yang dinikahinya.


"Wah, kalau semua orang kaya childfree, siapa kira-kira yang akan jadi pewaris?" tanya Arman.


"Yang jelas bukan kamu!" jawab Metha.


"Pak Sandi, bisa kita bicara sebentar?" tanya Yunita.


Obrolan mereka terhenti saat melihat kehadiran Yunita di sana.

__ADS_1


"Siapa, San?" tanya Arman penasaran.


Sa di juga tampak terkejut dengan kedatangan Yunita di sana. "Dia salah satu pelayan di rumahku," kata Sandi.


__ADS_2