
"Em, maaf, mba. Saya titip anak saya yang di sana, ya! Ayahnya pasti juga sebentar lagi datang," ucap Rima kepada salah srorang petugas yang ada di area bermain anak.
"Oh, baik, Ibu. Anda bisa meninggalkan kartu nama dan pesan di sini serta nama suami yang nanti akan datang," kata sang petugas.
Rima bergegas mengeluarkan kartu namanya lalu memberikan kepada petugas tersebut. Tak lupa ia menuliskan pesan untuk Arjun jika nanti ia telat datang.
Posisinya sangat sulit karena harus menemui ayah mertuanya. Memang biasanya setiap akhir pekan ia akan menghabiskan waktu di apartemen Sandi seperti kesepakatan mereka. Ia tak ingin Sandi berbuat sesuka hati dan mengacaukan segalanya yang telah berusaha ia tutupi.
"Ini, Mba. Saya pergi dulu!" kata Rima dengan sangat terburu-buru.
Sementara, di tempat lain, Arjun baru saja sampai di toko peralatan olah raga. Ia tengah memilih peralatan golf yang sekiranya cocok dengan selera ibunya.
"Selamat Siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pegawai toko tersebut.
"Oh, iya. Saya ingin membeli perlengkapan golf yang bagus," kata Arjun.
"Apakah ini untuk Bapak?" tanya pelayan toko tersebut.
"Tidak, ini untuk ibu saya," Jawab Arjun.
"Baik, Pak. Mari ikuti saya."
__ADS_1
Pelayan tersebut membawa Arjun masuk ke bagian dalam toko. Di sana ada lebih banyak pilihan perlengkapan golf dibandingkan dengan yang terpajang di etalase.
"Ada banyak pilihan di sini dengan merk yang berbeda-beda. Bapak bisa memilih yang sekiranya sesuai dengan karakter pemakainya," kata sang pelayan toko memberi penjelasan.
Arjun melihat deretan perlengkapan golf tersebut. Ia justru tertarik dengan satu set perlengkapan golf yang berukuran mini. Ia sudah membayangkan jika membawa Renjun ke lapangan golf dan mengajak putranya bermain.
"Anda tertarik dengan ini?" tanya si pelayan toko. Agaknya wanita itu bisa membaca gelagat Arjun yang terlihat tertarik dengan barang dagangannya.
"Ini ... Untuk anak-anak, ya?" tanya Arjun.
"Benar, Pak. Ini memang khusus dirancang untuk anak-anak. Bahannya aman tidak menggunakan besi melainkan plastik sehingga bisa meminimalisir bahaya."
Arjun mangguk-mangguk mendengar penjelasan tersebut. "Kalau begitu, aku ambil yang ini," katanya seraya menunjuk ke arah peralatan golf untuk anak kecil itu.
"Ah, iya, aku hampir lupa. Pilihkan saja yang paling bagus di sini," kata Arjun menyerahkan pilihan kepada pelayan toko tersebut.
"Kalau yang paling bagus di sini yang ini, Pak. Merknya XXX, dijamin nyaman untuk dipakai." pelayan tersebut pintar. Ia merekomendasikan barang yang termahal di tempat itu.
"Baik kalau begitu, aku ambil dua-duanya," kata Arjun dengan enteng.
Pelayan toko tersebut memanggil rekan kerjanya yang lain serta memberitahu bahwa Arjun ingin membeli perlengkapan golf tadi.
__ADS_1
Arjun menyerahkan kartu kreditnya kepada pelayan tersebut. Ia diarahkan menuju meja kasir untuk melakukan pembayaran.
"Tolong pesanannya nanti langsung antar saja ke rumah. Ini alamatnya," pinta Arjun usai melakukan pembayaran.
"Baik, Pak."
"Saya mau pergi dulu. Pastikan kondisi barang dalam keadaan rapi waktu sampai!" kata Arjun.
"Baik, Pak."
Usai menyelesaikan tugasnya membeli barang permintaan ibunya, Arjun lantas bergegas menuju ke tempat Rima dan Renjun menunggunya.
"Maaf, Pak, Apa Anda sedang mencari Ibu Rima?" tanya petugas di sana setelah beberapa saat melihat Arjun kebingungan.
"Kok kamu tahu?" tanya Arjun heran.
"Ibu Rima pamit pergi sebentar. Dia menitipkan pesan ini, Pak. Katanya ada urusan penting."
Sayang, maaf, ya! Aku ada urusan mendadak. Aku usahakan untuk cepat kembali.
Arjun hanya keheranan dengan keanehan Rima yang semakin sering ditunjukkan. Padahal ia baru merasa senang karena istrinya seperti menjadi lebih baik karena bisa diajak pergi bersama ke mall bersama anak mereka.
__ADS_1
***