
"Renjun sayang, pelan-pelan naiknya!" seru Rima dari arah luar area bermain anak-anak.
"Anak kita memang selalu kelihatan enerjik waktu bermain," ucap Arjun seraya memeluk pinggang Rima dari belakang.
Keduanya tengah membawa Arjun ke area permainan yang ada di sebuah mall. Akhir pekan ini sengaja mereka menyempatkan waktu untuk memanjakan Renjun. Sudah lama mereka tidak pergi bertiga. Bahkan, Yunita diijinkan istirahat tidak mengasuh Renjun agar mereka bisa quality time bertiga.
"Kalau kita bisa seperti ini terus setiap akhir pekan rasanya menyenangkan ya, Sayang. Renjun juga kelihatan sangat senang," kata Arjun.
"Iya, Mas. Aku juga ingin seperti ini terus. Tapi, apa boleh buat kita disibukkan oleh urusan pekerjaan. Kita juga melakukannya demi masa depan Renjun yang cerah," ujar Rima.
"Aku rasa tabungan kita sudah cukup untuk membiayai Renjun sampai lulus kuliah dan hidup di luar negeri, Sayang. Kamu tidak usah bekerja juga tidak apa-apa."
"Sulit, Mas. Aku sudah biasa bekerja. Kamu tahu sendiri dulu waktu hamil dan melahirkan Renjun, aku sempat cuti kerja, tapi rasanya malah jadi pusing. Soalnya aku sudah biasa sibuk," rengek Rima sembari memasang wajah yang cemberut.
Arjun menepuk puncak kepala Rima. "Kamu ini selalu saja tidak bisa membuatku menolak kemauanmu," katanya.
"Oh, iya, Mas. Pesanan Mama sudah kamu belikan belum?" tanya Rima mengingatkan.
"Pesanan? Memangnya Mama pesan apa?" Arjun seperti lupa sesuatu.
Rima menghela napas. "Mas, Mama kan minta dibelikan perlengkapan golf yang baru. Mau dipakai besok loh, untuk main dengan rekan bisnisnya," ucapnya.
__ADS_1
Arjun mangguk-mangguk. "Aku sampai lupa. Ya sudah, aku pergi sebentar ke toko perlengkapan olahraga di lantai atas. Tunggu di sini ya, Sayang," katanya seraya mencium kening Rima dan berlari pergi ke tempat yang dituju.
Perhatian Rima kembali terarah pada sosok Renjun yang masih asyik bermain di dalam area bermain. Di sana ada beberapa petugas yang mengawasi anak-anak titipan, sehingga orang tua tidak perlu khawatir jika anak mereka akan bertengkar di dalam.
"Renjun ...." panggil Rima sembari melambaikan tangannya.
Anak itu hanya menoleh sekilas ke arah Rima, mengulaskan senyum, kemudian kembali fokus pada mainan yang ada di sana.
Rima duduk di tempat yang telah disediakan bagi orang tua yang ingin menunggui anaknya bermain. Rata-rata yang duduk di sana adalah para pengasuh bayi majikannya.
Drrt .... Drrt ....
Ponsel Rima bergetar. Muncul saru panggilan dari Sandi di layar ponsel itu. Rima terlihat malas untuk mengangkatnya. Selama pergi dengan Arjun dan Renjun, entah sudah berapa kali Sandi terus meneleponnya namun ia abaikan saja.
"Kamu dimana, Sayang?" tanya Sandi di seberang telepon. Lelaki itu saat ini sangat terbiasa memanggil Rima dengan panggilan yang romantis.
"Aku kan sudah ijin mau jalan-jalan dengan Renjun, Pa," jawab Rima.
"Kenapa sangat lama? Ini jatahmu menemuiku, kan? Aku sudah lama menunggu," kata Sandi.
"Kalau urusan sudah selesai, aku akan langsung ke apartemen seperti biasa."
__ADS_1
"Tidak, tidak ...," tolak Sandi. Temui aku sekarang juga!" katanya dengan nada memaksa.
Rima mematung sesaat. Ia kembali melihat ke arah Renjun yang sedang bermain dengan riangnya. "Pa, Arjun sedang tidak ada di sini," katanya.
"Itu malah bagus."
"Masalahnya, Renjun sedang main di area anak. Yunita tidak ikut!" Rima menjadi kesal dengen pemaksaan yang Sandi berikan.
"Tidak apa-apa, titipkan dia pada petugas di sana. Pergi dan temui aku!" paksa Sandi.
"Pa!" Rima berbicara sedikit dengan nada tinggi sampai membuat orang di sekitarnya kaget.
"Atau aku yang harus menemuimu di sana?" tanya Sandi.
Rima tak bisa berkutik.
"Aku sudah ada di area basement parkir sebelah belakang mall. Cepat temui aku sebelum kesabaranku habis!"
Setelah mengucapkan hal itu, Sandi langsung mematikan sambungan teleponnya."
***
__ADS_1