
Arjun memasuki kantor polisi dengan nafas terengah-engah, matanya mencari-cari sosok Rima di antara kerumunan polisi dan petugas. Usai mendapat berota mengejutkan dari Jonathan, ia bergegas menuju ke kantor polisi untuk memastikan semuanya.
Ia melihat Yunita sedang duduk di salah satu ruang tunggu dengan tatapan lesu. Arjun mendekati Yunita dengan khawatir. "Yunita! Apa yang terjadi?" tanyanya.
Yunita menatap Arjun dengan sedih. "Arjun, kondisinya sangat kacau. Rima ditahan di dalam. Dia ...."
Arjun memotong Yunita. "Ceritakan semuanya padaku. Apa yang terjadi? Apa benar dia membunuh Papa?"
Yunita mengambil napas dalam-dalam. Matanya. berkaca-kaca. "Iya, Jun. Huhuhu ...." ia tak bisa menahan tangisannya.
Arjun terkejut "Apa? Rima melakukan itu?"
Jawaban Yunita membuatnya syok. Meskipun sudah tahu ada hubungan antara ayah tirinya dengan sang istri, rasanya ia masih belum percaya jika Rima mampu melakukan hal semacam itu.
__ADS_1
"Pak Sandi mau memperk osaku, Jun! Rima ... Rima hanya berusaha menolongku," kata Yunita sembari terus menangis.
"Apa?" Arjun lebih terkejut lagi mendengar kelakuan Sandi terhadap Yunita. "Kamu juga ada di sana?"
Yunit mangangguk. " Aku mendatangi Pak Sandi karena kesal dia sudah menghamili Rima lagi, Jun. Aku memintanya untuk berhenti mengganggu Rima. Tapi, dia marah, mencekikku sampai seperti ini. Dia juga mau membunuhku. Rima memukul Pak Sandi sampai dia meninggal. Kamu jangan memarahinya dulu, ya, Jun. Aku tahu dia salah padamu. Rima dalam keadaan yang sangat terpuruk. Dia seperti orang yang telah kehilangan akal sehatnya," bujuknya.
Arjun langsung terduduk lemas mendengar ucapan Yunita. Perasaannya campur aduk antara marah, kesal, dan kasihan. Bagaimanapun juga Rima masih istrinya.
Renjun merupakan anak dari Sandi. Kini ia harus kembali mendengar jika Rima hamil oleh ayah tirinya sendiri. Rasanya ia juga ingin menghilang dari dunia.
Arjun terdiam sembari bersandar pada kursi. Tatapannya kosong seakan tak ingin melakukan apapun.
"Jangan seperti ini, Jun ...." Yunita jadi khawatir dengan keadaan Arjun.
__ADS_1
"Aku harus bagaimana, Yun? Sakit sekali mendengar semuanya. Apa aku harus pura-pura menerima?" kata Arjun. Ia sangat tertekan sampai tak bisa menyembunyikan air matanya.
Mengetahui bahwa Renjun bukan putranya saja sudah membuat ia terpukul. Ia sampai merasa jijik untuk bertatap muka dengan Rima. Di saat seperti itu, ia justru mendengar berita yang lebih menyakitkan. Ayah tirinya dibunuh oleh istrinya sendiri. Sementara, sang istri tengah hamil anak kedua dari ayah tirinya itu.
"Rima memang bersalah, Jun. Tapi, selama enam tahun pernikahan kalian, pasti ada hal baik yang ia lakukan. Please, dia butuh kamu. Temui dia dan bicara sebentar dengannya," bujuk Yunita.
"Aku tidak tahu, Yun! Dadaku sesak setiap mengingat Rima. Aku tidak tahu bisa menemuinya atau tidak."
"Kamu jauh-jauh mau datang ke sini bukankah artinya kamu masih peduli pada Rima?" Yunita berusaha meyakinkan.
Arjun kembali terdiam memikirkan ucapan Yunita. Apakah benar ia masih peduli pada wanita yang telah melukainya.
"Ayolah, Jun ...." bujuk Yunita.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menemuinya sebentar. Jangan mengharapkan aku melakukan hal lebih dari sekedar ini," tegas Arjun.
Yunita tersenyum. Ia menganggukkan kepalanya.