Benih Ayah Mertua

Benih Ayah Mertua
Bab 30: Kepulangan Mertua


__ADS_3

Kehidupan pernikahan Arjun dan Rima selama dua tahun berjalan bahagia, apalagi dengan kelahiran Renjun di antara mereka. Anak kecil itu menjadi pengikat rasa cinta antara kedua orang tua mereka.


Meskipun sudah disiapkan kamar tersendiri, Rima kerap mengajak anaknya tidur bersama di kamarnya. Ia juga sekaligus memberi kesempatan bagi Yunita yang menjadi pengasuh Renjun untuk istirahat saat malam hari.


Kehadiran Yunita sebagai pengasuh sangat meringankan beban pekerjaan Rima dalam mengasuh Renjun. Rima bahkan sudah bisa kembali bekerja mengurusi restoran. Tentunya ia tak lupa untuk melakukan pumping demi stok ASI bagi putranya. Rima merasa kehidupan rumah tangga tanpa campur tangan mertua sangat membuatnya nyaman.


"Sayang, ayo siap-siap!"


Arjun tiba-tiba muncul dari balik pintu menengok Rima yang tengah bermain bersama Renjun ditemani Yunita juga.


"Papa ...."


Renjun yag awalnya asyik memainkan bola teralihakan perhatiannya pada sosok lelaki yang masih berdiri di depan pintu. Dengan langkah kecilnya, ia berlari menghampiri sang ayah.


Arjun merasa bahagia sekali ketika anak kecilnya bisa menyebutnya Papa dengan lancar. Arjun merendahkan tubuhnya dan mengambil sikap berlutut sembari merentangkan tangannya. Mereka berpelukan dengan hangat. Arjun sangat menyayangi Renjun.


"Oh, Sayang ... Kamu sedang apa?" tanya Arjun.


"Main bola! Sama sama, sama Sus," kata Renjun dengan kosa kata yang masih terbatas.

__ADS_1


Arjun mengangkat Renjun dalam gendongannya.


"Kamu memintaku untuk siap- siap, memangnya kita mau kemana, Mas?" tanya Rima heran.


"Mama dan Papa hari ini akan pulang. Ayo kita jemput ke bandara sekarang!" ajak Arjun.


"Apa?"


Rima sangat terkejut. Tubuhnya seakan sampai mematung mendengar kabar yang terkesan sangat mendadak. Kalau boleh jujur, kakinya terasa lemas dan seharusnya ia pingsan. Rasanya baru kemarin ia bernapas lega tanpa kehadiran mertua. Ternyata, dua tahun berlalu sangat cepat. Tiba waktunya ia bertemu kembali dengan Suni dan Sandi.


"Sayang, kok melamun? Ayo pergi sekarang!" tegur Arjun.


"Yunita, kamu juga ikut sekalian, ya! Jaga Renjun supaya tidak rewel di sana," pinta Arjun.


"Oh, baik, Pak," jawab Yunita.


Meskipun Yunita berteman baik dengan Arjun dan Rima, ia membiasakan diri untuk memanggil mereka dengan sebutan Bapak dan Ibu. Tujuannya agar ia sadar posisi dan tanggung jawab.


"Kamu baik-baik saja, kan? wajahmu terlihat pucat. Apa tidak apa-apa kamu tetap pergi?" tanya Yunita dengan nada sedikit berbisik.

__ADS_1


"Kamu ini bicara apa, sih? Aku baik-baik saja," jawab Rima untuk berkilah. Ia mencoba untuk tetap bersikap santai.


Keduanya turut berjalan membuntuti Arjun yang tengah menggendong Renjun menuju halaman depan.


Ada dua mobil yang akan berangkat menuju bandara. Mereka berempat menaiki satu mobil alphard. Yunita duduk di bagian paling belakang sementara Rima dan Arjun berada di kursi tengah. Arjun duduk sembari memangku Renjun. Rima sampai takjub memandangi keakraban antara ayah dan anak itu.


Sepanjang perjalanan, Rima merasa cemas dan khawatir. Ia tidak ingin ada yang tahu tentang hubungan terlarangnya dengan ayah mertuanya. Namun, Arjun meminta Rima untuk menemaninya untuk menjemput kedua orang tuanya dan Rima tak kuasa menolak ajakan suaminya. Mereka akhirnya berangkat ke bandara untuk menjemput kedua orang tua Arjun.


Ketika sampai di sana, Rima merasa sangat gugup. Ia takut bertemu dengan ayah mertuanya lagi. Mau tidak mau kenyataan itu harus ia hadapi.


Tampak ayah dan ibu mertuanya tengah duduk di sofa ruang khusus penjemputan penumpang. Bisa jelas Rima lihat jika tatapan mata Sandi terarah kepadanya dengan sangat intens. Dua tahun berlalu dan tatapan memangsa itu masih jelas dari mata lelaki itu. Rima memiliki nyali yang kecil. Ia memilih bersembunyi di belakang Arjun sembari menunduk.


"Mama, Papa, maaf kami terlambat sedikit," kata Arjun dengan senyum.


"Tidak apa-apa, Jun. Mana sini cucu kesayanganku? Ini Oma dan Opa kamu," kata Suni.


Yunita membawa Renjun mendekat ke arah Suni dan Sandi. Ia mengajarkan agar Renjun berkenalan dengan orang lain. Mereka sangat gemas bertemu dengan balita itu. Dua tahun mereka baru sempat melihat karena urusan pekerjaan.


"Renjun, ini Oma Suni. Dan ini Opa Sandi." Suni berusaha mengajari agar cucunya bisa mengenalnya. Ia senang sekali Renjun mau digendong olehnya.

__ADS_1


__ADS_2