Benih Ayah Mertua

Benih Ayah Mertua
Bab 58


__ADS_3

Dokter akhirnya keluar dari ruang operasi dengan ekspresi serius di wajahnya. Semua orang di sekitar, termasuk Arjun, Rima, Sandi dan Suni, dengan cepat bergerak mendekatinya, mencari informasi tentang keadaan Renjun.


"Dokter, bagaimana kondisi Renjun?" tanya Arjun dengan suara yang gemetar.


Dokter mengambil napas dalam-dalam sejenak sebelum menjawab. "Kondisi Renjun masih kritis, tetapi operasi telah berhasil mengatasi pendarahan di kepala. Namun, sekarang dia membutuhkan transfusi darah segera. Kami perlu menemukan donor dengan golongan darah yang cocok dengan cepat."


Ketegangan menggelayut di udara saat semua orang menyadari betapa pentingnya menemukan donor darah yang cocok untuk Renjun. Mereka membentuk sebuah tim darurat untuk melakukan tes darah secepat mungkin. Arjun, Rima, Sandi, dan Suni mengikutinya ke laboratorium. Keempat orang tersebut menjalani tes darah untuk menentukan golongan darah yang cocok untuk Renjun.


Mereka duduk dengan tegang, menunggu hasil tes darah keluar. Setiap detik terasa seperti waktu yang berharga yang semakin berlalu. Hatinya berdebar-debar saat dia memikirkan kemungkinan apa yang akan terjadi. Tak ada satupun dari mereka yang bersuara.


Waktu berlalu dengan lambat saat mereka duduk di ruang tunggu laboratorium. Arjun merasakan ketegangan yang semakin membesar di sekelilingnya. Dia memandang wajah-wajah yang cemas di sekelilingnya, mencoba mencari kekuatan dan harapan dalam tatapan mereka.


Akhirnya, pintu laboratorium terbuka dan seorang perawat keluar dengan selembar kertas di tangannya. Dia memandangi kelompok tersebut dengan serius sebelum memberikan hasil tes darah kepada dokter yang menunggu.


"Bagaimana, Dokter?" tanya Arjun cemas.

__ADS_1


Dokter membaca hasil dengan cermat, berusaha memproses informasi yang ada. Dia mengangguk pelan sebelum berbalik dan menatap mereka dengan ekspresi lega. "Golongan darah yang cocok dengan Renjun adalah golongan darah AB positif," ucap dokter dengan suara yang tenang.


Seketika itu, atmosfer tegang seolah meredup dan digantikan dengan kelegaan yang terasa di ruangan itu. Arjun merasakan bebannya yang berat agak sedikit berkurang. Dia menatap Rima dengan tatapan penuh harapan.


"Dokter, bagaimana dengan istri saya? Apakah dia bisa menjadi donor?" tanya Arjun, berusaha menahan kecurigaannya.


Dokter menggelengkan kepala. "Maaf, Pak. Ibu Rima tidak dapat menjadi donor karena dia memiliki golongan darah yang berbeda dengan Renjun."


Rima menatap Arjun dengan penuh penyesalan. Dia mencoba mengungkapkan rasa sedihnya, tetapi dalam situasi ini, dia juga merasa tidak berdaya. Arjun mencoba memberikan senyuman lemah sebagai bentuk pengertian, meskipun dalam hatinya kecurigaan itu tetap ada.


"Lalu bagaimana, Dokter?" tanya Rima.


Arjun terkejut. Dia menatap Sandi dengan mata yang memancarkan kebingungan dan kecurigaan yang tak terucapkan. Kenapa Sandi yang memiliki golongan darah yang langka ini dapat cocok sebagai donor untuk Renjun? Pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan yang semakin membingungkan.


"Jadi, saya bisa menjadi donor untuk Renjun, Dok?" tanya Sandi memastikan. Ia berusaha untuk tetap tenang meskipun banyak pasang mata mengawasinya.

__ADS_1


"Bisa, Pak," kata dokter.


"Oh, syukurlah, Sayang, setidaknya dari kita berempat ada golongan darah yang cocok untuk cucuku," kata Suni seraya memeluk suaminya. Ia bersyukur ada jalan keluar untuk cucunya.


Arjun sadar bahwa ini bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan kecurigaannya. Saat ini, yang terpenting adalah keselamatan Renjun. Arjun memutuskan untuk menahan diri dan tetap fokus pada proses penyembuhan putranya.


"Bapak Sandi, silakan ikut kami untuk melakukan proses pengambilan darah," ajak dokter.


Sebelum mengikuti dokter, Sandi menoleh ke arah tiga orang keluarganya. Tatapannya cukup lama memandang Rima yang tengah memasang wajah sendu.


Arjun memperhatikan setiap langkah yang diambil oleh Sandi, tetapi hatinya masih dipenuhi dengan ketidakpastian. Mengapa Sandi begitu rela membantu dan mengapa dia memiliki golongan darah yang langka? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar dalam pikirannya, tetapi dia memilih untuk diam meskipun cemburu. Seharusnya dia yang bisa menjadi pahlawan bagi putranya sendiri.


"Mas," ucap Rima seraya meraih lengan Arjun dan memeluknya. Mereka masih menunggu proses transfusi darah dari Sandi kepada Renjun di luar ruangan.


Arjun mencoba menyembunyikan perasaan curiga dan kebingungannya. Dia menyadari bahwa saat ini yang terpenting adalah kesehatan Renjun. Namun, dalam benaknya, pertanyaan dan kecurigaan itu tetap berputar, menantikan jawaban di masa depan.

__ADS_1


Saat Renjun menerima transfusi darah dari Sandi, Arjun merasa campuran perasaan yang rumit. Kehidupan putranya diselamatkan, tetapi dia merasa tidak rela.


***


__ADS_2