
Setelah momen bercinta yang terlarang, Rima masih terbaring di ranjang dengan tatapan yang penuh kehampaan. Wajahnya terlihat sendu, mencerminkan pertentangan batin yang sedang ia alami. Di sebelahnya, Sandi, ayah mertua Rima, duduk dengan kepulan asap rokok mengisi ruangan. Meskipun terlarang, Sandi merasa lega bisa bersama lagi setelah beberapa waktu terpisah.
Sandi menatap Rima dengan penuh nafsu, "Rima, kenapa tidak menginap di sini saja malam ini? Aku merindukanmu setiap saat," katanya sembari membelai rambut wanita yang terbaring membelakanginya.
Rima menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Tidak, Pa. Itu tidak mungkin. Mas Arjun akan curiga jika aku tidak pulang," jawabnya.
Sandi membalikkan tubuh Rima dan menatapnya dengan penuh keinginan, "Kamu bisa mencari alasan, Rima. Kamu bisa mengatakan bahwa kamu ada urusan atau punya pekerjaan di daerah ini. Aku masih belum puas menghabiskan waktu denganmu."
Padahal sejak siang Sandi tak membiarkan Rima keluar dari kamarnya. Mereka bahkan sampai lupa waktu dan tiba-tiba malam telah datang. Sepanjang hari mereka habiskan untuk bergumul di atas ranjang.
Rima yang sama sekali tak ada keinginan untuk bercinta, terpaksa melayani hasrat lelaki itu yang begitu menggebu-gebu. Rima hanya bisa pasrah membiarkan tubuhnya dicumbu dengan seenaknya oleh Sandi tanpa bisa melarikan diri. Ia tidak ingin mengambil resiko bahwa rumah tangganya dengan Arjun akan berakhir jika ia tidak menurut. Ia juga tidak ingin rahasia tentang Renjun terkuak.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Renjun? Papa sepertinya lupa kalau aku punya seorang anak kecil," kata Rima dengan nada sedih.
Sandi meletakkan sisa rokoknya di atas asbak. Ia merengkuh tubuh Rima yang masih berbalut selimut. "Ah, iya. Kamu benar. Ada Renjun, buah cinta kita," gumamnya.
Ada seulas senyuman yang terukir di bibir Sandi. "Lalu, bagaimana? Apa kamu berniat untuk memberikan Renjun adik? Kamu pasti akan lebih disayang oleh keluarga," rayunya.
Ucapan Sandi terdengar lembut dan menggoda, namun di balik itu semua ia punya rencana terselubung hanya untuk kepentingannya sendiri.
"Pa, aku tidak menyukai hubungan ini. Aku tidak ingin terus berbuat dosa dan melukai orang-orang yang mencintai kita," ujar Rima dengan suara lemah.
Sandi tersenyum sinis, menghembuskan menghembuskan napasnya secara kasar, dan mendekatkan wajahnya ke Rima, "Tapi kamu tetap di sini, bukan? Kamu masih bersamaku, Rima. Kita bisa tetap bersama dan bahagia tanpa harus orang lain tahu yang sebenarnya."
__ADS_1
Rima menahan sesak napasnya, mencoba mencari kata-kata yang tepat, "Pa, aku tahu kita terjebak dalam kesalahan ini, tetapi kita harus berhenti. Kita harus mengakhiri ini sebelum semakin rumit. Ini bukan jalan yang benar."
Sandi mengerutkan alisnya dan melepaskan cengkeramannya pada rokoknya, "Kamu berani menolakku, Rima? Kamu tahu apa yang bisa kulakukan jika kamu mengkhianatiku?"
Rima merasa takut dengan ancaman yang terlontar dari bibir Sandi, tetapi ia juga merasa semakin mantap dengan keputusannya.
"Memang apa ruginya kamu menyenangkan orang yang sudah membantumu, hm? Aku sudah memberikan kebahagiaan yang kamu mau, yaitu Renjun. Lagipula, aku hanya meminta sedikit waktumu di akhir pekan untuk menemuiku. Dan aku janji di rumah aku tidak akan mengganggumu," ujar Sandi.
***
__ADS_1