Benih Ayah Mertua

Benih Ayah Mertua
Bab 60


__ADS_3

Tok tok tok


Terdengar suara pintu diketuk. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka dan Yunita muncul dari sana.


"Maaf, Jun, aku baru bisa datang," ucap Yunita seraya berjalan mendekat ke arah Arjun yang tengah menemani Renjun. Sementara, anak kecil itu terlihat masih tertidur di atas ranjang perawatan dengan infus yang terpasang di tangan.


"Tidak apa-apa. Bagaimana, Yun, apa urusanmu sudah selesai?" tanya Arjun.


Yunita menghela napas. Ia meletakkan tentengan berisi makanan yang dibawanya di atas meja.


"Aku pasrah, Jun. Sepertinya kali ini ayahku akan benar-benar dipenjara," kata Yunita.


Selama beberapa hari sebelumnya, Yunita memang meminta ijin karena ada urusan. Ternyata ayah Yunita tersangkut kasus penjualan narkoba dan harus berhadapan dengan hukum.


"Katanya ayahmu hanya dijebak temannya?" tanya Arjun memastikan.


Yunita berjalan mendekat ke arah ranjang, mengelus lembut tangan anak yang biasa ia asuh kini terbaring di sana dengan balutan perban di kepala.

__ADS_1


"Aku juga tidak bisa memastikan. Bisa saja ayahku berbohong agar aku kasihan seperti biasanya. Mau bagaimana lagi? Polisi mempunyai bukti chat di ponsel ayahku. Juga obat-obatan yang jumlahnya cukup banyak. 100 gram sabu-sabu." Yunita terlihat pasrah saat membahas tentang ayahnya. Keluarga satu-satunya yang masih ia miliki itu ternyata sangat menyusahkan hidupnya. Tak ada henti-hentinya kehidupannya rasanya dibuat menderita.


"Apa perlu aku berikan bantuan?" tanya Arjun.


"Sudah, Jun, biarkan saja. Nanti malah nama kamu jadi ikut tercatut."


"Bagaimanapun juga, dia ayahmu." Arjun sangat paham jika Yunita begitu menyayangi ayahnya. Sejahat apapun ayahnya, Yunita tak pernah meninggalkan lelaki paruh baya itu.


"Siapa tahu dengan begitu ayahku benar-benar sadar. Lagi pula, aku rasa di penjara akan lebih aman. Dia tidak akan bisa lagi membuat masalah dan menyusahkanku," kata Yunita dengan seulas senyuman yang sebenarnya penuh dengan beban.


Arjun menepuk pundak Yunita. "Jangan lupa kamu masih punya aku dan Rima," katanya.


"Aku minta maaf ya, Jun. Aku tidak bisa langsung datang saat Renjun kecelakaan," ucap Yunita.


"Sudahlah, untuk apa dibahas? Yang terpenting Renjun sekarang baik-baik saja. Lagi pula aku dan Rima yang minta untuk mengajak Renjun jalan-jalan bertiga saja."


"Oh, iya. Rima dimana?" tanya Yunita.

__ADS_1


"Dia ada kerjaan. Sejak pagi belum kembali," jawab Arjun.


Yunita melebarkan matanya kaget mendengar ucapan Arjun. "Dia masih kerja?" tanyanya.


Menurutnya, seorang ibu pasti akan lebih mementingkan kondisi anaknya yang masih terbaring sakit dibandingkan dengan pekerjaan. Bahkan Arjun yang terkenal sibuk saja bisa berada di sana menunggui putranya.


"Katanya ada pekerjaan penting yang tidak bisa ditinggalkan. Kamu juga tahu sendiri kalau dia tidak bisa dilarang."


Yunita mengepalkan tangannya. Dalam hati sebenarnya ia memendam kekesalan terhadap sahabatnya yang telah banyak berubah. Tidak mungkin Rima meninggalkan Renjun hanya demi pekerjaan. Ia curiga jika seandainya Rima justru pergi untuk menemui Sandi.


'Apa dia masih belum memutuskan hubungan dengan lelaki biadab itu? Apa Rima sudah gila?' gumamnya dalam hati.


"Yun, kok kamu jadi melamun begini?" tegur Arjun melihat Yunita mematung.


"Ah, tidak, Jun," kilah Yunita. "Aku tadi dari rumah membawa sushi gulung buatanku sendiri. Siapa tahu kamu dan Rima mau mencobanya," kata Yunita mengalihkan perhatian.


"Terima kasih, Yun. Nanti akan aku coba," jawab Arjun. "Aku titip jaga Renjun sebentar, ya! Aku mau menemui dokter dulu," kata Arjun.

__ADS_1


"Oh, iya, Jun. Pergilah! Biar aku di sini yang menemani Renjun."


***


__ADS_2