
Rima membuka pintu dengan hati yang berat. Wajahnya terlihat lesu, dan kelelahan terpancar jelas dari matanya. Arjun, suaminya, duduk di sofa kamar dengan ekspresi keheranan yang tak tersembunyi.
"Rima, kamu pulang larut malam lagi?" tanya Arjun dengan nada kebingungan.
Rima melemparkan tasnya dengan cuek di atas meja dan menghela nafas. "Iya, Mas. Ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan. Maaf kalau aku pulang terlambat."
Arjun menggelengkan kepala dengan ketidakpuasan. "Ini sudah bukan kali pertama, Rima. Setiap akhir pekan kamu selalu pulang larut. Kita sudah jarang punya waktu bersama, dan apa yang terjadi dengan Renjun? Dia semakin jarang melihat ibunya."
Rima meletakkan dirinya di sebelah Arjun, mencoba menenangkan situasi. "Aku tahu ini sulit, Mas. Tapi ada beberapa proyek penting yang harus aku tangani. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Renjun adalah anak kita yang tercinta, tapi aku juga memiliki tanggung jawab lain."
Arjun merasa hatinya berdebar-debar. Dia ingin mempercayai istrinya, tapi ada ketidakpuasan dalam dirinya. "Rima, aku tidak ingin curiga atau menyudutkanmu. Tapi apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu selalu pulang larut malam? Apakah ada hal lain yang sedang terjadi?"
__ADS_1
Rima menatap Arjun dengan sedih. "Mas, aku bersumpah tidak ada yang salah. Aku mencintaimu dan Renjun, kamu harus percaya padaku. Ini semua demi masa depan kita."
Arjun menggenggam tangan Rima, mencoba mencari kebenaran dalam matanya. "Aku mencintaimu juga, Rima. Tapi aku khawatir. Apa kamu bisa memberikan bukti atau penjelasan lebih lanjut tentang apa yang sebenarnya terjadi?"
Rima terdiam sejenak, mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Arjun, ada hal yang harus kukatakan padamu. Aku memang terlibat dalam beberapa proyek rahasia yang berkaitan dengan bisnis temanku. Aku berusaha menjaga ini agar tidak mengganggu kehidupan keluarga kita. Itu sebabnya aku pulang larut malam."
Arjun merasa dadanya berat. Dia tidak tahu apa yang harus dipercayai lagi. "Rima, mengapa kamu tidak berbicara padaku sebelumnya? Kita adalah pasangan, dan kita harus saling berbagi dan mendukung satu sama lain. Jika kamu memiliki proyek ini, kita harus mencari cara agar kita tetap bisa menghabiskan waktu bersama dan memberikan perhatian pada Renjun."
Arjun mencoba menenangkan diri sejenak sebelum merespons. Dia menyadari bahwa dalam situasi ini, penting bagi mereka berdua untuk saling mendengar dan mencari solusi bersama.
"Dengar, Rima," kata Arjun dengan suara lembut. "Aku ingin kita membangun kepercayaan satu sama lain. Jadi, aku mohon, beri aku kejujuran dan transparansi penuh tentang proyek ini. Aku ingin mendukungmu, tetapi kita perlu berkomunikasi dengan baik."
__ADS_1
Rima mengangguk sambil menghapus air mata di pipinya. "Temanku tidak mau proyeknya bocor, Mas. Aku tidak bisa mengatakannya. Tapi, kalau proyeknya sudah sukses terlaksana, aku pasti akan memberitahumu. Ini tentang etika bisnis, Mas," katanya meyakinya. "Em, aku janji akan lebih meluangkan waktu yang berkualitas untuk kamu dan Renjun," lanjutnya.
Arjun menarik Rima dalam pelukan hangat. "Kita akan melewati ini bersama, Rima. Kita adalah tim, dan kita akan menyelesaikan setiap tantangan bersama-sama. Jangan ragu untuk meminta bantuan jika kamu membutuhkannya."
Rima merasakan kelegaan dalam pelukan Arjun. "Aku sangat beruntung memiliki suami seperti kamu, Mas. Aku berjanji untuk lebih terbuka dan memprioritaskan keluarga kita. Renjun adalah anugerah terbesar dalam hidup kita, dan kita harus memberikan yang terbaik untuknya."
Dalam hati Rima merasa bersalah telah membohongi suaminya. Kepergiannya setiap malam pada akhir pekan bukan untuk kepentingan bisnis, melainkan untuk menemui Sandi seperti kesepakatan yang telah ia setujui agar kehidupan rumah tangganya dengan Arjun tetap utuh. Ia harus rela jatuh ke dalam pelukan lelaki lain demi bertahan di sisi Arjun. Ia sangat sadar jika caranya sangat salah, namun tak ada hal lain yang menurutnya lebih baik dibandingkan dengan keputusannya.
***
__ADS_1