
Semenjak cerita yang ia dengar dari sisi Rima, Yunita semakin waspada terhadap lelaki yang bernama Sandi itu. Seorang mertua yang seharusnya menghargai menantu, malam memiliki tatapan penuh hasrat setiap melihat Rima. Padahal di rumah itu ada Arjun dan Suni.
Yunita masih sibuk mengawasi Renjun yang sedang bermain di ruang tamu ketika suara anggota keluarga yang lain mulai terdengar dari ruang tengah yang tidak jauh dari tempatnya berada. Ia tidak sengaja mendengar percakapan mereka yang sedang membahas masalah di perusahaan milik ibu mertua Rima.
"Kenapa bisa begitu? Semua laporan keuangan sudah aku periksa sebelum berangkat, tidak mungkin ada yang salah," kata Suni dengan nada khawatir.
"Aku sudah mencoba memeriksa ulang, tapi tetap tidak menemukan pelakunya. Ada yang menggelapkan uang dari perusahaan, tapi siapa?" tanya Arjun dengan wajah penuh keraguan.
Rima mencoba memberikan pendapatnya, "Mungkin ada karyawan yang tidak jujur, atau bisa juga ada pihak luar yang mencuri uang dari perusahaan kita."
Sandi yang selama ini terdiam tiba-tiba memberikan saran, "Mungkin kamu harus memeriksa transaksi yang melibatkan pihak keluarga, siapa tahu ada yang mencoba mengambil keuntungan."
Yunita merasa tidak nyaman dengan apa yang dia dengar. Ia merasa ada yang disembunyikan, terutama dari Sandi yang tiba-tiba memberikan saran yang cukup spesifik. Dia memutuskan untuk mencoba mengorek informasi lebih lanjut nanti.
Beberapa saat kemudian, Yunita mendengar Sandi berbicara dengan Arjun. "Kamu harus lebih jeli dalam memeriksa laporan keuangan perusahaan. Jangan sampai ada lagi yang seperti ini terjadi. Dan satu lagi, jangan biarkan istri kamu terlalu banyak mengambil keputusan di perusahaan. Mungkin kalau kamu lebih mengendalikan, masalah seperti ini bisa dihindari."
__ADS_1
Yunita semakin tidak nyaman dengan apa yang dia dengar. Dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan dan berencana untuk mengungkapkannya. Namun, dia harus memikirkan cara yang tepat untuk menghadapinya tanpa menimbulkan masalah baru.
"Mama ... Mama ... Hua ...."
Yunita panik saat Renjun tiba-tiba menangis. "Kamu kenapa, Sayang?" tanyanya khawatir seraya mengecek tubuh Renjun siapa tahu ada yang luka.
"Renjun kenapa?"
Dari arah ruang tamu Rima berlari mendekat ke arah mereka. Rima terlihat khawatir mendengar tangisan putranya.
"Mama, ngantuk, mau bobo," kata Renjun dengan nada merajuk.
Rima duduk di hadapan Renjun dan merentangkan tangannya. Renjun langsung berlari ke prlukan ibunya. Yunita menghela napas lega karena Renjun hanya mengantuk. Anak itu meskipun sudah disapih memang masih suka tidur men yusu pada ibunya.
"Yun, kamu boleh kembali ke belakang. Biar aku yang menidurkan Renjun," kata Rima dengan seulas senyum.
__ADS_1
"Iya, Rim. Aku balik dulu ke belakang," pamitnya.
"Renjun kenapa?" tanya Suni yang masih duduk bersama Arjun dan Sandi.
"Dia mengantuk, Ma," jawab Rima seraya menggendong Renjun.
"Memangnya dia belum bisa tidur sendiri?" tanya Suni.
"Renjun sudah bisa tidur sendiri, Ma. Tapi, kalau malam memang suka manja ingin ditemani ibunya," sahut Arjun.
"Seharusnya latih sejak kecil supaya dia tidur sendiri. Nanti susah membiasakannya," ujar Suni.
Rima hanya tersenyum kikuk mendengar ucapan ibu mertuanya. "Aku mau ke kamar dulu," pamitnya.
"Iya, Sayang. Kamu ke kamar saja dan tidurkan Renjun," kata Arjun.
__ADS_1
Rima membawa Renjun berjalan menuju kamar. Sebelum masuk kamar, ia sempat bertatapan dengan Yunita yang ternyata belum kembali ke paviliun belakang. Wajah Yunita terlihat mengkhawatirkannya.
Rima memasang senyuman untuk menenangkan Yunita. Ia mengangguk kecil sebagai petanda bahwa dirinya baik-baik saja. Setelah melihat Yunita berbalik badan, ia segera masuk ke kamar bersama Renjun.