Benih Ayah Mertua

Benih Ayah Mertua
Bab 62


__ADS_3

Arjun berjalan gontai selepas keluar dari ruangan sang dokter. Tatapannya terlihat kosong. Pikirannya melalang kemana-mana. Meskipun dia seorang pria, mendapatkan berita seperti itu ia tetap syok. Bahkan kakinya terasa tak ada daya untuk berdiri.


Arjun mencoba menenangkan dirinya saat memasuki ruang perawatan Renjun yang masih tertidur lelap di ranjang. Yunita, yang duduk di samping Renjun, memperhatikan ekspresi kacau Arjun.


"Jun, kamu kenapa," tanya Yunita dengan penuh kekhawatiran.


Arjun hampir tak pernah terlihat seperti itu. Sebagai anak orang kaya, kehidupan Arjun sepertinya tak pernah ditimpa beban hidup yang berarti. Hidupnya terlihat baik-baik saja setiap waktu.


Arjun menghela napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan emosinya. "Yunita, aku baru saja mendapat hasil tes DNA Renjun," katanya seraya menyerahkan lembaran hasil tes itu kepada Yunita.


Yunita terkejut, matanya membesar. "Oh, Arjun... Aku tidak tahu harus berkata apa. Ini ... Ini ... sungguh mengejutkan." Ia sampai gemetaran membaca keterangan yang ada di dalam surat tersebut.

__ADS_1


Arjun menatap Yunita dengan ekspresi campuran dari kekecewaan, rasa sakit, dan kehilangan. "Apakah kamu sudah tahu tentang ini? Apakah kamu sudah tahu perselingkuhan Rima selama ini?" tanyanya.


Yunita terdiam sejenak, merasa terjepit dalam kebenaran yang menyakitkan. Dia menggelengkan kepalanya perlahan. "Arjun, aku... Aku tidak tahu. Rima tidak mungkin begitu, kan?" kilahnya.


Sebenarnya ia sudah lama tahu semuanya. Ia hanya ingin menjaga perasaan Arjun agar tidak lebih hancur dari ini. Ia sangat merasa bersalah telah bersekongkol dengan Rima menyembunyikan fakta itu.


Arjun merasa kecewa dengan jawaban Yunita. Ia sangat paham jika saat ini Yunita juga tengah menutupi sesuatu darinya. Rasanya seolah-olah dunianya hancur dua kali lipat. "Jadi kamu sudah tahu, Yun? Kamu tahu dan tidak memberitahuku? Bagaimana kamu bisa melakukan hal itu?"


Yunita menangis kecil, menyesali apa yang telah terjadi. "Maafkan aku, Jun. Aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya padamu. Aku takut melukaimu lebih dalam lagi. Aku berusaha menjaga Renjun dan kebahagiaan keluargamu. Maafkan aku."


Arjun merasa marah dan kecewa pada Yunita. Dia berdiri dan melangkah menuju pintu. "Kamu jaga Renjun ya, Yun. Kalau kamu memang tidak mau mengatakan apa-apa, aku akan mencari tahu semuanya sendiri," katanya.

__ADS_1


Yunita menangis, isakannya semakin keras, merasa bersalah atas situasi yang rumit ini. "Arjun, aku benar-benar menyesal. Aku ingin membantu dan mendukungmu."


Arjun terkekeh mendengar ucapan Yunita. "Ingin membantu dan mendukung aku atau Rima, Yun? Tega sekali kamu lakukan ini!" kesalnya.


"Aku sudah mengingatkan Rima untuk jujur padamu, Jun. Dia bilang butuh waktu untuk jujur padamu. Percayalah, dia juga berada di situasi yang sulit!"


"Aku rasa kalian tidak mungkin akan mengatakannya jika aku tidak mengetahuinya sendiri. Kalian sudah bersekongkol untuk membohongiku selama ini!" bentak Arjun.


"Jun, tidak seperti itu ...." Yunita berusaha memelas agar Arjun memaafkannya.


Arjun menoleh sejenak, pandangannya penuh dengan kesedihan. "Maafkan aku jika aku tidak bisa menghargai itu saat ini. Aku butuh waktu untuk merenung dan menghadapi semua ini sendiri."

__ADS_1


Tanpa berkata lagi, Arjun meninggalkan ruangan dengan hati yang hancur dan pikiran yang berkecamuk. Dia perlu menjernihkan pikirannya dan menemukan jawaban atas pertanyaan yang melingkupinya. Kepercayaan dan kehidupan yang pernah ia bayangkan sekarang runtuh.


***


__ADS_2