
Dengan langkah yang terasa berat dan kegelisahan yang mendalam, Arjun memasuki ruang dokter untuk mencari kepastian atas keraguan yang telah menghantuinya. Dalam ruangan yang terang, dokter yang ramah duduk di belakang meja kerjanya dengan berkas medis di tangannya.
"Dokter," ujar Arjun dengan suara yang gemetar, "saya ingin tahu hasil tes DNA yang saya minta beberapa waktu lalu."
Dokter menatap Arjun dengan serius dan mengangguk. "Tentu, Pak Arjun. Saya sudah mendapatkan hasilnya dalam waktu sesingkat mungkin."
Seharusnya prosedur tes DNA memakan waktu yang lumayan lama. Namun, karena Arjun terus mendesak untuk segera mengeluarkan hasilnya, dokter tersebut cepat-cepat melakukan tes DNA yang diminta.
Arjun menelan ludahnya, hatinya berdegup semakin kencang. Dia merasakan kecemasan yang melekat di setiap serat tubuhnya saat menunggu dokter membuka berkas medis itu.
Dokter mengambil napas dalam-dalam dan mulai membacakan hasil tes DNA itu. "Menurut hasil tes DNA yang dilakukan, secara genetik, Renjun bukanlah anak biologis Anda, Pak Arjun. Tidak ada kecocokan sama sekali antara Anda dengan anak Anda."
__ADS_1
Arjun terdiam, terpaku di tempatnya. Segala sesuatu terasa seolah berputar dalam kebingungan. Ia merasa dunianya hancur dalam sekejap. Setiap cerita yang pernah ia tulis tentang keluarga yang bahagia dan kenyamanan yang ia rasakan selama ini, kini tergantikan oleh kekacauan dan kehilangan.
"Jangan bercanda, Dok!" kata Arjun sembari terkekeh. Rasanya ia hampir gila mengetahui anak yang sangat disayanginya bukanlah darah dagingnya. Hatinya begitu terasa sakit.
"Coba tenangkan diri Anda dulu, Pak," kata Dokter.
"Dokter... Apa... Apa yang harus saya lakukan?" suara Arjun terdengar rapuh. Ia tak bisa menahan bendungan air mata yang mengalir dari sudut matanya. Tangannya terlihat gemetaran. Ingin ia berteriak meluapkan kekecewaannya.
Dokter mengambil posisi yang lebih dekat dengan Arjun, menunjukkan empati dan kebijaksanaan dalam tatapannya. "Pertama-tama, saya ingin menyampaikan bahwa ini bukanlah hal yang mudah untuk ditangani. Namun, yang terpenting adalah kesejahteraan dan kebahagiaan Renjun. Anak itu masih terlalu kecil untuk memahami permasalahan ini."
Dalam keyakinannya, ia tidak bisa menerima bahwa Rima akan berselingkuh darinya. Hubungan mereka sangat baik selama pernikahan. Bahkan, setelah kelahiran Renjun keduanya menjadi semakin mesra.
__ADS_1
Dokter mengangkat tangannya, mencoba menenangkan Arjun. "Pada saat ini, yang terbaik adalah berbicara dengan istri Anda secara pribadi dan mendapatkan penjelasan langsung darinya. Mungkin ada alasan yang belum diketahui atau mungkin ada kesalahpahaman yang terjadi."
Arjun menghela napas, mencoba mengatur pikirannya yang kacau. Dia menyadari pentingnya berbicara dengan Rima, meskipun pikirannya masih dipenuhi dengan pertanyaan yang tidak terjawab.
"Terima kasih, Dokter," ucap Arjun dengan suara yang penuh keprihatinan. Ia mengusap air matanya. "Saya akan mencoba menyelesaikan ini dengan bijak."
Dokter memberikan Arjun sedikit senyuman. "Saya akan mendukung Anda dalam proses ini, Pak Arjun. Anda tidak sendirian dalam menghadapi situasi ini. Renjun adalah yang terpenting, dan kita harus menjaga kepentingan dan kesejahteraannya di atas segalanya. Apalagi anak itu baru mendapatkan musibah dan masih dalam masa penyembuhan."
Arjun hanya mengangguk.
"Ini surat keterangan hasil tes DNA Anda. Silakan Anda bawa dan gunakan sesuai keperluannya," kata dokter seraya menyerahkan lembaran kertas itu kepada Arjun.
__ADS_1
"Terima kasih, Dokter. Saya permisi dulu," ucap Arjun seraya menerima kertas tersebut.
***