Benih Ayah Mertua

Benih Ayah Mertua
Bab 47


__ADS_3

Rima mengalirkan air membasahi tubuhnya. Ia sapukan sabun untuk membersihkan segala kotoran yang menempel di tubuhnya. Usai mandi, tubuhnya terasa segar.


Ia lantas menuju area wardrobe untuk memilih pakaian yang cocok dikenakan malam ini. Rima memilih sebuah ling erie berwarna hitam yang menurutnya paling bagus. Tak lupa ia menyisir rambut serta memulaskan make up tipis di wajahnya.


Saat memasuki kamar, Arjun telah menunggunya di tepi ranjang. Lelaki itu masih mengenakan handuk kimononya. Dengan tatapan matanya yang jernih, Arjun memandangi sang istri dengan penuh kekaguman.


Rima terlihat sangat menawan. Meskipun telah cukup lama menikah, ia akui bahwa kecantikan Rima tidak sedikitpun memudar. Wanita itu bak dewi yang baru turun dari kahyangan.


"Kamarilah!" pinta Arjun seraya menepuk pahanya.


Dengan langkah malu-malu mengenakan busana yang menerawang itu, Rima berjalan mendekat ke arah Arjun. Ia duduk di atas pangkuan suaminya sembari melingkarkan kedua tangan ke leher Arjun. Keduanya saling bertatapan penuh cinta.


"Kamu cantik sekali, Sayang," puji Arjun.


Rima tersenyum kikuk. Batinnya terasa sangat tersiksa mendengar pujian yang seharusnya membuat ia bahagia.


Sebelum ini, ia sudah lebih dulu direngkuh oleh lelaki lain. Bahkan pujian yang ia dengar dari Arjun lebih dulu ia dengar dari Sandi. Ia benar-benar tengah merasa sebagai wanita murahan yang begitu mudah jatuh ke pelukan lelaki.

__ADS_1


"Sudah lama kita tidak bermesraan seperti ini. Apalagi kamu akhir-akhir ini sangat sibuk. Malam ini aku benar-benar menginginkannya," kata Arjun sembari mengusap bahu dan lengan Rima yang terbuka.


Ucapan Arjun semakin melahirkan perasaan bersalah di hati Rima. Ia sampai lupa memenuhi hasrat suaminya demi memenuhi hasrat lelaki lain.


Rima lantas memeluk Arjun untuk menyembunyikan ekspresi wajahnya yang sendu. "Maafkan aku ya, Mas," kata Rima lirih.


Arjun mengelus punggung Rima. "Sudahlah, tidak apa-apa. Kamu sibuk juga karena pekerjaan. Aku juga kadang sibuk dan tidak ada waktu untukmu."


Pelukan Rima terasa semakin erat. "Kapan-kapan ayo kita liburan berdua, Mas. Aku kangen masa-masa indah kita dulu," pinta Rima.


"Tidak apa-apa. Renjun ada Yunita yang menjaga. Mama juga pasti tidak akan keberatan jika kita titipkan Renjun," kilah Rima.


Wanita itu seperti merindukan masa-masa awal pernikahan. Menurutnya, kehidupan dia bersama Arjun sebelum memiliki anak lebih baik dari saat ini. Tapi, semua sudah terlanjur terjadi. Ia telah melahirkan seorang anak yang bisa membuat semuanya menjadi runyam. Ia tak bisa mengubah apapun yang terjadi.


"Baiklah, nanti akan aku pikirkan. Kita sama-sama cari waktu luang agar bisa liburan berdua," kata Arjun.


Keduanya kembali saling berpandangan. Perlahan bibir mereka saling bersentuhan dan saling memagut satu sama lain. Temaramnya lampu kamar menambah keromantisan yang terjadi di antara mereka.

__ADS_1


"Sayang, kok lehermu merah?" tanya Arjun heran. Ia merasa belum menyentuh istrinya namun bagian leher Rima terlihat merah.


Rima melebarkan mata dan merasa panik. "Masa sih, Mas?" tanyanya balik.


Ia memegangi bagian lehernya. Ia beranjak dari pangkuan Arjun dan mengambil ponselnya. Dengan kamera ponsel, ia lihat area lehernya dan memang ada bekas warna merah di sana.


Napasnya tercekat. Ia yakin noda merah itu akibat perbuatan Sandi. Padahal ia sudah mengatakan kepada lelaki itu agar tidak meninggalkan bekas apapun di tubuhnya.


"Ini kayaknya bekas gatel-gatel yang aku garuk, Mas. Soalnya kerjaanku tadi outdoor yang banyak nyamuknya," kilah Rima beralasan.


Arjun bangkit dari duduknya menghampiri Rima yang masih sibuk dengan ponselnya. Ia menutup ponsel itu dan meletakkannya kembali di atas meja.


"Lain kali, pakai lotion anti nyamuk kalau pergi ke luar, Sayang. Supaya tidak ada serangga yang menggigitmu," ujar Arjun. Lelaki itu sudah tidak sabar menyalurkan hasratnya kepada sang istri.


***


__ADS_1


__ADS_2