
Saat Rima keluar dari ruangan Arjun, sekilas ia berpapasan dengan Jonathan, rekan kerja Arjun yang tengah melintas di depan pintu. Mata mereka bertemu sejenak, dan Rima menyapanya dengan senyum ringan sebelum melanjutkan langkahnya.
Jonathan melihat ke arah pintu yang baru saja Rima lewati dan mengamati kepergiannya dengan rasa penasaran. Dia tahu bahwa Rima adalah istri Arjun, tetapi mereka belum pernah bertemu secara formal. Ada keingintahuan dalam dirinya untuk mengenal perempuan yang menjadi pasangan hidup sahabatnya.
Dengan langkah mantap, Jonathan memutuskan untuk memasuki ruangan Arjun. Arjun yang tengah sibuk dengan Renjun, melihat kedatangan Jonathan dengan senyum hangat.
"Jonathan, Masuklah," sambut Arjun ramah. "Aku sedang mengasuh Renjun, tapi kita bisa berbicara sebentar."
Jonathan masuk ke dalam ruangan dengan rasa antusias. Dia melihat Renjun dengan senang hati dan mengangguk pada Arjun sebagai ucapan terima kasih atas sambutan hangatnya.
"Tadi, yang baru saja keluar dari ruangan ini, itu Rima, istrimu, kan?" tanya Jonathan dengan keingintahuan.
Arjun mengangguk, menatap Jonathan dengan kegembiraan. "Ya, itu Rima. Dia pergi sebentar karena ada urusan yang tidak bisa ditunda. Aku mengasuh Renjun saat dia tidak ada di sini."
Jonathan melihat ke arah Renjun yang sedang asyik bermain dengan puzzle, dan senyuman menghiasi wajahnya. "Kamu luar biasa, Arjun. Menjadi suami dan ayah yang bertanggung jawab."
Arjun tersenyum rendah, merasa terharu dengan pujian Jonathan. "Terima kasih, Jonathan. Keluarga adalah segalanya bagiku. Aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk mereka."
__ADS_1
Jonathan mengangguk setuju. "Aku sangat menghargai nilai-nilai keluargamu, Arjun. Semoga kita semua bisa menjadi sosok yang baik untuk orang-orang yang kita cintai."
"Jadi, apa kamu sudah ada calon?" tanya Arjun.
Jonathan terdiam sejenak kemudian tertawa. "Hahaha ... Sepertinya aku masih ingin fokus dengan karir. Berumah tangga bukan prioritas penting dalam hidupku," katanya.
"Biasanya kamu suka dengan tantangan. Kehidupan rumah tangga banyak tantangannya, sebenarnya cocok untukmu," ujar Arjun.
Jonathan hanya tersenyum. "Aku lebih menyukai tantangan bisnis kita sekarang," ucapnya.
"Ah, bicara tentang proyek, aku sangat antusias dengan proyek ini. Aku berharap dapat menciptakan pengalaman luar biasa bagi para tamu. Mulai dari fasilitas yang lengkap, pemandangan yang indah, hingga layanan yang tak tertandingi," ujar Arjun dengan penuh semangat.
Arjun tersenyum puas mendengar pujian Jonathan. Dia merasa beruntung memiliki teman seperti Jonathan yang selalu mendukungnya dalam setiap langkahnya.
Namun, dalam keceriaan mereka, Rima tetap menjadi pikiran tersembunyi dalam benak Jonathan. Ia ingin bertanya lebih lanjut tentang hubungan antara Arjun dan Rima, namun ia memilih untuk menahan diri. Ia tidak ingin mencampuri urusan pribadi sahabatnya, terlebih jika itu dapat mempengaruhi hubungan mereka.
Sementara itu, Arjun yang menikmati percakapan mereka, juga memperhatikan ekspresi Jonathan yang tampak agak terganggu. "Jonathan, apa ada sesuatu yang mengganggumu? Kamu terlihat sedikit terpaku," tanya Arjun dengan kekhawatiran.
__ADS_1
Jonathan menggelengkan kepala, mencoba menyembunyikan kekhawatirannya. "Ah, tidak ada masalah, Arjun. Hanya sedikit kelelahan dari pekerjaan yang menumpuk, itu saja."
Arjun tidak sepenuhnya yakin dengan jawaban Jonathan, tetapi dia memilih untuk menghormati privasi temannya. Dia tidak ingin mendorongnya untuk membuka diri jika Jonathan belum siap.
Mereka melanjutkan percakapan dengan topik-topik lain, menyenangkan dan ringan. Tawa mereka mengisi ruangan, mencerminkan kebersamaan dan persahabatan yang mereka miliki. Namun, di balik senyum dan tawa mereka, Rima tetap menjadi bayangan yang menghantui pikiran Jonathan.
Setelah beberapa saat, Jonathan menyadari bahwa waktunya sudah larut. Dia merasa perlu untuk pulang dan istirahat setelah malam yang panjang.
"Arjun, maaf aku harus pergi sekarang. Besok ada banyak pekerjaan yang menunggu," ujar Jonathan sambil berdiri.
Arjun mengangguk, memahami kebutuhan Jonathan. "Tentu, Jonathan. Terima kasih atas waktu dan dukungannya. Kita akan terus berdiskusi tentang proyek ini."
Sekilas Jonathan melirik ke arah anak Arjun. Dari wajahnya saja menurutnya tidak ada kemiripan dengan Arjun sama sekali.
"Jangan-jangan itu bukan anak kandung Arjun," batin Jonathan sebelum pergi dari sana.
***
__ADS_1