
Arjun tak lagi peduli dengan suara tangisan Rima serta tingkah wanita itu yang tengah memohon ampunan kepadanya. Ia benar-benar kecewa, wanita yang sangat ia cintai berani berselingkuh di belakangnya.
"Mas, maafkan aku. Huhuhu ...." Rima masih merengek meminta ampunan dari suaminya.
"Rima, katakan sebelum kesabaranku habis ... Siapa lelaki itu!" tegasnya.
Rima menggeleng. Ia tak ingin Arjun tahu. "Maafkan aku, huhuhu ...."
Wajah Arjun berubah merah madam. Air matanya hampir keluar karena kesal. "Apa itu Papa?" tanyanya dengan nada bergetar.
Selama ini ia berusaha menepis bahwa orang yang ia curigai adalah orang terdekatnya. Apalagi ayah tirinya itu seorang yang selalu baik kepada keluarganya.
Rima semakin terisak mendengar ucapan Arjun. Ia benar-benar tak ingin suaminya tahu hubungan gelapnya dengan sang ayah mertua.
"Jawab, Rima ... Apa selama ini kamu berhubungan dengan Papa?" Arjun masih menahan diri. Hanya buliran air mata yang mengalir karena dengan diamnya sang istri ia tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Mas, ampuni aku ... Aku salah ... Maafkan aku ... Huhuhu," pada akhirnya Rima hanya bisa mengatakan maaf.
"Ah!"
Brak
__ADS_1
Sekali lagi Arjun meluapkan emosinya dengan membanting telepon yang ada di atas meja. "Tega kamu melakukan ini padaku, Rima! Apa yang ada di pikiranmu!" bentaknya.
Arjun sangat frustasi dan kecewa dengan kenyataan yang ada. Ia berjalan mendekat ke arah Rima dan mencengkeram lehernya.
"Rima, tatap aku! Tatap aku!" pintanya dengan nada marah.
Rima memandangi wajah Arjun yang sangat emosi kini berdiri di hadapannya. Ia sudah pasrah, tak mampu lagi menyembunyikan kebohongannya.
"Tega-teganya kamu, Rima ... Dia mertuamu sendiri. Kenapa kamu seperti ini?"
Dalam pikiran Arjun, ia ingin sekali melampiaskan kekesalannya kepada sang istri. Ia ingin melayangkan pukulan dan tamparan kepada wanita yang tidak tahu diri itu. Akan tetapi, ia sungguh tidak tega menyakiti wanita yang sangat ia cintai.
Arjun terkekeh. "Apa? Jangan bercanda, Rima!" ia tidak menyangka Rima bisa berbicara seperti itu.
"Kamu sangat menginginkan anak, begitu juga ibumu dan seluruh keluarga besarmu," kata Rima dengan wajah yang sendu.
"Apa hubungannya dengan itu? Kamu selingkuh tetap saja selingkuh!" tegas Arjun.
"Kamu tidak bisa punya anak, Mas!" teriak Rima.
Seketika Arjun terdiam.
__ADS_1
Rima beranjak dari tempatnya berjalan menuju salah satu lemari di kamarnya. Dengan cepat ia mengambil salinan hasil pemeriksaan Arjun yang ia dapatkan dari rumah sakit.
"Ini, Mas! Ini hasil pemeriksaan kesuburanmu dua tahun yang lalu. Aku berniat merahasiakan semua ini sampai mati darimu. Huhuhu ...."
Arjun menerima amplop yang Rima berikan. Ia baca hasil pemeriksaan yang ada di dalamnya. Ia langsung lemas saat membaca hasil tersebut.
"Aku memang salah, Mas! Aku akui salah! Coba kamu pikir di posisiku!" Rima berbicara dengan nada emosinya.
Air mata Arjun mengalir meskipun tak terdengar suaranya. Sambil mematung ia terus memperhatikan tulisan dalam selembar kertas itu.
"Dulu kamu bilang mau menikah lagi kalau aku tidak bisa punya anak. Itu sangat menyakitkan untukku. Sementara, aku tidak sanggup untuk mengatakan kalau sebenarnya kamu yang tidak subur! Aku memang salah, tapi kamu juga tidak sepenuhnya benar! Huhuhu ...."
Sejenak suara menjadi hening mengiringi kesedihan yang dirasakan keduanya.
"Kenapa harus dengan ayah tiriku, Rima? Itu sangat menyakitkan," keluh Arjun. Ia seperti orang yang linglung. Semua yang terjadi bagaikan mimpi buruk.
"Mas ...." Rima berharap Arjun mau memahami kondisinya. Namun, lelaki itu sepertinya tetap tidak bisa menerima pengakuannya.
"Jonathan pernah bilang padaku, dia sering melihatmu datang ke apartemen Papa. Kamu pasti sudah lama menjalin hubungan dengannya, kan?" tanya Arjun memastikan.
***
__ADS_1