
"Oh, lihat anggota baru keluarga kita. Dia tampan sekali," puji Tante Sania.
"Ini persis dengan Arjun waktu bayi," sambung Tante Gina.
Rima tersenyum senang melihat kedatangan kedua tante Arjun yang datang menjenguknya di rumah sakit. Mertuanya masih berada di luar negeri sehingga tidak bisa menemaninya di sana. Sedangkan Arjun entah sedang ada dimana sampai belum datang melihat bayi yang Rima lahirkan.
"Arjun di mana? Ayah baru kok malah nggak ada waktu begini," gerutu Tante Sania. Ia merasa kesal dengan kelakuan keponakannya. Padahal, kelahiran bayi Rima merupakan sesuatu yang sudah lama dinantikan.
"Tidak tahu, Tante. Kemarin bilang tidak bisa pulang karena banyak kerjaan. Nomornya juga tidak aktif," jawab Rima.
"Sudahlah, kamu jangan terlalu memikirkan. Mungkin memang Arjun sedang banyak pekerjaan. Nanti kalau dia sudah tidak sibuk juga pasti datang." Tante Gina berusaha menentramkan hati Rima.
"Iya, Tante."
Rima kembali termenung. Usai melahirkan, beberapa dokter juga membahas tentang tidak adanya sang suami di samping dirinya. Ia jadi mulai berpikir macam-macam kalau mungkin saja suaminya tengah bersama wanita lain.
Tante Sania terlalu gemas melihat anak yang baru Rima lahirkan. Ia mengambil bayi itu dari dalam box kaca dan menimang-nimangnya.
"Kenapa kamu, San? Mau punya bayi lagi?" ledek Tante Gina.
__ADS_1
"Kalau punya bayi lagi kayaknya aku sudah tidak sanggup. Aku suka saja lihat anak kecil," ujar Sania.
"Anakmu yang bungsu sudah 10 tahun, cocok kalau nambah," ucap Tante Gina.
"Aduh, aku tidak siap kerepotan lagi deh. Dua anak kayaknya cukup."
"Tidak apa-apa, Tante Sania masih kelihatan muda, kok," sambung Rima.
"Kamu bisa saja, Rim! Kalau aku kangen anak kecil sekarang tinggal main ke rumahmu. Akan aku bantu mengasuh bayi menggemaskan ini." Sania mencium pipi si bayi dengan perlahan agar jangan sampai membangunkannya.
"Kamu pakai susu formula atau ASI?" tanya Tante Gina.
"Kalau saran dari dokter sih disuruh ASI. Tante. Kemarin juga sudah IMD walaupun belum keluar. Tapi tidak tahu kalau nanti kembali bekerja ya mungkin disambung susu formula," jawab Rima.
Rima hanya tersenyum. Ibu mertuanya sendiri menginginkan hal yang sama darinya. Mungkin karena Arjun anak tunggal sehingga anak yang ia lahirkan begitu berharga bagi mereka.
"Oh, iya. Kamu sudah menyiapkan nama untuk bayi ini apa belum?" tanya Tante Sania.
"Sudah, Tante. Kata Mas Arjun mau diberi nama Renjun," kata Rima.
__ADS_1
"Renjun?" tanya Tante Sania dan Tante Gina berbarengan. Nama semacam itu bagi mereka seperti terdengar aneh.
"Iya, Tante. Itu gabungan namaku dan Mas Arjun. Rima dan Arjun jadi Renjun," kata Rima.
"Oh, begitu." kedua nenek Renjun itu hanya mangguk-mangguk. Meskipun namanya aneh, mereka tetap senang mendapatkan cucu pertama dari keluarga besar mereka.
Klek!
"Permisi, bayinya akan kembali saya pindahkan ke ruangan bayi, ya!"
Dua orang perawat masuk ke kamar Rima. Mereka ditugaskan untuk membawa kembali Renjun setelah selesai melakukan IMD dengan sang ibu.
Tante Sania mengembalikan Renjun ke dalam box bayinya. "Apa benar ini tidak apa-apa kalau ASI-nya belum keluar? Apa tidak sebaiknya diberi susu formula dulu?" tanyanya.
"Tidak apa-apa, Ibu. Biasanya dalam waktu 3-4 hari juga keluar. Apalagi kalau rajin menyusui bayinya bisa lebih cepat keluar." salah seorang perawat mencoba memberi penjelasan.
"Tapi kan kasihan sejak lahir belum minum ASI. Nanti kalau dehidrasi bagaimana?" tanya Tante Sania lagi.
"Bayi yang baru lahir punya cadangan makanan yang bisa bertahan sampai 72 jam, Ibu. Jadi tidak ada alasan takut bayi kelaparan. Lagipula, saat menyusu pada ibu, meskipun ASI belum keluar sepenuhnya, sebenarnya bayi sudah mendapatkan kolostrum dari pay udara ibunya."
__ADS_1
"Oh, begitu." Tante Sania mangguk-mangguk mendapatkan penjelasan dari perawat.
"Kalau begitu kami permisi dulu," kata sang perawat.