Benih Ayah Mertua

Benih Ayah Mertua
Bab 74


__ADS_3

Rombongan yang membawa Rima dan Yunita tiba di kantor polisi dengan pengawalan ketat. Suasana di kantor polisi terasa tegang dan serius. Rima terlihat hancur, wajahnya pucat dan matanya kosong. Langkahnya terasa berat saat dia dipimpin masuk ke dalam ruang penyidikan.


"Silakan masuk,"


Petugas polisi membuka pintu ruang penyidikan dan mengarahkan Rima untuk duduk di kursi yang disediakan. Ruangan itu tampak dingin dan steril, dengan satu meja di tengahnya yang dipenuhi dengan berbagai dokumen dan peralatan penyelidikan.


Rima duduk dengan tubuh yang lemas dan melihat sekelilingnya dengan tatapan kosong. Ekspresinya menggambarkan seseorang yang telah terjatuh ke dalam jurang keputusasaan dan kebingungan. Dalam keheningan yang tegang, detak jam di dinding terdengar seperti langkah kematian yang lambat.


Penyidik yang bertanggung jawab memulai percakapan dengan Rima. "Nyonya Rima, kami membutuhkan keterangan dari Anda tentang peristiwa yang terjadi di apartemen dan kematian Sandi. Kami mohon kerjasama Anda dalam membantu penyelidikan ini."


Namun, Rima tetap diam. Matanya kosong, dan tak satu kata pun keluar dari mulutnya. Setiap pertanyaan yang diajukan oleh penyidik tidak mendapat respon. Ia tampak seperti orang yang terasing dari dunia, terkunci dalam keheningan yang menyelimuti pikirannya.


Penyidik itu mencoba sekali lagi, kali ini dengan nada lebih lembut, "Nyonya Rima, tolong ceritakan apa yang terjadi. Setiap informasi yang Anda berikan dapat membantu kami memahami situasi dengan lebih baik."


Namun, Rima hanya memandang jauh ke arah yang tidak jelas. Dia terlihat terjebak dalam perasaan depresi yang mendalam, dan kata-kata sepertinya tidak mampu meloloskan diri dari bibirnya yang terkatup rapat.

__ADS_1


"Ah! Kok malah tidak mau bicara!" kesal sang penyidik seraya mengacak-acak rambutnya sendiri.


Detektif yang hadir di ruangan itu bertukar pandangan yang penuh kekhawatiran. Mereka menyadari bahwa Rima bukanlah saksi yang mudah dihadapi. Kondisinya yang tampak hancur dan terpuruk mengisyaratkan beban pikiran dan emosi yang sangat berat.


Detektif Bono, yang telah berpengalaman dalam kasus-kasus sensitif, mendekati meja penyidikan tempat Rima duduk dengan penuh kekhawatiran. Dia melihat kondisi Rima yang hancur dan terpuruk, dan menyadari betapa sulitnya mendapatkan keterangan dari wanita itu dalam keadaan seperti ini. Detektif itu memutuskan untuk mengambil pendekatan yang lebih empati.


"Nyonya Rima, saya mengerti bahwa ini adalah momen yang sangat sulit bagi Anda. Kami tidak ingin membuat Anda merasa lebih tertekan atau terbebani. Saya akan memberi Anda waktu untuk tenang. Ketika Anda merasa siap, kami akan siap mendengarkan cerita Anda. Kami juga memahami bahwa Anda mungkin membutuhkan dukungan dari tim psikologis kami untuk membantu mengatasi beban emosional yang Anda alami saat ini," kata Detektif Bono.


Rima terdiam, matanya masih kosong, tetapi ada kelembutan yang terpancar dari pandangan Detektif Bono. Detektif lainnya, Detektif Rami, menyadari bahwa situasi ini memang memerlukan pendekatan yang lebih sensitif.


Rima masih terdiam, tetapi matanya menunjukkan sedikit kehidupan. Detektif Bono memberikan secarik kertas dengan nomor kontak tim psikologis.


"Ini nomor kontak tim psikologis kami. Jika Anda merasa siap untuk berbicara atau jika Anda membutuhkan seseorang untuk mendengarkan, jangan ragu untuk menghubungi mereka. Mereka ada di sini untuk membantu Anda melalui proses ini," katanta.


"Kami ingin Anda tahu bahwa kami memahami betapa sulitnya situasi ini bagi Anda. Kami berjanji bahwa kami akan melakukan penyelidikan yang adil dan menyeluruh. Jika Anda memiliki informasi yang ingin Anda bagikan, kami akan mendengarkan dengan penuh pengertian," sambung Detektif Rami.

__ADS_1


Rima mengangkat tangan gemetar dan menerima secarik kertas yang diberikan oleh Detektif Boni. Dia memandang kedua detektif itu dengan pandangan campuran dari kebingungan, ketakutan, dan harapan. Kata-kata mereka mulai menembus dinding-dinding emosional yang mengelilinginya.


Rima dengan suara lirih mengatakan, "Terima kasih... Saya... saya mungkin perlu sedikit waktu."


"Kami mengerti sepenuhnya, Nyonya Rima. Jika ada yang bisa kami bantu, jangan ragu untuk menghubungi kami. Kami ingin membantu Anda menemukan kebenaran," kata Detektif Bono.


"Kami akan ada di sini untuk Anda. Jika ada yang ingin Anda sampaikan, jangan sungkan kepada kami," imbuh Detektif Rami.


Penyidik memutuskan untuk memberi Rima waktu untuk tenang dan memulihkan diri sebelum melanjutkan proses penyelidikan lebih lanjut. Mereka menyadari bahwa mendapatkan keterangan dari Rima tidak akan mudah, dan mungkin perlu keterlibatan tim psikologis untuk membantu mengatasi kondisi psikologis yang dia alami.


"Bagaimana ini?" tanya Detektif Rami.


"Kita tinggalkan saja dulu," jawab Detektif Bono. "Kalau kondisi mentalnya sudah lebih baik, baru kita lanjutkan penyidikan," katanya.


Dalam ruang penyidikan yang penuh dengan keheningan dan suasana yang tegang, Rima tetap berdiam diri, sepertinya terperangkap dalam dunianya yang gelap dan penuh keputusasaan.

__ADS_1


__ADS_2