
Arjun tengah sibuk di ruang kerjanya, menyelesaikan beberapa tugas yang menumpuk. Walaupun terfokus pada pekerjaannya, dia senang melihat Rima dan Renjun hadir di sisinya. Mereka adalah sumber kebahagiaan dan inspirasi dalam hidupnya.
Renjun, putra mereka yang ceria berlari-larian di sekitar meja Arjun dengan senyuman lebar di wajahnya. Rima duduk di sofa dekat Arjun, mengamatinya dengan penuh kasih sayang.
"Renjun, jangan lari terlalu kencang di dalam kantor Papa ya," kata Arjun sambil tersenyum. "Ayo, duduklah di sini dan mainkan puzzle bersama Papa."
Renjun tertawa riang dan duduk di samping Arjun, menatap penuh antusiasme pada puzzle yang ada di meja. Arjun dan Renjun mulai merangkai potongan puzzle dengan penuh semangat, berdiskusi dan tertawa bersama.
Sementara itu, Rima mengamati kehangatan hubungan ayah dan anak tersebut. Wajahnya memancarkan kebanggaan dan kebahagiaan saat melihat keluarganya bersatu. Namun, dia harus segera pergi karena ada urusan yang tidak bisa ditunda.
"Maafkan aku, sayang," ujar Rima sambil bangkit dari sofa setelah melihat jam tangannya. "Ada urusan penting yang harus aku selesaikan. Bisakah kamu menjaga Renjun untukku?"
Arjun mengangguk, mengerti situasi Rima. "Tentu, sayang. Aku akan menjaganya dengan baik. Jangan khawatir."
Renjun melihat ibunya dengan tatapan penuh keingintahuan. "Mama, Mama mau kemana? Renjun ikut," rengeknya.
Hari ini Yunita memang meminta cuti sehingga terpaksa Rima membawa anak itu ke tempat kerja. Arjun juga tidak keberatan dengan kehadiran mereka di sana.
__ADS_1
Rima tersenyum lembut dan mencium kening Renjun. "Mama akan kembali secepat mungkin. Kamu bermain dengan Papa dulu dengan baik, ya?"
Renjun menggeleng. "Tidak mau, mau ikut Mama," rengeknya keras kepala.
"Aduh, Renjun tidak boleh begitu. Renjun kan anak baik. Main sama Papa dulu, nanti Mama cepat pulang lagi," bujuk Rima.
Renjun kembali menggeleng dengan ekspresi wajah memelas.
"Memangnya urusanmu tidak bisa ditunda, Sayang. Apa tidak bisa besok?" tanya Arjun yang kasihan dengan putranya.
"Tidak bisa, Mas. Ini pemberitahuannya mendadak. Aku harus pergi sekarang," kata Rima berkilah.
"Kalau Renjun jadi anak baik, nanti pulang Mama belikan mainan, ya! Mama hanya sebentar, kok," kata Rima yang masih berusaha membujuk.
Renjun memanyunkan bibirnya. Ia menoleh ke arah Arjun seolah ingin tahu bagaimana pendapat ayahnya itu.
"Kita akan tunggu Mama di sini sambil main puzzle, Sayang. Mama sebentar, kok," kata Arjun yang ikut membujuk putranya.
__ADS_1
Akhirnya, anak itu bisa luluh dengan ucapan sang ayah. Rima terlihat lega.
"Kalau begitu aku pergi dulu ya, Mas," pamit Rima. "Renjun baik-baik ya, di sini sama Papa. Jangan nakal," pesannya.
Renjun mengangguk penuh semangat. "Aku mau main puzzle dengan Papa! Mama jangan lama-lama!" katanya.
Rima mengulaskan senyuman seraya mencium pipi Arjun dan Renjun sebelum beranjak pergi. Dia meninggalkan ruang kantor dengan perasaan agak khawatir karena Arjun juga masih sibuk bekerja. Sementara, urusannya tidak bisa ditunda-tunda. Rima harus segera pergi.
Arjun dan Renjun melanjutkan permainan mereka dengan semangat. Mereka tertawa dan berbicara tentang gambar-gambar di puzzle tersebut. Renjun merasa aman dan bahagia berada di samping ayahnya.
Waktu berlalu dengan cepat, dan Arjun menyadari bahwa mereka berdua tengah larut dalam kesenangan bermain. Dia melihat jam di dinding dan menyadari bahwa Rima belum kembali.
"Renjun, apa kamu lapar?" tanya Arjun dengan penuh perhatian.
Renjun menggelengkan kepalanya dengan riang. "Papa, main lagi!" ajaknya.
Arjun tersenyum dan mengusap kepala Renjun lembut.
__ADS_1
***