Benih Ayah Mertua

Benih Ayah Mertua
Bab 36


__ADS_3

"Ayolah, Yun. Kenapa kamu bahas itu lagi? Please, kalau waktunya tepat, aku juga akan mengatakan pada Mas Arjun. Ini bukan waktu yang tepat," ucap Rima dengan nada memohon.


"Kalau kamu begini terus, kayaknya aku bakal keluar dari rumah ini, Rim. Aku pusing dengan kelakuanmu." Yunita menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tak habis pikir Rima akan terus keras kepala seperti itu.


"Yun, aku pasti akan mengatakannya setelah mentalku siap," kata Rima meyakinkan.


"Sudahlah! Aku mau kembali ke kamarku dulu!"


Yunita melepaskan tangan Rima darinya. Ia lantas bergegas pergi dari sana. Saat melewati ruang tengah, matanya sekilas berpandangan dengan Sandi yang tengah duduk bersama Arjun dan Suni. Ia membuang pandangan dan mencoba mengabaikan apa yang terjadi di rumah itu.


***


Malam minggu Suni mengajak keluarganya menuju ke salah satu hotel ternama di kota itu. Ia sangat bahagia akhirnya bisa kembali ke tanah air dan bertemu dengan cucu kesayangan yang kelak akan menjadi calon penerus keluarganya. Ia sempat khawatir pada awalnya jika pernikahan Arjun, putra tunggalnya tidak akan menghasilkan keturunan. Sindiran dari keluarga besar kerap kali datang padanya. Beruntung Rima akhirnya bisa melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat dan tampan.


Sesampainya di hotel, pelayan mengantarkan mereka ke sebuah ruangan private yang telah dipesan khusus sebelumnya. Tak perlu menunggu, barisan pelayan segera datang menghidangkan aneka menu andalan yang dijamin akan memanjakan lidah penikmatnya.


"Renjun, kamu mau makan apa?" tanya Suni dengan raut wajah bahagianya. Ia bahkan menempatkan Renjun duduk di antara dirinya dan Sandi.


Renjun tampak mengarahkan pandangan ke meja besar di hadapannya. Aneka hidangan yang ada sudah pasti membuat anak itu tergoda untuk memakannya.

__ADS_1


"Aku mau makan yang itu, Oma!" seru Renjun seraya menunjukkan jari ke arah piring yang dimaksud.


Dari sekian banyak menu, Renjun memilih lobster yang tampak menarik baginya.


"Oh. Kamu mau lobster? Boleh, Sayang. Biar oma ambilkan, ya," kata Suni dengan senangnya.


"Em, Mama, jangan!" cegah Rima. Ia kaget saat mendengar putranya ingin makan lobster.


Suni mengerutkan dahi. "Memangnya kenapa? Bagus kan, Renjun bisa memilih makanan kesukaannya sendiri," ucapnya keheranan. Ia lantas mengambil piring berisi lobster besar di atasnya.


Rima memegangi piring tersebut mencegah niat Suni. Mereka terlihat seperti dua orang yang sedang saling berebut makanan.


"Ma, jangan! Renjun punya alergi udang-udangan," sahut Arjun.


Suni semakin mengerutkan dahi. "Masa, sih?" tanyanya heran.


"Benar, Ma. Dia kalau alergi bisa merah-merah kulitnya dan sesak napas. Jadi, dari pada sakit, mending jangan diberi," usul Arjun.


"Sedikit juga tidak boleh?" tawar Suni.

__ADS_1


"Tidak boleh, Ma. Masa mau lihat cucunya sakit?" tanya Arjun.


Akhirnya Suni mengurungkan niatnya. Ia kembali meletakkan piring tersebut di atas meja. Dilihatnya sang cucu yang terlihat muram.


"Kamu makan yang lain saja ya, Jun," rayu Sandi sembari mengusap lembut kepala anak itu.


"Iya, Sayang. Dari pada kamu sakit mending makan yang lain. Ada daging steak atau ayam, kamu mau yang mana?" tanya Suni.


Renjun merengut. "Aku tidak mau. Aku mau udang besar itu saja. Mama tidak pernah membiarkan aku memakan itu," rengeknya.


Suni dan Sandi terlihat bingung dengan kemauan anak itu.


"Pelayan, tolong bawa kembali hidangan yang ini ke dalam. Ganti dengan hidangan lain dari daging sapi, ikan, atau ayam," pinta Rima kepada salah satu pelayan di sana.


"Baik, Nyonya," kata pelayan tersebut.


***


__ADS_1


__ADS_2