Benih Ayah Mertua

Benih Ayah Mertua
Bab 66


__ADS_3

Rima tak bisa mengelak. Ia memang sering datang ke apartemen ayah mertuanya. Ia tidak menyangka jika Jonathan akan mengadukan hal itu pada Arjun.


"Iya, Mas. Aku sering datang ke sana. Setiap akhir pekan yang aku habiskan tanpa kamu dan Arjun karena harus menemui dia. Papa mengancam kalau aku tidak patuh, dia akan membongkar semuanya agar pernikahan kita hancur dan keluargamu berantakan. Apa yang aku lakukan memang salah, tapi aku melakukannya untuk menjaga perasaanmu," kata Rima.


Arjun tertawa. Ia rasanya hampir gila. Tanpa berkata apapun, ia pergi meninggalkan Rima sendirian di kamar.


Selepas kepergian Arjun, Rima kembali menangis tersedu-sedu. Tidak ada harapan lagi bahwa rumah tangganya akan utuh. Arjun pasti sangat membencinya dan tidak akan kembali padanya. Kini ia hanya bisa meratapi nasib kehidupannya.


***


Jonathan memasuki sebuah klab malam dengan langkah hati-hati, mencari-cari sosok Arjun yang telah menghubunginya dengan seruan yang membingungkan. Melalui kerumunan orang dan hiruk-pikuk musik yang berdentum-dentum, akhirnya dia melihat Arjun duduk di sudut ruangan, menenggak minuman beralkohol dengan ekspresi kesedihan yang jelas terpancar dari matanya.


Jonathan menghampiri Arjun dengan langkah mantap dan duduk di sebelahnya. Ia memperhatikan dengan cermat bahwa ini bukanlah Arjun yang biasanya ia kenal. Sesuatu yang serius pasti terjadi.


"Bro, ada apa denganmu?" tanya Jonathan, mencoba menembus tembok kesedihan Arjun.


Arjun menoleh dengan tatapan kosong, sepertinya terjaga dari lamunan buruknya. "Jo, aku tidak tahu harus bagaimana. Semuanya hancur." ia tak mampu menyembunyikan kesedihannya. Hatinya terasa begitu sakit sampai mampu menenggak satu sloki vodka dalam satu tegukan. Ia berharap minuman itu mampu menghilangkan kesedihannya.

__ADS_1


Jonathan memperhatikan ekspresi putus asa Arjun dan merasa hatinya bergetar. "Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi, Arjun?" ia tampak khawatir dengan kondisi temannya. Sebagai sahabat sekaligus rekan bisnis, Jonathan merasa iba melihat kondisi Arjun yang memprihatinkan.


Arjun menghela napas dalam-dalam dan memandang kosong ke gelasnya yang berisi minuman berwarna cerah. "Jonathan, ingat perkataanmu beberapa waktu lalu tentang Rima dan ayah tiriku? Aku tak pernah mau percaya, tapi ternyata kau benar."


Arjun tertawa kecil sambil kembali menenggak segelas minuman itu lagi.


Jonathan terkejut mendengar kata-kata itu. "Apa yang kamu maksud, Arjun? Apa yang terjadi dengan Rima?"


Arjun menatap Jonathan dengan mata yang penuh kekecewaan. "Rima, istriku, sering pergi ke apartemen Sandi, ayah tiriku. Aku tidak bisa lagi mengabaikan kebenaran itu. Kami baru saja bertengkar dan Rima mengaku semuanya. Dia bilang sudah menjalin hubungan dengan ayah tiriku dan ...." Mata Arjun kembali berkaca-kaca. Ia seperti tidak kuat untuk melanjutkan ucapannya. "Dia bilang kalau Renjun adalah anak dari hasil perselingkuhan mereka," lanjutnya dengan nada terbata-bata dan napas yang terasa menyesak.


Jonathan merasakan kejutan dan sedih dalam hatinya. Sekalipun Jonathan pernah punya firasat bahwa Renjun bukan anak Arjun, ia tak berani mengungkapkannya. Ia tahu temannya itu akan terpuruk sampai seperti saat ini.


Arjun menggelengkan kepala dengan perasaan campur aduk. "Bukan salahmu, Jo. Aku saja yang terlalu bodoh dan tidak bisa mempercayaimu. Aku tidak bisa lagi bersembunyi dari kenyataan ini."


Jonathan melihat kepedihan yang melekat di wajah Arjun dan merasa tak bisa berbuat banyak untuk menghiburnya. "Arjun, apa yang akan kamu lakukan sekarang?"


Arjun menghela napas panjang dan merasakan kebingungan yang tak terukur. "Menurutmu aku harus bagaimana?"tanyanya.

__ADS_1


Ia kembali meneguk minuman di gelasnya. Jonathan terdiam.


"Hubungan kami telah rusak. Aku tidak tahu bagaimana cara memulihkan semuanya. Aku rasa mungkin aku tidak akan bisa lagi menerimanya," kata Arjun.


Jonathan menaruh tangan di bahu Arjun dengan penuh kehangatan. "Apapun keputusan yang kamu ambil, aku yakin itu yang terbaik untukmu," kata Jonathan.


Arjun menatap Jonathan dengan ekspresi campuran dari harapan dan ketakutan. "Terima kasih, Jo. Aku menghargai dukunganmu."


Jonathan mengangguk dengan penuh empati. "Kalau bisa kamu renungkan lagi masalahmu. Bisa juga berbicara kembali dengan istrimu dan selesaikan semuanya secara baik-baik."


Arjun menggigit bibirnya, berusaha menenangkan diri. "Aku tidak yakin, Jo. Aku takut menghadapinya, Jo. Takut dengan apa yang mungkin aku temukan, dengan kemungkinan yang harus aku hadapi."


Jonathan meletakkan tangannya di atas tangan Arjun dengan lembut. "Takut itu wajar, Arjun. Tetapi kamu juga harus ingat bahwa kebahagiaan dan kebenaran tidak pernah ditemukan dalam ketakutan. Kamu harus memulai proses penyembuhan ini, baik untuk dirimu sendiri maupun untuk Renjun."


Arjun menghela napas dan mencoba mengumpulkan keberanian. "Kamu benar, Jo. Mungkin aku harus berbicara dengan Rima, menghadapi kenyataan ini dan mencari jalan untuk memperbaiki hubungan kami."


Jonathan tersenyum, merasa bangga dengan keteguhan Arjun. "Aku yakin kamu akan menemukan kekuatan dalam dirimu, Jun. Kamu tidak sendirian dalam perjalanan ini. Aku akan selalu ada untukmu."

__ADS_1


Saat itu, Arjun merasakan kehangatan persahabatan yang tak tergantikan. Ia tahu bahwa meski perjalanan ini berat, ia tidak akan sendirian melalui badai ini. Ada pihak yang akan menjadi pendukungnya yang setia.


__ADS_2