
"Kenapa kamu ingin datang menemuiku?" tanya Sandi.
Setelah melihat kehadiran Yunita di sana, Sandi menyuruh Yunita untuk ikut dengannya ke apartemen. Ia tidak mau pembicaraannya diketahui oleh banyak orang, terutama oleh temannya dan koleganya.
Sejak awal ia sudah tahu jika Yunita juga tidak menyukai dirinya. Yunita hanya seorang pengasuh anak namun tak ada sopan satun dan keramahan yang ditujukan kepadanya ketika di rumah.
"Jangan pura-pura tidak tahu, Pak! Anda sudah membuat masalah besar kepada Rima!" kata Yunita dengan tegas.
Sejenak Sandi tertegun mendengar ucapan Yunita. Beberapa saat kemudian, ia tertawa terbahak-bahak. "Hahaha ... Kamu hanya pengasuh berani juga ikut campur dengan urusan majikan. Memangnya apa hakmu mengatur-atur orang, hm?"
Ia melebarkan matanya, menatap Yunita dengan perasaan kesal.
Plak!
Yunita begitu berani menantang Sandi. Ia melayangkan tamparan tepat di pipi Sandi dengan keras. "Anda sangat jahat sudah menghancurkan hidup Rima! Kenapa bukan Anda yang susah? Kenapa harus Rima yang menderita?" katanya dengan emosi.
"Kamu ...." Sandi memegangi pipinya yang masih terasa panas akibat tamparan Yunita.
"Sekarang Arjun sudah tahu kalau Renjun anak Anda! Kehidupan Rima jadi hancur dan Anda masih menambah dengan menghamilinya lagi?" urat leher Yunita sampai tertarik akibat marah-marah.
__ADS_1
Sandi terkejut mendengar itu. Bukannya merasa bersalah, ia malah senang dengan hal itu. "Oh. Benarkah? Apa Arjun sudah membuang Rima?" tanyanya.
"Apa?" Yunita tidak percaya lelaki itu bahkan tidak memiliki penyesalan dan rasa bersalah.
"Kamu tenang saja, aku siap menerima Rima jika dia dicampakan Arjun. Dengan senang hati aku akan menerima Rima dan Renjun di sini. Hahaha ..." Sandi menggila.
"Anda sepertinya tidak waras, Pak. Rima menantu Anda sendiri." Yunita tidak habis pikir dengan perkataan Sandi.
Sandi menyeringai. "Apa masalahnya? Aku bisa menceraikan Suni dan menikahi Rima. Katakan padanya, dia tidak perlu khawatir menjadi janda karena aku akan menerimanya."
Yunita mengepalkan tangannya. "Aku tidak sudi Rima hidup bersama orang manipulatif seperti Anda. Sebaiknya Anda berhenti mengganggu Rima mulai saat ini!" tegasnya.
"Saya tidak akan membiarkan Rima dimanfaatkan oleh orang seperti Anda! Jangan ganggu Rima lagi. Itu yang ingin saya sampaikan!"
Yunita berbalik badan berniat ingin pergi dari sana. Namun, belum sempat ia melangkah pergi, Sandi lebih dulu meraih tangannya dan mendorongnya ke lantai.
"Auh!" teriak Yunita.
Sandi menghampiri Yunita dan mencekik leher wanita itu. "Sudah aku peringatkan untuk tidak mencampuri urusanku!" katanya marah.
__ADS_1
Yunita berusaha melepaskan cengkraman tangan itu darinya. Lehernya terasa tercekik hingga sesak bernapas oleh tangan Sandi. Mata mereka saling bertatapan penuh kebencian.
"Kalau tidak bisa melindungi diri sendiri, tidak perlu sok berani ikut campur urusan orang. Aku bisa membunuhmu sekarang juga," ancam Sandi.
Mata Sandi berkelana memandangi tubuh wanita lemah yang ada di bawahnya itu. Seringaian tampak dari sudut bibirnya. "Kamu cantik juga, ya! Mungkin kamu juga harus merasakan tidur denganku agar kamu bisa diam. Apa kamu juga ingin menampung benihku juga?" tanyanya.
"Bang sat!" pekik Yunita. Ia tidak menyangka jika lelaki itu benar-benar seorang penjahat.
"Hahaha ... Berusahalah melawan. Berteriakpun akan percuma, tidak akan ada yang mendengar," kata Sandi.
"Lepaskan aku!" Yunita masih berusaha melawan.
"Nanti akan aku lepaskan. Tapi, setelah kamu melayaniku malam ini."
"Dasar bajingan!" umpat Yunita.
Sandi hanya menyeringai. "Kamu pasti iri dan penasaran kan? Aku akan menunjukkan kepadamu kehangatan yang biasa aku berikan pada Rima. Kamu pasti akan suka," ucapnya.
***
__ADS_1