
Suni terlihat murka saat melihat kehadiran Arjun bersama anak dan istrinya.
Suni berdiri di ambang pintu rumahnya dengan wajah yang penuh kemarahan. Dia melihat Arjun memasuki rumah, diikuti oleh Rima dan Renjun. Ekspresi Suni menjadi semakin murka.
"Berani kamu menginjakkan kaki di sini bersama wanita itu, Arjun! Dia sudah membunuh papamu!" kata Suni dengan nada tinggi.
Arjun mencoba menjelaskan dengan tenang, tetapi rasa gugup terlihat di wajahnya. "Ma, kami datang ke sini untuk berdamai. Rima telah dibebaskan setelah proses persidangan yang adil. Dia dinyatakan tidak bersalah karena membela diri," katanya.
Suni tidak terima dengan penjelasan itu, menyela dengan tajam. "Tidak mungkin! Apa kamu mengira Mama bodoh? Apa kamu menyogok hakim agar dia dibebaskan?
Arjun memandang ibunya dengan kebingungan. "Ma, aku tidak pernah melakukannya. Proses persidangan berjalan sesuai hukum dan keadilan. Rima tidak bersalah, dan itu adalah keputusan yang diambil oleh hakim berdasarkan bukti dan fakta yang ada."
Suni merasa semakin marah dan terus mendesak mereka untuk pergi. "Aku tidak ingin mendengar alasanmu! Wanita itu membunuh suamiku. Aku tidak akan mentolerir kehadirannya di rumah ini!" ia menunjuk-nunjuk ke arah Rima.
Rima menunduk. Ia berusaha menyembunyikan kepala Renjun agar tidak melihat Suni yang tengah marah-marah kepada mereka.
Arjun mencoba menenangkan situasi, tetapi Suni terus mengeluarkan amarahnya. "Ma, aku memahami perasaanmu."
__ADS_1
"Hah! Mama rasa kamu tidak mau tahu perasaan Mama! Kamu sudah menjadi buta gara-gara dia. Sadar, Arjun! Dia sudah mengkhianatimu! Wanita kurang ajar yang berani merayu mertuanya sendiri apa masih mau kamu pertahankan?"
Suni tidak percaya putranya masih membela wanita yang jelas-jelas seorang pembunuh.
Arjun terdiam sesaat. "Rima berhak mendapat kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, Ma," kata Arjun dengan bijak.
Suni, dengan suara tinggi dan penuh kemarahan, mengusir mereka dari rumah. "Keluar! Keluar dari rumah ini sekarang juga! Aku tidak ingin melihat kalian berdua di sini!"
Suni tak mau menerima alasan apapun. Ia kecewa suaminya telah dibunuh dan kini putranya pun berselisih paham dengannya.
Arjun menatap ibunya dengan sedih dan kecewa, tetapi dia tidak bisa membantah. "Baiklah, Ma. Jika itu yang Mama inginkan, kami akan pergi. Tapi aku berharap suatu hari kita bisa memperbaiki hubungan ini," ucapnya.
Arjun memegang erat tangan Rima dan membimbingnya keluar dari rumah, diikuti oleh Renjun yang menatap dengan sedih. Suni tetap tegar di ambang pintu, tanpa menunjukkan keraguan sedikit pun.
"Jangan berharap bisa memperbaiki hubungan ini! Perbuatan Rima tidak akan pernah aku maafkan!" kata Suni.
Mereka meninggalkan rumah itu dengan hati yang hancur, meninggalkan Suni dengan kesedihan dan amarah yang mendalam.
__ADS_1
"Mas, maafkan aku. Gara-gara aku hubungan kalian jadi seperti ini," kata Rima saat mereka telah masuk ke dalam mobil.
Arjun tersenyum. Ia mengusap kepala Rima. "Tidak apa-apa. Aku bersedia menerima konsekuensi untuk ini. Mama mungkin butuh waktu untuk memaafkan kita," ucapnya.
"Tapi di sini yang bersalah hanya aku, bukan kamu, Mas." Rima sangat merasa bersalah terhadap suaminya.
"Sudah, jangan berlanjut-lanjut menyalahkan diri sendiri. Lebih baik kita fokus pada masa depan."
"Iya, Mas. Aku akan berusaha menjadi seorang istri yang lebih baik lagi," kata Rima.
Keduanya saling bertatapan dan tersenyum.
Arjun melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah luas nan besar yang selama ini menjadi tempat tinggalnya.
Arjun memutuskan untuk pergi ke luar negeri bersama anak dan istrinya. Ia ingin mengajak keluarga kecilnya memulai kembali kehidupan rumah tangga dari awal. Sekaligus ingin menghilangkan rasa trauma yang mungkin dialami istrinya. Ia berusaha berdamai dengan dirinya sendiri. Juga berusaha memaafkan kesalahan yang telah dibuat istrinya.
***
__ADS_1