Benih Ayah Mertua

Benih Ayah Mertua
Bab 83


__ADS_3

Jonathan duduk di meja kerjanya, memeriksa beberapa dokumen ketika Arjun masuk ke ruangannya. Wajah Arjun terlihat gelisah dan penuh kekhawatiran.


"Oh, kamu datang, Jun. Ada apa?" tanya Jonathan seraya bangkit dari tempatnya dan mengarahkan Arjun agar duduk di sofa ruangannya.


Arjun duduk di depan Jonathan. "Jo, aku bingung dengan masalahku. Ibuku menolak menerima Renjun lagi sebagai cucu setelah peristiwa yang melibatkan Rima. Apalagi sekarang, setelah ayah tiriku meninggal di tangan Rima."


Jonathan menaruh pena di atas meja dan fokus mendengarkan Arjun dengan serius.


"Aku memahami kekhawatiranmu, Jun. Situasi yang kamu alami sangat rumit dan membingungkan. Apakah kamu ingin meminta pendapatku tentang masalah ini?" tanya Jonathan.


Sebagai orang yang peduli kepada Arjun, Jonathan tidak bisa membiarkan temannya itu menanggung masalah itu sendiri. Apalagi ia termasuk yang pertama memperingatkan bahwa sepertinya ada yang tidak beres dengan Rima dan Sandi.


Arjun mengangguk dengan ekspresi yang penuh harap. "Ya, Jo. Aku butuh pendapatmu. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Ibuku sangat keras kepala dan sepertinya tidak ada cara untuk mengubah pikirannya."


Sebagai seorang lelaki, Arjun jelas kecewa dengan perbuatan Rima. Mengetahui bahwa Renjun bukan putranya juga membuat ia sedih. Namun, entah mengapa ia tidak bisa membiarkan anak itu menderita.


Jonathan merenung sejenak, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan pemikirannya.


"Ibumu sedang melalui masa-masa sulit, Jun. Kehilangan suami dalam keadaan yang tragis pasti mempengaruhi pikirannya," ujar Jonathan.


Arjun frustrasi. "Aku tahu, Jo. Tapi, Renjun bagaimanapun juga mewarisi darah ayah tiriku." Ia seakan tak mampu melanjutkannya. Dadanya.terasa sesak untuk menerima kenyataan bahwa anak yang sangat ia nanti-nantikan ternyata anak ayah tirinya.


"Bagaimana aku bisa membujuk ibuku untuk menerima Renjun lagi?" sambung Arjun.

__ADS_1


"Mungkin akan membutuhkan waktu bagi ibumu untuk memahami dan menerima kembali Renjun. Tetapi, yang utama, aku pikir kamu harus fokus pada membangun kembali hubunganmu dengan ibumu sendiri," tutur Jonathan.


Arjun mengangguk, mendengarkan dengan seksama.


"Cobalah untuk memulai percakapan dengan ibumu dengan sikap yang terbuka dan penuh pengertian. Beri tahu dia bagaimana kau merasa dan berusaha untuk mendengarkan pendapatnya tanpa membawa kemarahan atau kekesalan," ucap Jonathan.


Arjun menghela nafas panjang, merenungkan saran Jonathan. "Aku akan mencobanya, Jo. Aku ingin memperbaiki hubungan dengan ibuku, meskipun aku tahu itu tidak akan mudah. Aku juga ingin ibuku melihat Renjun sebagai cucunya lagi."


Jonathan memberikan senyuman penuh semangat kepada Arjun.


"Lalu, bagaimana dengan istrimu?" tanya Jonathan.


Arjun terdiam seakan malas untuk membahasnya.


"Dia masih berada di penjara, Jo," kata Arjun dengan nada lemas.


"Apa?" Jonathan merasa sedikit kaget. "Bukannya Rima tidak sepenuhnya bersalah? Kalau niatnya untuk membela diri, seharusnya dia tidak perlu dihukum," sambungnya. "Masa kamu tidak ada ide menyewa pengacara yang bagus gitu."


"Dia menolak segala bantuan hukum, Jo," jawab Arjun.


"Apa kamu sudah memutuskan untuk bercerai dengannya?" tanya Jonathan dengan raut wajah serius. Ia yakin hubungan keduanya tidak baik-baik saja.


Arjun terdiam sesaat. "Dia sama sekali tidak mau bertemu denganku. Juga Renjun. Dia tidak mau dibantu. Dia ingin menjalani hukuman dan tidak ingin dibebaskan."

__ADS_1


Jonathan mengangguk, mencoba memahami situasi yang rumit dan cukup di luar nalar. "Itu mungkin keputusan yang berat bagi Rima." Sedikit banyak ia bisa memahami jika Rima pasti sangat merasa bersalah sampai tidak mau dibebaskan.


"Bagaimana perasaanmu tentang hal ini, Jun? Apakah kamu berpikir untuk menceraikan Rima?" tanya Jonathan lagi.


Arjun menatap ke lantai, merenungkan pertanyaan itu dengan serius. "Aku masih memikirkannya, Jo. Situasi ini sangat sulit dan rumit. Rima telah melakukan kejahatan yang serius, dan sikapnya yang menolak bantuan membuat semuanya menjadi lebih rumit. Aku merasa terjebak dan ragu."


Jonathan mengangkat alisnya, menunjukkan rasa ingin tahu. "Apa yang membuatmu ragu?"


"Rima adalah istriku, dan aku mencintainya. Tapi tindakannya telah menghancurkan hidup kita dan juga nyawa orang lain. Aku merasa seperti aku harus bertanggung jawab dan mengambil keputusan yang terbaik untuk masa depanku dan Renjun," ucap Arjun.


Jonathan mengangguk, memberikan dukungan secara tak langsung. "Itu adalah pertimbangan yang sangat sulit, Jun. Hanya kamu yang bisa menentukan apa yang terbaik bagi dirimu dan anakmu. Tapi ingatlah, keputusan seperti ini membutuhkan ketenangan pikiran dan hati yang jernih."


Arjun menghela nafas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan kekuatan dan kejernihan dalam pikirannya. "Aku tahu ini keputusan besar, Jo. Aku perlu waktu untuk berpikir dan mempertimbangkan semuanya. Tapi satu hal yang pasti, aku ingin mencari jalan terbaik untuk anakku dan memastikan dia tumbuh dalam lingkungan yang aman dan stabil."


Jonathan mengangguk dengan penuh pengertian. "Ambillah waktu yang kamu butuhkan, Jun. Aku di sini untuk mendukungmu dalam setiap keputusan yang kau ambil. Ingatlah, keluarga adalah prioritas, dan kebahagiaan serta keselamatan keluargamu harus menjadi pertimbangan utama."


Arjun mengucapkan terima kasih pada Jonathan dengan ekspresi campuran dari keraguan dan keputusasaan. Mungkin tidak ada salahnya jika ia belajar memaafkan dan mengikhlaskan.


***



Jangan lupa mampir . 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2