Benih Ayah Mertua

Benih Ayah Mertua
Bab 85


__ADS_3

"Memangnya aku tidak boleh mencintaimu, Rima? Aku tidak bisa menceraikanmu," kata Arjun.


"Mas!" Rima menitihkan air mata mendengar ucapan Arjun.


Ia sangat mengharapkannya, namun ketika mendengarnya sendiri, rasanya seperti mimpi.


Arjun berdiri di depan Rima, yang memancarkan rasa marah dan ketidakpercayaan. Mereka berdua bertemu di ruang pengunjung di dalam penjara. Udara terasa tegang, mencerminkan emosi yang kuat di antara keduanya.


Kengapa kau masih datang ke sini, Mas? Aku sudah jelas-jelas mengatakan bahwa aku ingin kita bercerai! Apa kamu tidak memahaminya?"


Rima berusaha menolak hati nuraninya sendiri. Ia menangis sesenggukkan. Keberadaan Arjun di sana terasa semakin membuat sesak dadanya. Padahal ia ingin segera melupakan semuanya.


Arjun berkata dengan suara lembut. "Rima, aku tahu ini sangat sulit untukmu, tapi aku tidak bisa begitu saja menghapus perasaanku. Aku masih mencintaimu, Rima. Aku masih ingin berada di sampingmu."


Arjun yang sekarang terlihat lebih jujur kepada perasaannya sendiri. Awalnya tentu saja ia kecewa dan marah. Namun, saat ia menimbang-nimbang kembali, ternyata perasaan cintanya masih sebesar dulu.

__ADS_1


Rima menggelengkan kepalanya dengan tegas, ekspresi wajahnya penuh dengan keraguan dan keputusasaan. "Bagaimana mungkin kau masih mencintaiku setelah apa yang telah aku lakukan? Aku merasa kotor, Mas! Aku merasa tidak pantas dicintai."


Arjun mendekat, mencoba menenangkan Rima dengan sentuhan lembutnya. "Rima, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Kita semua membuat kesalahan dan melakukan hal-hal yang tidak benar. Tapi itu tidak berarti kita tidak berhak mendapatkan cinta dan pengampunan."


Rima menatap Arjun dengan rasa takut dan ketidakpercayaan yang terpancar di matanya. "Aku tidak tahu apakah aku pantas menerima cinta dan pengampunanmu, Mas. Aku merasa terjebak dalam dosa-dosa yang telah aku lakukan selama ini. Hiks! Hiks!"


Arjun menjawab dengan suara rendah, tetapi penuh keyakinan. "Kita semua membutuhkan kedamaian dan kesembuhan. Aku tahu bahwa kamu telah melalui masa sulit dan sedang berjuang dengan beban berat. Tapi aku masih percaya bahwa kita bisa melewati ini bersama, jika kau memberiku kesempatan."


Rima menatap Arjun, matanya berair, mencoba menahan emosi yang meluap. "Apa tidak boleh jika aku tidak bisa menerima diriku sendiri? Apakah tidak boleh jika aku tidak bisa percaya pada cinta yang masih kamu miliki?"


Rima, masih penuh dengan keraguan dan ketakutan, menatap wajah Arjun dengan rasa takjub. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, Mas. Tapi jika kamu bersedia bertahan, aku akan mencoba menebus kesalahanku."


Arjun tersenyum, membawa tangan Rima ke bibirnya dan menciumnya dengan lembut. "Aku akan selalu di sini untukmu, Rima. Kita akan menghadapi ini bersama-sama."


Keduanya berpelukan. Rima merasa seperti kedatangan seorang malaikat yang mampu menenangkannya. Menerima pengampunan dari Arjun bagaikan sebuah mimpi yang sangat indah namun nyata.

__ADS_1


"Mas, kamu sungguhan masih mau menerimaku, kan?" tanya Rima memastikan.


"Iya, Sayang. Untuk apa aku sampai datang ke sini kalau bohong?"


"Tapi, aku sedang hamil, Mas." Rima kembali menjadi minder.


"Memangnya kenapa? Nanti kita akan rawat dia bersama seperti kita merawat Renjun. Aku akan menjadi seorang ayah yang baik untuknya," kata Arjun dengan bijak.


Rima terharu dengan keputusan Arjun. "Mas, kenapa kamu begitu baik padaku? Huhuhu ...."


Arjun mengusap kepala Rima dengan lembut. "Mungkin ini karmaku karena dulu pernah menyakitimu. Aku memang pernah berniat menikah lagi hanya demi memiliki anak. Aku minta maaf untuk kesalahanku yang dulu," ucapnya.


Mereka saling mengakui kesalahan dan saling membuka diri dengan tujuan untuk memperbaiki semuanya.


---- TAMAT ----

__ADS_1


__ADS_2