Benih Ayah Mertua

Benih Ayah Mertua
Bab 56


__ADS_3

Sandi masih memeluk tubuh Rima dalam kondisi tanpa busana. Setelah momen bersenang-senang selesai, ia seakan tak ingin melepaskan wanita itu untuk pergi dari sisinya.


"Pa, aku mau kembali ke dalam. Renjun dan Mas Arjun pasti sedang menungguku," kata Rima.


Sandi mengeratkan pelukannya. "Hm, aku masih belum puas sebenarnya," ucapnya sembari mengelus dada Rima yang terasa padat itu.


"Nanti malam kita masih bisa bertemu. Mas Arjun bisa curiga kalau aku kelamaan pergi," keluh Rima karena Sandi tak juga mau melepaskannya.


Drrtt ... Drrtt ....


Rima mendengar ponselnya bergetar.


"Sebentar, Pa!" Rima melepaskan paksa rengkuhan Sandi darinya. Ia meraih tas miliknya lalu mengambil ponselnya dari sana.


Terlihat nomor ponsel Arjun terpampang di sana. "Halo, Mas, ada apa?" tanyanya.


Ketika ia tengah bertelepon, Sandi kembali meraihnya. Sengaja lelaki itu menggerayangi tubuh Rima ketika menerima telepon dari Arjun. Rima berusaha bersikap tenang agar tidak mengeluarkan suara yang aneh.


"Kamu ada di mana?" tanya Arjun dari seberang.


"Ah, aku ada pertemuan mendadak dengan teman, Mas. Maaf ya, aku buru-buru," kilahnya. "Renjun nangis, ya?" tanya Rima sembari menahan suara erangannya saat Sandi mengecupi area lehernya.


"Renjun di rumah sakit, Sayang," kata Arjun.


"Apa?" seru Rima yang begitu terkejut mendengar ucapan suaminya.

__ADS_1


"Renjun jatuh saat bermain. Sekarang ada di rumah sakit. Cepat kamu datang ke sini!"


"I ... Iya, Mas! Rumah sakit mana?" tanya Rima panik. Ia sudah tak bisa berpikir apapun.


Mendengar Rima membahas rumah sakit turut membuat Sandi bertanya-tanya. Ia menghentikan tingkah nakalnya yang sedari tadi memainkan kedua bukit kembar milik Rima.


"Rumah sakit XXX."


"Baik, Mas. Aku akan segera ke sana! Jangan sampai terjadi apa-apa dengan Renjun!"


Rima tak bisa menahan air matanya mendengar anaknya mengalami kecelakaan. Ia lantas mematikan telepon dan menangis sesenggukkan.


Ia merasa malu kepada dirinya sendiri. Demi melakukan hubungan bejat bersama ayah mertuanya, ia sampai meninggalkan Renjun sendiri sampai terjadi hal yang tidak diinginkan.


Rima masih menangis, ia belum bisa berbicara. Sandi memeluk wanita muda itu untuk menenangkannya.


Beberapa saat kemudian, tangisan Rima mulai mereda dan terlihat lebih tenang.


"Katakan, apa yang Arjun bicarakan?" tanya Sandi penasaran.


"Pa, Renjun di rumah sakit, dia katanya jatuh," kata Rima dengan nada terbata-bata.


"Apa? Kok bisa?" Sandi tidak menyangka hal itu bisa terjadi.


"Aku kan sudah bilang tadi, Renjun sendirian, Mas Arjun juga tadi pergi! Kenapa Papa terus memaksa aku ke sini!" kesal Rima. Ia mulai menangis lagi.

__ADS_1


"Sudahlah, tidak apa-apa. Pasti Renjun hanya lecet sedikit. Jangan terlalu khawatir," bujuk Sandi.


"Bagaimana aku tidak khawatir? Dia putraku!" Rima berkata dengan nada marah. "Seharusnya Papa juga memikirkan tentang Renjun. Bagaimanapun juga, itu anak Papa juga!" bentaknya.


"Iya, Sayang, iya," kata Sandi dengan lembut. Ia kembali memeluk wanita itu dan mencium keningnya.


Berdekatan dengan wanita cantik dalam kondisi semacam itu kembali menumbuhkan hasrat Sandi. Ia bahkan tidak peduli dengan nasib yang menimpa Renjun, cucu yang sebenarnya adalah anak biologisnya.


"Pa, jangan lakukan lagi!" kesal Rima merasakan tangan Sandi yang kembali aktif menyentuhnya.


"Satu kali lagi, ya! Sebentar saja," bujuk Sandi lagi.


"Anakku di rumah sakit, Pa," rengek Rima.


"Iya, aku tahu. Nanti aku antar kamu ke sana. Dari pada Papa tidak bisa tenang di hadapan orang-orang. Satu kali lagi, kamu mau, kan? Ini tidak akan lama," rayu Sandi.


Rima mengalah saja. Berdebat dengan Sandi akan membuatnya semakin kehilangan waktu.


Melihat Rima yang pasrah, Sandi mengulaskan senyumannya. "Berbalik, Sayang, ini tidak akan lama," pintanya.


Rima menurut, membalikkan badannya bertumpu pada kursi dan membiarkan Sandi merengkuhnya dari belakang. Lelaki itu kembali memasuki dirinya dan menjelajahi setiap lekukan tubuhnya dengan intens.


Ia hanya bisa menitihkan air mata dengan perlakuan yang Sandi berikan terhadapnya. Sementara, pikirannya melalang jauh mengkhawatirkan kondisi Renjun, putra kesayangannya.


***

__ADS_1


__ADS_2