
Suni duduk di ruang rapat bersama rekan bisnisnya, sedang mendiskusikan proyek pembangunan mall yang tengah mereka kerjakan. Mereka tengah membahas rencana perluasan dan anggaran yang dibutuhkan untuk proyek tersebut.
"Baik, kita harus segera menyelesaikan anggaran untuk proyek ini. Apa perkembangannya, Suni?" tanya Pak Yan.
"Ya, saya telah mempelajari angka-angka terakhir dan merencanakan penyebaran dana dengan hati-hati. Dengan proyek ini, kita dapat mencapai target keuntungan yang signifikan," jawab Suni.
"Baguslah, Ibu Suni. Kita harus memastikan bahwa kita mengoptimalkan penggunaan sumber daya dan mengendalikan biaya seefisien mungkin," ujar Pak Zoni.
"Tentu saja, itu menjadi prioritas utama kami. Saya telah mengadakan pertemuan dengan tim manajemen untuk mengidentifikasi area-area di mana kita bisa mengurangi biaya tanpa mengorbankan kualitas proyek," timpal Suni.
"Bagaimana dengan jadwal konstruksi? Apakah semuanya masih berjalan sesuai rencana?" tanya Pak Yan.
"Ya, saat ini progres konstruksi berjalan lancar. Pekerjaan struktural sudah hampir selesai, dan kami siap untuk memasuki tahap berikutnya, yaitu instalasi listrik dan perpipaan," kata Suni.
"Saya senang mendengarnya. Proyek ini penting bagi kita semua. Kita harus memastikan bahwa semuanya berjalan dengan lancar dan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan."
Tok tok tok
Pada saat itu, pintu ruangan terbuka, dan petugas polisi memasuki ruangan, mengganggu diskusi mereka.
Seorang petugas polisi memasuki ruangan dengan wajah serius. Mata mereka berkeliling mencari Suni. Setelah melihatnya, petugas polisi mendekati Suni dengan langkah tergesa-gesa. Rekan bisnis Suni terkejut melihat situasi ini.
__ADS_1
"Maaf mengganggu, Nyonya. Saya memiliki berita yang perlu saya sampaikan kepada Anda," ucap polisi tersebut.
Orang-orang yang terlibat dalam rapst tersebut bertanya-tanya atas apa yang sebenarnya terjadi sampai polisi datang di sana.
"Apa proyek kita ada masalah?" tanya Pak Yan dengan nada berbisik kepada Pak Heru.
"Saya juga tidak tahu mengenai hal itu. Kenapa polisi datang tanpa pemberitahuan sama sekali," jawab Pak Heru.
Suni terkejut. "Ada apa?" tanyanya heran. Ia merasa tak membuat kesalahan apapun sampai mendatangkan polisi ke sana.
"Nyonya, saya minta maaf, namun suami Ibu, Tuan Sandi, telah meninggal dunia dan menjadi korban pembunuhan. Kami tengah menyelidiki kasus ini."
"Apa?" Suni merasa dunianya hancur dalam sekejap. Matanya membelalak dan dia merasakan detak jantungnya berhenti sejenak.
Suni tergagap. "Ini... ini tidak mungkin... Mana mungkin suami saya meninggal! Pagi tadi kami masih bertemu! Saya harus melihat mayatnya! Tolong, bawa saya ke sana!" perasaannya campur aduk. Untuk bernapas rasanya sangat sulit.
"Saya mengerti keinginan Ibu, tetapi saat ini kami masih melakukan penyelidikan di tempat kejadian. Setelah kami selesai, kami akan mengizinkan Ibu melihat mayat suami Ibu."
Suni yang masih shock dengan kabar tersebut, berusaha mengumpulkan kekuatannya. Dia merasa seakan-akan dunianya runtuh. Tetapi dia tahu dia harus tetap tenang dan menghadapinya dengan kepala dingin.
"Dimana dia? Dimana suami saya sekarang?" tanya Suni.
__ADS_1
"Ada di rumah sakit XXX."
Rekan bisnisnya menghampiri Suni dan memberinya dukungan. Mereka menggenggam tangannya dengan penuh empati. Keadaan yang sebelumnya penuh semangat dan kegembiraan, kini berubah menjadi suasana yang suram dan penuh duka.
"Apa yang terjadi? Mengapa polisi ada di sini?" tanya Pak Zoni yang kurang jelas mendengar keterangan dari polisi.
Suni dengan suara terguncang berkata, "Mereka... mereka mengatakan bahwa suamiku telah meninggal. Dia... dia menjadi korban pembunuhan."
"Oh Tuhan, Suni, aku tidak bisa mempercayainya. Ini sungguh mengerikan. Bagaimana ini bisa terjadi?" Sahut Ibu Mega yang sangat mengenal Sandi, suami ibu Suni.
Pak Yan menghampiri Suni. "Suni, aku sangat menyesal mendengar kabar ini. Kami di sini untukmu, untuk memberikan dukungan sepenuhnya."
Suni menangis. "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku merasa hancur. Kami memiliki rencana masa depan bersama, dan sekarang semuanya hancur."
Ibu Mega menyentuh lengan Suni. "Tenanglah, Ibu Suni. Semoga kasusnya akan segera terkuak."
Suni menghapus air matanya. "Terima kasih, semua. Sepertinya rapat ini tidak bisa diteruskan. Saya harus melihat sendiri kondisi suami saya."
"Tentu, itu tidak masalah. Kita bisa menjadwalkan ulang rapatnya. Pargilah!" kata Pak Yan.
"Ibu Suni, mari ikut saya," ajak Pak polisi.
__ADS_1
Suni mengangguk. Ia berpamitan untuk ikut dengan polisi.
Mereka semua merasa terpukul oleh berita tragis ini. Mereka mengerti betapa beratnya beban yang harus ditanggung oleh Suni. Dalam keheningan yang penuh duka, mereka menunggu kesempatan untuk mengunjungi tempat kejadian dan memberikan penghormatan terakhir kepada Sandi, suami Suni yang telah kehilangan nyawanya secara tragis.