
Dalam suasana yang tegang, petugas polisi yang terlatih dengan cermat memasang borgol pada tangan Yunita dan Rima. Mereka berdua diawasi ketat, sementara beberapa petugas polisi lainnya memastikan keamanan di sekitar. Jonathan, yang masih berada di dalam apartemen, terkejut melihat Rima di antara mereka yang diamankan.
Jonathan mendekati salah satu petugas polisi dengan ekspresi bingung di wajahnya. "Maaf, apa yang terjadi? Mengapa Rima ada di sini?" tanyanya dengan nada terkejut.
Petugas polisi itu menjawab dengan tenang, "Saat ini, kami tengah melakukan penyelidikan atas kematian Tuan Sandi yang terjadi di apartemen ini. Mereka adalah dua orang yang terlibat dalam insiden ini. Kami harus membawa mereka untuk dimintai keterangan lebih lanjut."
Jonathan melihat sorot mata Rima yang tampak kosong. Penampilan wanita itu tampak acak-acakan dan berlumuran darah. Rasanya sulit dipercaya istri Arjun akan terlibat masalah semacam itu.
Jonathan mencoba memproses informasi tersebut. Wajahnya penuh dengan campuran antara kebingungan dan kekhawatiran. "Tapi... apa yang membuat mereka terlibat dalam kematian ayah tiri?" gumamnya dengan suara lirih.
Beberapa penghuni apartemen yang telah berkumpul di sekitar melihat Rima dan Yunita yang diamankan, mulai berspekulasi tentang motif pembunuhan yang terjadi. Salah satu penghuni berkata kepada temannya dengan nada berbisik.
"Tuh! Tuh! Pelakunya dibawa keluar!" seru salah seorang ibu-ibu berdaster yang sangat penasaran.
"Hah, pelakunya wanita semua? Mereka yang membunuh Pak Sandi, ya?" tanya seorang wanita berperawakan kecil dan pendek.
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu!"
"Kira-kira kenapa, ya? Apa mereka rebutan Pak Sandi?"
Penghuni lain yang mendengar percakapan itu, mengangguk setuju. "Kemungkinan begitu. Aku pernah melihat salah satu dari mereka, yang cantik itu, sering datang ke apartemen Pak Sandi ini," katanya dengan suara teredam.
"Aku dengar Pak Sandi itu sudah punya istri."
"Mungkin wanita cantik itu selingkuhannya dan yang satunya istri sahnya."
"Bisa jadi begitu."
"Apaan sih, ikut nyambung aja!" kata di ibu berbaju daster dengan lirikan mata yang mengisyaratkan rasa tidak suka.
Sementara itu, Yunita dan Rima yang diamankan keluar dari apartemen melihat keadaan sekitar yang ramai dengan penghuni dan penonton penasaran. Wajah mereka dipenuhi dengan kecemasan dan ketidakpastian akan nasib mereka. Sepanjang jalan mereka terus menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
"Ayo, silakan masuk ke dalam," kata sang petugas polisi wanita dengan sopan.
Keduanya diarahkan untuk masuk ke dalam mobil polisi. Beberapa wartawan tampak berlarian hendak meminta keterangan.
"Pak, pak, tunggu sebentar, kita belum wawancara!" protes salah seorang wartawan dengan napas tergopoh-gopoh setelah berlari dari arah yang cukup jauh.
"Nanti saja wawancaranya di kantor polisi," kata salah seorang polisi menghalau para wartawan agar tidak mengganggu proses pengamanan kedua wanita tersebut.
"Yah, Pak, sebentar saja. Saya juga sedang bekerja cari berita. Jangan menghalang-halangi seperti ini, Pak!" protes sang wartawan.
"Kami juga sedang menjalankan tugas, mohon dipatuhi aturan yang ada."
"Halah. Pak Polisi nggak asik!"
Perlahan mobil yang membawa Rima dan Yunita mulai melaju. Padatnya kerumunan membuat mobil sulit bergerak. Petugas polisi yang lain berusaha membukakan jalan.
__ADS_1
"Ini. Kalian pakai maskernya, kita akan menuju ke kantor polisi," ucap salah seorang polisi wanita yang mendampingi seraya memberikan masker untuk menutupi wajah kedua wanita itu.
Dalam keadaan yang sulit ini, mereka menyadari betapa pentingnya proses penyelidikan yang adil dan transparan untuk mengungkap kebenaran di balik kematian Sandi dan peran mereka dalam peristiwa itu.