
"Bagaimana ini, Yun? Huhuhu ...." Rima menangis sesenggukkan di pelukan Yunita.
Saat ini ia merasa sangat membutuhkan orang yang bisa menjadi sandaran. Baginya tak ada orang lain yang bisa diajak bercerita selain Yunita.
Keduanya kini tengah berdua di taman rumah sakit yang cukup sepi. Rima meminta dua orang pelayan rumah untuk menggantikan mereka menjaga Renjun.
"Sudahlah, Rima. Mungkin ini yang terbaik. Mrmangnya sampai kapan kamu akan menyimpan kebohongan ini?"
Yunita merasa iba dengan apa yang menimpa Rima. Namun, ia juga lega jika akhirnya kebohongan itu terbongkar. Ia ikut tersiksa menyembunyikan kenyataan itu dari Arjun.
"Rumah tanggaku sudah hancur, Yun. Mas Arjun pasti akan meninggalkan aku," kata Rima sembari merengek.
"Setiap perbuatan ada konsekuensinya, Rima. Kamu harus bisa menerima hal itu. Jangan menjadi orang yang egois." Yunita berusaha menghibur Rima.
Rima melepaskan pelukannya. Ia memandangi wajah Yunita, wanita yang ia sudah anggap sebagai saudara. "Kamu juga pasti membenciku, kan, Yun?" tanyanya.
Yunita menghela napas. "Kalau aku membencimu, tidak mungkin aku masih berada di sisimu selama ini. Aku hanya membenci perbuatanmu, bukan dirimu," katanya.
__ADS_1
"Yun, percayalah, aku benar-benar terpaksa. Aku tidak bermaksud selingkuh atau menikmati hubungan terlarang itu," ucap Rima.
Yunita mengangguk. "Iya, aku tahu. Saking cintanya sama Arjun, jurang saja bisa kamu masuki. Aku tahu itu, tapi perbuatanmu tidak bisa dibenarkan."
Rima mengusap air matanya. Ia menyadari perbuatannya selama ini salah. "Aku harus bagaimana sekarang?" tanyanya.
"Bicara baik-baik dengan Arjun. Jangan lupa untuk minta maaf kepadanya," ujar Yunita.
"Aku sudah melakukannya, Yun. Aku bahkan sudah berlutut di depannya. Tapi, sepertinya Mas Arjun tidak bisa memaafkanku," Rima kembali menitihkan air mata.
"Arjun tidak main tangan padamu itu sudah sangat luar biasa, Rima. Mungkin kalau lelaki lain sudah memukuli pasangannya jika tahu ada perselingkuhan. Pokoknya, bicara lagi dengan Arjun secara baik-baik. Kalian harus menyelesaikan masalah dengan cara yang baik."
Yunita terdiam sesaat. "Kalau nanti Arjun tidak bisa menerima Renjun, aku akan membantumu merawatnya. Kita besarkan Renjun bersama, kamu tenang saja," katanya menenangkan Rima.
Keduanya kembali berpelukan. Rima merasa sedikit tenang karena ada yang membantunya.
"Terima kasih ya, Yun. Maaf selama ini aku sudah banyak merepotkanmu," kata Rima.
__ADS_1
"Jangan bicara seperti itu. Kamu juga selama ini sudah banyak membantuku," kata Yunita.
"Hah!" Rima menghembuskan napas secara kasar. "Seandainya saja Mas Arjun tidak mengajukan tes DNA segala. Aku tidak tahu kalau Mas Arjun ternyata mencurigai aku," ucapnya.
"Kebohongan tidak bisa selamanya disembunyikan, Rima. Setidaknya kamu sudah tidak harus berbohong lagi," kata Yunita.
Rima tersenyum getir. "Iya, Yun. Mungkin ini memang karmaku. Sekarang juga aku sedang hamil lagi. Anak dari ayah mertuaku," ujarnya.
Yunita langsung mematung mendengar ucapan Rima yang sudah seperti setengah linglung itu. "Kamu sudah gila apa, Rima!" katanya sembari mengguncang-guncangkan tubuh Rima.
Satu masalah saja belum ditemukan penyelesaiannya kini Rima mengatakan bahwa dirinya kembali mengandung anak Sandi.
"Rima! Kamu gila, ya? Kamu hamil lagi anak dari lelaki bejat itu?" kata Yunita lagi dengan nada emosi. Ia ikut stres mendengarnya.
Sementara, Rima hanya bisa terdiam dan tatalan matanya kosong.
"Aku sudah bilang untuk berhenti berhubungan dengannya, Rima! Kamu benar-benar ...."
__ADS_1
Yunita tak bisa melanjutkan perkataannya saking kecewanya. Ia juga tak bisa memarahi orang yang tengah depresi itu. Ia tidak menyangka Rima akan hamil lagi oleh lelaki itu.