Benih Ayah Mertua

Benih Ayah Mertua
Bab 45


__ADS_3

Jonathan melangkah terhuyung-huyung menuju apartemen tempat tinggalnya setelah pulang dari klub malam dengan kondisi yang setengah mabuk. Lampu redup di koridor apartemen menciptakan suasana yang tenang saat ia berjalan melewati satpam apartemen bernama Pak Igor.


"Pak Igor, apa kabar?" sapa Jonathan dengan senyum yang terlihat terpaksa.


"Pak Jonathan, baru pulang dari klub?" tanya Pak Igor dengan ramah.


Jonathan mengangguk pelan sambil mencoba menahan rasa pusing yang semakin mengganggu. Mereka berbincang-bincang sebentar tentang cuaca dan kegiatan sehari-hari. Namun, pikiran Jonathan sedikit terganggu oleh apa yang baru saja ia saksikan di lantai bawah.


Matanya mengeryit seperti melihat sesuatu yang aneh. Penglihatannya kurang begitu jelas karena mabuk.


"Kenapa, Pak?" tanya Pak Igor yang merasa Jonathan terbengong-bengong dan tidak menyimak percakapan mereka.


Jonathan menyunggingkan senyum. "Tidak apa-apa, Pak," katanya. "Aku mau naik dulu, ya! Jaga yang benar tempat ini! Jangan sampai ada maling! Hahaha .... "


Setelah berpisah dengan Pak Igor, Jonathan naik lift menuju lantai tempat tinggalnya. Namun, sebelum keluar dari pintu lift, ia memutuskan untuk mengambil langkah ekstra dan mengikuti instingnya. Ia ingin tahu dengan pasti apa yang sedang terjadi.


"Aku yakin itu tadi Rima. Ya, itu pasti Rima," ucapnya pada diri sendiri.


Saat melintasi lorong menuju unitnya, Jonathan tiba-tiba melihat Rima, istri Arjun, berjalan bersama seorang pria yang tidak asing baginya. Dugaannya memang benar, wanita itu adalah Rima. Lelaki yang ada di sebelah Rima lagi-lagi adalah Sandi. Tidak ada alasan yang wajar bagi mereka berdua untuk bersama di apartemen malam-malam seperti ini. Jonathan merasa penasaran dan ingin mengungkap misteri di balik pertemuan mereka.


"Gila, ya, istri Arjun selingkuh dengan mertuanya sendiri? Tidak bisa dipercaya!" gerutunya.

__ADS_1


Meskipun agak mabuk, ia yakin dugaannya kali ini tidak akan salah. Apalagi sebelumnya ia juga sempat berpapasan dengan Rima dan Sandi yang tengah jalan berdua.


Secara hati-hati, Jonathan mengikuti mereka dengan langkah yang pelan namun mantap. Mereka berdua terus berjalan hingga akhirnya sampai di sebuah unit apartemen. Sandi membuka pintu dengan kunci dan mempersilahkan Rima masuk ke dalam.


Hati Jonathan berdegup kencang saat melihat Rima dan pria itu masuk ke dalam kamar bersama. Keingintahuannya semakin meningkat dan ia merasa harus mencari tahu kebenaran di balik semua ini.


"Sumpah, ya, tidak aku sangka istri Arjun bisa seperti ini. Apa aku harus memberitahu Arjun?"


Pintu unit tempat Sandi dan Rima masuk telah tertutup. Ia akan mengingat tempat itu yang memang masih satu lantai dengan unit apartemennya.


"Selamat malam, Pak Jonathan," sapa seorang cleaning service yang lewat.


Jonathan memutuskan untuk berpaling sejenak dan menemui petugas cleaning service bernama Bimo yang sedang membersihkan koridor.


Bimo mengangguk sopan, "Ya, Pak Jonathan. Ada yang bisa saya bantu?"


"Siapa pemilik unit apartemen ini?" tanya Jonathan dengan tatapan tajam.


Bimo mengambil waktu sejenak untuk berpikir. "Kalau tidak salah unit ini milik Pak Sandi. Saya beberapa kali pernah berpapasan dengan Beliau. Memangnya kenapa, Pak?"


Jonathan terkejut mendengar penjelasan Bimo. Semua benang merah mulai terhubung di pikirannya. Namun, ia masih merasa butuh bukti lebih lanjut sebelum membuat kesimpulan yang pasti.

__ADS_1


"Apa Pak Sandi sering membawa wanita ke sini?" tanya Jonathan dengan rasa ingin tahu yang semakin memuncak.


Bimo terlihat berpikir sejenak. "Pak Sandi sudah lama memiliki unit ini. Beliau jarang menempatinya. Tapi, akhir-akhir ini, setiap akhir pekan memang Pak Sandi selalu datang membawa wanita ke sini."


"Apa wanita yang dibawa selalu ganti-ganti?" telisik Jonathan.


"Setahu saya tidak, Pak. Wanita yang tadi Bapak lihat yang selalu Pak Sandi bawa ke sini," kata Bimo.


Jonathan semakin yakin kalau Rima memang berselingkuh dengan ayah mertuanya.


"Ya sudah kalau begitu, terima kasih untuk informasinya, Bim. Ini uang untuk beli rokok." Jonathan mengeluarkan tiga lembar uang ratusan ribu kepada Bimo.


"Wah, terima kasih, Pak," kata Bimo dengan girang. Ia tak mengira akan mendapatkan rejeki tidak terduga.


"Kalau begitu, aku mau masuk dulu. Kamu kalau sudah selesai kerja, cepat pulang!" kata Jonathan.


"Iya, Pak, selamat istirahat!"


Jonathan lantas berjalan dengan memegangi kepalanya yang pening menuju ke unitnya. Ia langsung merebahkan diri di atas ranjang setelah masuk unitnya.


"Oh, Ya Tuhan, kira-kira Arjun bakalan gila apa tidak ya, kalau tahu istrinya selingkuh dengan ayah tirinya?" Jonathan kembali bergumam sendiri. "Tapi, itu bukan urusanku. Bukankah aku tak perlu ikut campur urusan rumah tangga mereka?"

__ADS_1


***



__ADS_2