
"Maaf, Pak. Ibu Rima tetap menolak untuk bertemu dengan Anda," ucap seorang sipir penjara yang Arjun minta untuk memanggilkan Rima untuknya.
Arjun mengepalkan tangan. Ia rasanya ingin meninju tembok yang ada di dekatnya. Sudah satu minggu ini ia bolak-balik ke tahanan demi bertemu Rima. Namun, wanita itu tetap menolaknya.
Ia tidak mengira jika Rima tidak mau bertemu dengannya. Kondisi seperti terbalik. Seharusnya ia yang tidak mau bertemu dengan Rima lagi.
Beberapa saat kemudian, Arjun mengingat sesuatu. "Ah, iya, Pak. Coba temui dia sekali lagi dan katakan aku datang untuk menyerahkan berkas perceraian. Kalau dia tidak mau bertemu denganku, nanti proses cerai akan susah," katanya.
"Baik, Pak," kata sipir tersebut seraya kembali keluar dari ruangan untuk memanggilkan Rima kembali.
Drrtt ... Drrtt ...
Ponsel Arjun berbunyi. "Halo," sapanya saat mengangkat panggilan itu.
"Bagaimana, Jun?" terdengar suara seorang wanita dari seberang telepon.
"Aku masih berusaha untuk menemuinya, Yun. Rima memang keras kepala, tidak mau menemuiku," kata Arjun.
"Renjun rewel. Dia memanggil-manggil kalian."
Arjun hanya bisa menghela napas. Setelah cukup lama ditinggalkan oleh Rima, kesehatan Renjun membali memburuk. Anak itu harus dirawat kembali di rumah sakit.
__ADS_1
"Kalau urusanku sudah beres, aku akan segera ke sana," kata Arjun.
"Baiklah kalau begitu. Mudah-mudahan semuanya lancar."
"Terima kasih sudah menjaga Renjun."
Arjun mematikan kembali sambungan telepon dan menaruh ponselnya dalam saku.
"Pak, Ibu Rima sudah datang," kata sipir yang tadi.
Dengan berjalan menunduk dan tangan diborgol, Rima berjalan di belakang sipir tersebut. Seorang sipir wanita juga mendampingi di belakang.
"Silakan jika Anda ingin berbicara berdua. Kami akan memberikan waktu selama 30 menit," kata sang sipir seraya membukakan borgol di tangan Rima.
"Aku bilang jangan temui aku lagi, Mas. Suruh saja pengacaramu," protes Rima.
"Duduk dulu!" pinta Arjun dengan nada tegas.
Rima tahu jika kini Arjun ingin berbicara serius. Terpaksa ia berjalan mendekat dan duduk di sofa sebelah Arjun. Suaminya pasti mengeluarkan banyak uang agar bisa mendapatkan tempat itu untuk bicara berdua.
"Mana surat cerainya, biar aku tanda tangani sekarang?" tanya Rima.
__ADS_1
"Aku tidak membawanya."
Rima menoleh dan memandang heran ke arah suaminya. Ia merasa dipermainkan. "Jadi, maumu apa? Katanya tadi ingin mengurus perceraian?"
Arjun menatap balik Rima dengan tatapan tajamnya. "Bisa tidak kamu jangan menghindar dariku terus?"
Rima membuang pandangannya. "Aku sudah tidak mau berurusan denganmu lagi, Mas. Makanya jangan temui aku!"
"Kenapa?" tanya Arjun.
"Tidak perlu ditanyakan juga sudah tahu jawabannya. Tidak usah buang-buang waktu denganku!" Rima memasang ekspresi tak peduli.
"Aku sungguh-sungguh tidak tahu," ujar Arjun.
"Kamu mau aku mengaku lagi kalau aku ini seorang istri tidak tahu diri yang rela tidur dengan mertuanya sendiri demi mendapatkan anak?" Rima mengatakannya dengan ekspresi kekesalan yang mendalam. Matanya sampai berkaca-kaca.
"Kapan aku memintamu untuk berkata seperti itu?" tanya Arjun santai.
"Mas!" bentak Rima. Ia tak kuasa menahan air matanya lagi.
"Aku sudah memikirkannya, Rima. Aku tidak mau bercerai," kata Arjun.
__ADS_1
Rima terkejut mendengarnya. "Apa kamu sudah gila?" tanyanya.
Mustahil rasanya ada lelaki yang mampu memaafkan setelah dikhianati berkali-kali. Bahkan ia sendiri tak bisa memaafkan dirinya sendiri.