Benih Ayah Mertua

Benih Ayah Mertua
Bab 59


__ADS_3

Renjun membuka matanya dengan perlahan, mencoba memfokuskan pandangannya pada orang-orang di sekitarnya. Pemandangan yang pertama kali ia lihat adalah wajah lembut ibunya, Rima, yang berada di sisinya.


"Mama..." bisik Renjun dengan suara lemah.


Air mata haru langsung mengalir di pipi Rima. Dia mencium kening Renjun dengan penuh kasih sayang. "Renjun, sayang, Mama di sini. Kamu sudah bangun."


Arjun, yang duduk di sisi tempat tidur Renjun, merasa sesak di dada karena kelegaan yang tak terucapkan. "Renjun!" serunya.


Pasangan suami istri itu menunjukkan betapa mereka sangat khawatir terhadap anak itu.


Renjun tersenyum. "Papa," panggilnya.


Sebagai orang tua, mereka merasa lega akhirnya Renjun kembali pulih.


"Iya, Sayang. Papa juga di sini. Apa kamu ada yang sakit?" tanya Arjun.


Renjun menggeleng. "Mama, minum," pintanya dengan nada yang masih terdengar lemah.


Rima mengambilkan sebotol air mineral dan memberikan sedotan agar Renjun lebih mudah meminumnya. "Minumlah, Sayang," katanya.


Sementara, Arjun mengambil ponselnya. Ia menekan nomor ibunya untuk memberikan kabar menggembirakan itu.


"Halo, Ma," katanya.


"Iya, Jun, ada apa?" tanya Suni dari seberang telepon.


"Renjun sudah sadar, Ma," kata Arjun.


"Benarkah? Cucuku sudah bangu? Oh, Ya Tuhan, syukurlah!" ucap Suni yang terdengar sangat girang.


"Iya, Ma. Syukurlah Renjun sudah siuman."

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, sebentar lagi Mama ke sana. Tidak sabar Mama mau bertemu dengan cucu kesayangan."


"Iya, Ma. Aku tutup dulu teleponnya," kata Arjun seraya mematikan sambungan telepon itu.


Arjun menatap Rima yang tengah memeluk Renjun dengan penuh perhatian. Keduanya tampak tersenyum manis. Ia tampak tertegun sejenak.


Dalam benaknya ada begitu banyak pertanyaan yang belum ditemukan jawabannya. Arjun yakin ada hal yang Rima sembunyikan selama ini darinya. Namun, ia terlalu takut untuk mengetahui kenyataan itu. Ia takut kehilangan mereka. Juga kebahagiaan yang ibunya rasakan setelah memiliki seorang cucu.


"Rima," panggil Arjun.


Rima tersenyum. "Iya, Mas. Ada apa?" tanyanya.


"Aku mau keluar sebentar untuk memberitahu dokter kalau Renjun sudah siuman," jawabnya.


"Oh, iya, Mas," jawab Rima.


Arjun berbalik badan berjalan menuju ke arah pintu keluar. Jalannya terlihat lunglai seperti orang yang tidak bersemangat.


Arjun dengan hati berdebar-debar berjalan melintasi lorong rumah sakit, mencari dokter yang bertanggung jawab atas perawatan Renjun. Setelah beberapa saat, ia menemukan dokter tersebut sedang berbincang dengan beberapa perawat di ruang perawatan.


Arjun mendekati mereka dengan cepat dan terlihat gelisah. "Dokter, maaf saya mengganggu. Saya punya kabar baik tentang Renjun. Dia sudah bangun!"


Dokter, yang awalnya tengah membaca berkas medis, segera mengangkat kepala dan memperhatikan Arjun. Wajahnya menyiratkan campuran antara keterkejutan dan kegembiraan. "Apakah Anda serius?" tanyanya dengan suara bergetar. Dokter mengira anak dua tahun itu akan lebih lama pulih akibat cedera di bagian kepala yang dialami.


Arjun mengangguk dengan senyum lega. "Iya, Dokter. Renjun sudah tersadar. Dia bahkan tadi sempat meminta minum kepada ibunya."


Perawat-perawat di sekitar mereka juga tampak gembira mendengar berita tersebut. Salah satu perawat berkata, "Itu sungguh berita yang luar biasa, Pak Arjun! Kami segera memberitahu tim perawatan lainnya."


"Mari kita lihat kondisi Renjun sekarang," ajak dokter.


Dokter segera bangkit dari kursinya dan mempersilakan Arjun mengikuti mereka ke ruang perawatan Renjun. Mereka berjalan melalui lorong-lorong rumah sakit dengan cepat, menuju tempat di mana Renjun telah dirawat selama beberapa waktu.

__ADS_1


Saat mereka tiba di depan pintu ruangan, Arjun merasa detak jantungnya semakin cepat. Dia mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri sebelum memasuki ruangan tersebut.


Renjun mengangkat kepalanya dan melihat Arjun dengan lemah. Wajahnya masih pucat, tetapi senyum kecil mulai terbentuk di bibirnya. "Papa..." gumamnya dengan suara pelan.


Arjun merasa meleleh mendengar suara panggilan itu lagi. "Putraku," ucapnya seraya kembali menghampiri Renjun yang masih bersama istrinya.


Arjun merasa seakan dunianya terangkat dari pundaknya. Bahkan permasalahannya dengan Rima dan Sandi sejenak terlupakan.


Dia mendekat dan duduk di samping tempat tidur Renjun. "Renjun, sayang, Papa sangat bahagia melihatmu sadar. Kamu sudah melewati masa yang sulit."


Dokter dan perawat-perawat mengamati interaksi penuh kehangatan antara Arjun dan Renjun. Mereka tersenyum, merasa bangga dengan hasil kerja mereka yang telah membantu menyelamatkan nyawa Renjun.


Dokter berbicara dengan penuh harap, " Pak Arjun, Bu Rima, Renjun masih membutuhkan waktu untuk pulih sepenuhnya. Kami akan terus memantau kondisinya dengan cermat. Tetapi, ini adalah langkah awal yang penting menuju pemulihan yang baik. Saat ini, yang terbaik yang bisa kita lakukan adalah memberikan dukungan dan perawatan yang baik kepada Renjun."


Arjun mengangguk, berterima kasih kepada dokter dan tim perawat atas upaya mereka. "Terima kasih, Dokter. Kami sangat berterima kasih atas perawatan yang telah diberikan kepada Renjun. Kami akan melakukan segala yang kami bisa untuk membantu proses pemulihannya."


Dokter tersenyum dan menepuk bahu Arjun dengan lembut. "Saya tahu bahwa Anda akan melakukan yang terbaik untuk Renjun. Jangan ragu untuk meminta bantuan jika Anda membutuhkannya."


Arjun mengucapkan terima kasih sekali lagi dan dokter serta perawat pun meninggalkan ruangan, memberi mereka waktu untuk bersama Renjun.


Arjun meraih tangan Renjun dengan penuh kasih sayang. "Renjun, kamu benar-benar pemberani. Papa dan Mama sangat bangga padamu. Kamu akan segera pulih sepenuhnya, sayang."


Renjun menatap Ayahnya dengan mata yang penuh kepercayaan. "Papa, pulang. Ayo kita main bareng," ajaknya.


Arjun tersenyum dan mengelus lembut rambut Renjun. "Iya, nanti kalau Renjun sudah sembuh, kita akan main bareng."


Rima, yang selama ini berdiri di samping Renjun, tak kuasa menahan air matanya.


Renjun tersenyum lebar melihat kedua orangtuanya bersama. "Mama, Papa, aku sayang kalian."


Mereka berpelukan dengan erat, menciptakan ikatan keluarga yang semakin kuat. Di saat itulah, mereka menyadari bahwa kehadiran satu sama lain adalah anugerah terbesar dalam hidup mereka.

__ADS_1


***


__ADS_2