
Arjun masuk ke ruang pemeriksaan yang terasa dingin dengan langkah hati-hati. Di sudut ruangan, dia melihat Rima yang tengah termenung dengan tatapan kosong. Rima tampak rapuh, seolah dunia di sekitarnya runtuh. Wanita itu terduduk di sudut ruangan sembari bersandar pada dinding. Sendirian.
Arjun mendekati Rima perlahan dan duduk di dekatnya. Dia merasakan getaran emosi yang kuat, tapi juga ada keinginan kuat untuk memahami keadaan yang sedang melanda Rima.
"Rima," sapa Arjun
"Arjun!" seru Rima ketika melihat keberadaan lelaki itu.
Rima memeluk Arjun dengan erat hingga tangisannya pecah. Ia menangis meraung-raung sembari meminta maaf.
"Mas Arjun, aku sangat menyesal. Aku tahu aku telah menghancurkan segalanya. Maafkan aku. Maafkan aku. Huhuhu ...."
Arjun terdiam. Untuk bicara saja rasanya ia tidak mampu. Ada rasa benci yang besar hingga membuatnya tak mampu untuk memeluk istrinya.
Arjun terus terdiam membiarkan sang istri menangis sembari memeluknya. Lambat laun, tangisan Rima mereda dan perasaannya menjadi tenang. Keduanya sama-sama duduk di sana sambil mengarahkan pandangan ke arah langit-langit.
__ADS_1
"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Arjun.
"Aku sudah membunuh Papa, Mas," kata Rima dengan suara yang rendah.
Keduanya kembali terdiam.
"Terima kasih sudah datang, Mas. Aku tidak menyangka kamu masih mau datang menemuiku," kata Rima.
Sebagai orang yang bersalah, ia sudah pasrah sekalipun akhirnya Arjun tak mau memaafkannya.
Rima tertawa tanpa suara. "Aku sebenarnya sudah lama ingin melakukannya. Sejak mengandung Renjun, aku ingin lelaki itu mati, Mas." ia berbicara tanpa beban.
"Selama ini aku tersiksa dengan kesalahanku sendiri. Tidak ada niatan sama sekali untuk melukaimu, Mas. Aku hanya ingin membuatmu bahagia. Meskipun pada akhirnya memang caraku yang salah."
"Berulang kali aku meminta padamu untuk hidup terpisah dari rumah itu. Tapi kamu selalu menolak. Padahal aku sudah ketakutan setiap hari akibat kesalahan pertama bersama lelaki itu."
__ADS_1
Rima kembali mengingat masa-masa menyakitkannya yang dulu.
"Dia selalu merayuku setelah malam itu, Mas. Dia mengancam akan membongkar hubungan terlarang yang pernah terjadi di antara kami. Aku mati-matian menghindar darinya."
"Tapi, mana mungkin pertahananku tetap ada jika harus bertemu dengan lelaki itu setiap hari."
Rima menghela napas di sela-sela ceritanya. Arjun tetap terdiam sembari mendengarkan Rima bicara.
"Dua tahun selama lelaki itu pergi jauh ke luar negeri, menjadi masa yang paling indah bersamamu dan Renjun. Meskipun kebahagiaan itu hasil kebohonganku, aku tidak akan melupakan masa-masa indah itu, Mas. Dimana kita hanya hidup bertiga tanpa ada orang lain yang ikut campur."
"Semua semakin runyam saat dia pulang. Kamu masih tetap memintaku bertahan di rumah itu. Padahal tanpa kamu tahu, dia selalu memaksaku untuk menyenangkannya. Kalau aku menolak, dia akan membongkar rahasia tentang Renjun."
Arjun merasa sedikit terguncang dengan alasan yang Rima berikan atas keinginan sang istri untuk pindah rumah.
"Aku selalu meminum obat pencegah kehamilan. Aku tidak ingin lagi mengandung benih lelaki bang sat itu. Tapi, dia sangat licik menukar pil KB dengan obat kesuburan. Sekarang aku hamil lagi anaknya, Mas. Bukankah aku wanita yang sangat bodoh dan kotor?"
__ADS_1
Rima mengatakannya dengan mata berkaca-kaca. Ia tertawa kecil menertawakan dirinya sendiri.